Ini sepenggal kisah tentang menjaga amanah dan tanggung jawab sebagai abdi Negara. 

 

Pagi itu udara Wamena terasa sangat dingin, mungkin karena sudah beberapa hari ini Wamena tidak diguyur hujan. Kata orang, jika lama tak hujan, suhu udara Wamena menjadi lebih dingin dari biasanya. Karena tidak kuat dengan udara yang dingin, pagi itu kubatalkan rencana lari pagi keliling kota. Saya memilih untuk datang ke kantor lebih awal saja.

 

Sesampainya di kantor, ternyata teman-teman kantor sudah banyak di sana. Mungkin apa yang kupikirkan sama dengan yang mereka pikirkan. Ya, bisa kutebak, pasti mereka semua datang lebih awal karena mau antre mandi. Maklum, sebagian dari kami tidak memiliki kompor untuk memasak air untuk mandi. Sementara pemanas air sudah disediakan di kantor untuk mandi para pegawai. Maklum udara Wamena yang dingin, membuat malas mandi air dingin. Alhasil hampir setiap pagi kami harus berebut untuk antre mandi menggunakan pemanas air di kantor.

Wamena merupakan surga yang belum tersentuh di pedalaman Pegunungan Tengah Provinsi Papua. Sebagian orang bilang, Wamena itu ya sesungguhnya Papua. Kota ini berada di Kabupaten Jayawijaya dengan ketinggian lebih dari 1.800 meter di atas permukaan laut. Bolehlah kami ini berbangga diri, karena bisa jadi KPPN Wamena adalah KPPN tertinggi di Indonesia. Untuk menuju ke Wamena, kami harus menempuh perjalanan panjang. Kami harus transit di Jayapura dan melanjutkan perjalanan kembali dengan menggunakan pesawat kecil menuju Wamena.

Sekitar 18 jam waktu yang perlu ditempuh untuk menuju Wamena jika berangkat dari Jawa, tempat di mana keluarga saya tinggal. Untuk itu, bolehlah kami berbangga lagi, karena bisa jadi KPPN Wamena adalah kantor vertikal Ditjen Perbendaharaan yang paling jauh dan memerlukan waktu lama menuju ke sana. Kalau kami sedang dipanggil kekantor pusat di Jakarta bersama dengan teman-teman dari KPPN lain se-Indonesia maka kamilah yang memiliki SPPD paling besar di antara yang lain. Untuk satu kali perjalanan pulang, biaya yang diperlukan mencapai Rp6 juta. Artinya diperlukan kurang lebih Rp12 juta untuk pulang pergi. Ongkos yang sangat mahal bagi kami. Karena itu biasanya kami harus menabung kurang lebih tiga bulan dulu baru bisa pulang mengunjungi keluarga di Jawa.

Senin pagi itu seusai sarapan pagi kami berkumpul di ruang pelayanan kantor untuk mengadakan kegiatan rutin kami berupa briefing pagi. Pada kesempatan itu Kepala KPPN Wamena mengingatkan kepada kami semua untuk tetap semangat dan ikhlas dalam menjalankan tugas yang telah diamanahkan. Kekompakan harus tetap dijaga. Hidup jauh dengan keluarga maka sejatinya keluarga terdekat bagi kami di perantauan adalah teman kantor seperjuangan.

Selepas briefing pagi kami pun kembali ke meja masing-masing untuk memulai aktivitas masing-masing. Saya kembali ke meja layanan untuk menyelesaikan pekerjaan. Ketika kami sedang menunggu petugas satker datang, tiba tiba terdengar bunyi “PRANGG!” bersamaan dengan pintu utama kantor hancur terkena lemparan batu. Saya terhentak kaget. Dengan cepat, saya dan salah satu rekan kerja yang duduk bersebelahan bergegas menuju pintu utama melihat sebenarnya apa yang terjadi di luar kantor. Dan betapa terkejutnya kami, ternyata di luar kantor sudah ada ribuan massa yang membawa batu, parang dan balok besar. Beberapa di antaranya melempari kantor kami. Saya segera menyeret teman saya untuk segera lari ke belakang sambil berteriak kencang berharap teman-teman kantor yang lain menyadari apa yang terjadi saat itu.

Dengan tergesa-gesa kami semua bahu membahu mengangkat meja dan kursi untuk menutup pintu masuk kantor yang telah hancur itu. Tak henti sampai di situ, ternyata massa yang jumlahnya mungkin ribuan itu makin brutal dan tak henti-hentinya melempari kantor kami dengan batu. Semua kaca di kantor kami pecah. Khawatir massa akan makin berani dan masuk ke dalam kantor maka kami menutup semua lubang kaca yang telah pecah itu dengan benda-benda yang sekiranya sulit untuk didobrak. Dalam pikiran kami, kantor dan seluruh isinya adalah aset negara, maka dengan sepenuh hati harus kami selamatkan.

Tak berselang lama, terdengar bunyi raungan sirene mobil polisi dan tembakan. Kami semua menjadi sangat khawatir. Sebetulnya apa yang sedang terjadi di luar sana? Penasaran kami semakin menjadi, kenapa kantor kami yang menjadi sasaran kemarahan massa. Kami mulai melihat kepulan asap tebal seperti ada kebakaran hebat dikejauhan. Suasana hati semakin tak menentu saat itu, ke mana kami semua bisa menyelamatkan diri, sementara akses keluar kantor hanya dapat melalui jalan depan kantor yang terlihat telah dipenuhi massa. Pilihan kami saat itu hanya dua: keluar kantor dengan kemungkinan terbunuh karena berhadapan langsung dengan massa brutal yang membawa senjata tajam, atau kami tetap bertahan di dalam kantor dengan kemungkinan bisa jadi kami semua mati terpanggang andaikata kantor kami benar-benar dibakar massa.

Atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa, kami keluarga besar KPPN Wamena masih diberikan keselamatan. Massa yang anarkis tadi tidak membakar kantor kami. Beberapa jam kemudian situasi mulai kondusif. Selepas sholat Zuhurkami semua mengungsi ke Kodim 1702 Jayawijaya dengan membawa barang-barang berharga milik kantor. Sementara keperluan kami sendiri tak sempat kami pikirkan untuk dibawa. Malam itu kami dan sebagian besar korban kerusuhan bertahan di dalam Kodim. Jumlah pengungsi makin malam makin bertambah banyak, Keesokan harinya sebagian dari kami segera mencari tiket pesawat Hercules untuk meninggalkan Wamena menuju Jayapura. Dikarenakan jumlah pengungsi korban kerusuhan jauh lebih banyak dari kapasitas pesawat Hercules maka tidak semua pegawai kantor kami dapat diungsikan ke Jayapura. Secara bertahap kami diungsikan menuju Jayapura. Pada hari Kamis kami keluarga besar KPPN Wamena baru dapat berkumpul bersama di Jayapura.

Keesokan harinya kami melaporkan kondisi yang terjadi di Kota Wamena kepada Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Papua untuk diambil langkah-langkah strategis selanjutnya. Dengan semangat dan itikad tulus kami menjaga amanah dan tanggung jawab sebagai pengawal keuangan negara maka mulai hari Senin berikutnya kami sudah dapat beroperasi secara normal memberikan layanan terbaik kepada satuan kerja mitra layanan KPPN Wamena.

Sungguh, sepenggal kisah yang sangat sulit saya lupakan. Inilah bukti cinta kami pada negeri. Ikhlas dan tulus hati menjaga amanah dan tanggung jawab demi mengawal pembangunan negara tercinta, Indonesia.

Penulis: Irwan Tri Wahyudi, KPPN Wamena

Aku, Wamena, dan Kisahku

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

Search