BERITA

Government Finance Statistics sebagai Pengambilan Kebijakan atau Keputusan

Jakarta, djpb.kemenkeu.go.id - Pelaporan keuangan pemerintah menjadi tools penting dalam pengambilan keputusan ekonomi. Pemerintah memiliki tanggung jawab pelaporan keuangan tidak hanya berhenti pada diraihnya opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas LKPP, tetapi juga menganalisisnya sebagai dasar penyusunan kebijakan.

“Ilmu akuntansi berkembang sesuai dinamika masyarakat dan tuntutan jaman. Kita tidak bisa hanya past perform, kita harus sudah sampai ke mengintepretasikan, menganalisis, dan bisa mengambil best decision,” terang Wakil Menteri Keuangan, Mardiasmo, dalam Keynote Speech pada Seminar Statistik Keuangan Pemerintah di Mezzanine, Jakarta pada Rabu (11/9).

Sebagai bentuk reformasi manajemen keuangan negara, Kementerian Keuangan dalam hal ini Ditjen Perbendaharaan telah menerapkan Statistik Keuangan Pemerintah sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 1 Tahun 2004, yaitu agar pelaporan keuangan pemerintah dapat menghasilkan statistik keuangan yang mengacu kepada manual Statistik Keuangan Pemerintah (Government Finance Statistics/GFS) sehingga dapat memenuhi kebutuhan analisis kebijakan dan kondisi fiskal, pengelolaan dan analisis perbandingan antarnegara.

“GFS ini bukan sekedar dipandang sebagai kumpulan angka saja. Tetapi perlu diperhatikan prosesnya seperti apa. Proses yang matang akan mencerminkan kualitas dari angka yang dihasilkan dari GFS,” tambah Mardiasmo.

Pada kesempatan tersebut, Dirjen Perbendaharaan, Andin Hadiyanto, menyebutkan bahwa salah satu tantangan GFS ialah perubahan mindset dalam penggunaan informasi keuangan dari sebatas penyusunan laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban menuju penggunaan informasi keuangan setiap waktu dalam pengambilan kebijakan atau keputusan. “Kita sudah sangat maju dengan GFS, bahkan negara maju belum memiliki GFS yang full seperti ini. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan GFS sebagai sumber informasi yang bermanfaat baik bagi pemerintah pusat maupun daerah.”

Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Statistik, Bank Indonesia, Yati Kurniati dan Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik, Badan Pusat Statistik, Sri Soelistyowati yang turut menjadi narasumber pada seminar tersebut juga mengungkapkan pentingnya data yang dihasilkan GFS. “Ada input yang kita ambil dari GFS, untuk statistik di Monetary and Financial Statistic maupun Balance of Payment Statistic. Jadi inputnya saling berkait untuk menjadi makroekonomi data yang berkualitas,” jelas Yati Kurniati.

Seminar Statistik Keuangan Pemerintah merupakan rangkaian kegiatan Rakernas Akuntansi dan Pelaporan Keuangan tahun 2019. Melalui seminar tersebut diharapkan terbangun sinergi antar unit penyusun statistik keuangan sehingga dapat menyajikan statistik keuangan seluruh sektor

perekonomian dalam rangka meningkatkan kualitas pelaksanaan transparansi fiskal untuk optimalisasi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat yang lebih baik. (DR, TAP, DK, LRN, SW, AW)