BERITA

Kinerja APBN 2018, Bekal Optimisme Memasuki TA 2019

Jakarta, djpb.kemenkeu.go.id,- Di tengah kondisi gejolak ekonomi dunia seperti normalisasi kebijakan pemerintah di Amerika Serikat, perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, dan perlambatan permintaan dalam perdagangan global, realisasi APBN 2018 ternyata justru menunjukkan sejumlah catatan baik, dan bahkan dalam sejumlah aspek meraih capaian terbaik dalam beberapa tahun terakhir.

Hal tersebut mengemuka dalam pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada Konferensi Pers Realisasi APBN 2018 di Aula Djuanda Kementerian Keuangan Rabu (02/01) kemarin. Menkeu yang didampingi oleh para pejabat eselon I Kemenkeu, di antaranya Dirjen Perbendaharaan Marwanto Harjowiryono, kepada pers dan media menguraikan tiga hal pokok, yaitu: kondisi perekonomian makro dalam negeri masih tetap terjaga dan justru menunjukkan kecenderungan penguatan di bawah tekanan global, realisasi APBN sampai dengan akhir tahun 2018 yang sehat dan kredibel, serta optimisme menghadapi tahun 2019.

 Dari uraian Menkeu, terlihat bahwa defisit APBN terealisasi Rp259,9 triliun atau 1,76% dari PDB, angka ini jauh lebih kecil dari UU APBN yang menargetkan defisit sebesar 325,9 triliun. Adapun keseimbangan primer hampir mendekati angka balance, jauh lebih baik dari realiasi tahun lalu. Untuk aspek pelaksanaan APBN, Menkeu menyampaikan sejumlah catatan.
"Pelaksanaan APBN tahun 2018 sangat baik dan optimal. Realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.942,3 triliun (102,5% dari APBN tahun 2018). Sisi belanja negara juga sama baiknya, untuk pertama kalinya belanja negara mencapai Rp2.202,2 triliun (99,2% dari APBN 2018). Pertumbuhan belanja juga lebih baik dari tahun lalu, termasuk dari segi penggunaan anggarannya," sebut Sri Mulyani.
 
Tidak adanya APBN Perubahan Tahun 2018 juga disoroti oleh Menkeu. "Tahun 2018 untuk pertama kalinya dalam 15 tahun UU APBN tidak dilakukan perubahan," terang Sri Mulyani. Menkeu menyatakan bahwa tidak adanya perubahan pada APBN 2018 menunjukkan perbaikan dari sisi Kementerian Negara/Lembaga (K/L) dalam penyerapan, atau dengan kata lain fokus pada yang sudah dianggarkan sejak awal tahun.
 
 
 Menkeu juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Kementerian Keuangan atas kerja kerasnya menjaga perekonomian di tengah gejolak perekonomian global.
 
"Tahun 2018 kinerja kita sangat positif dari sisi pelaksanaan APBN. Ini menjaga perekonomian kita sehingga tingkat kemiskinan menurun, infrastruktur terbangun, dan kegiatan perekonomian tetap terjaga, stabilitas harga menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan belanja pemerintah. Pembiayaan jauh lebih kecil dan mengalami kontraksi. Kita menutup tahun 2018 dengan rasa syukur, tentu dengan segala kerja keras teman-teman sekalian di Kemenkeu. Saya berterima kasih atas prestasi dan dedikasi semuanya. Tahun 2018 kita sudah tutup, alhamdulillah dengan perekonomian yang tetap terjaga positif dan stabil, karena kita menggunakan instrumen APBN secara aktif untuk ikut menjaga ekonomi. Kemiskinan menurun ke 9,82%, pengangguran menurun ke 5,34%, dan gini ratio juga mengalami penurunan menjadi 0,389. Ini terjadi di tahun di mana gejolak global sangat luar biasa," jelas Sri Mulyani.
 
Untuk tahun 2019, Sri Mulyani menyatakan optimismenya untuk menjaga perekonomian dengan APBN 2019 sebagai instrumen. "Kita masuk ke tahun 2019 dengan optimisme yang cukup baik karena berbekal dengan hasil tahun 2018 yang menunjukkan ekonomi kita yang resilien dan positif. Namun kita tetap akan meningkatkan kewaspadaan akan berbagai perkembangan yang terjadi," tutup Sri Mulyani. [LRN]
 
Oleh: Media Center Ditjen Perbendaharaan