Berjamaah, Hijrah, Menjadi Tangguh

Jakarta, djpb.kemenkeu.go.id,- Bukan kebetulan, momentum peringatan tahun baru hijriah 1443 H dan kemerdekaan Republik Indonesia ke-76 jatuh pada periode bulan hijriah yang sama di tahun ini. Jika direnungkan, rupanya ada hikmah serta benang merah yang sama dapat dipetik dari kedua momentum tersebut.

Dirjen Perbendaharaan, Hadiyanto, menyampaikan bahwa salah satu nilai hijrah yang dapat menjadi pelajaran bersama dapat dilihat dari perspektif sosial. “Peristiwa hijrah menyatukan kaum Muhajirin di Mekah dan kaum Ansor di Madinah, sikap gotong royong bahkan persaudaraan antar dua kaum tersebut merupakan pelajaran hijrah yang harus kita jadikan sebagai motivasi untuk semakin peduli kepada sesama, saling bahu membahu kepada saudara kita yang terdampak Covid-19, bukan hanya dampak kesehatan tetapi juga dampak ekonomi dan sosial,” ungkapnya pada acara Tabligh Akbar Muharram 1443 H, Selasa (10/8).

Bila ditarik benang merah, momentum hijrah dan kemerdekaan mengandung pelajaran yang sama. “Berbeda dengan peristiwa dalam Islam lainnya seperti Maulid Nabi atau Isra Miraj, peristiwa hijrah ini bukan hanya dijalankan oleh Nabi seorang diri tetapi semua sahabat berhijrah, baik tua atau muda, laki-laki atau perempuan. Artinya, hijrah dilakukan secara kolektif. Seperti halnya peristiwa kemerdekaan bangsa kita yang terjadi sebab bangsa ini kuat berjamaah kolektif,” ungkap Ustadz Atabik Luthfi pada kesempatan yang sama.

Pada hakikatnya, hijrahnya nabi dan para sahabat terdahulu adalah untuk membangun masyarakat yang tangguh, utuh, bergotong-royong, dan selalu melakukan apapun dengan semangat kebersamaan yang sangat paripurna. Hijrah bukan merupakan inisiatif dari Rasulullah maupun para sahabat sendiri, melainkan perintah dari Allah. Oleh karenanya, benar-benar akan diuji bagaimana ketangguhan maupun keandalannya setelah berhijrah. Maka mereka yang berhijrah adalah mereka yang tangguh, baik dimensi jasmaniah maupun rohaniah, sebagaimana dalam lagu Indonesia Raya yaitu Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya.

Secara personal, manusia yang tangguh akan menghadirkan ketangguhan-ketangguhan secara kolektif pula. Seorang suami yang tangguh akan menghadirkan keluarga yang tangguh, sebab ketangguhan akan menular kepada yang lain. Bangsa ini menjadi bangsa tangguh berawal dari ketangguhan personal, yakni para pahlawan.

Hadiyanto juga menambahkan, hijrah merupakan transformasi yang luar biasa dan di dalamnya memerlukan kekuatan niat yang besar. “Terkait dengan lurusnya niat dalam hijrah ini menjadi landasan bahwa sesungguhnya setiap amalan tergantung pada apa yang diniatkan. Termasuk juga dalam setiap tindakan kita dalam bekerja, niat menjadi sangat penting dan agar selalu kita ingatkan bersama bahwa bekerja itu adalah bagian dari ibadah.”

Oleh karenanya, perayaan tahun baru hijriah 1443 H dan Kemerdekaan Indonesia ke-76 yang masih dalam suasana pandemi harus kita niatkan menjadi awal yang baik dan mulia, sehingga diharapkan akan kita dapatkan pandemi yang segera berakhir dari bangsa ini. (dr/aaw)

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1
Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

Search