Hobi dalam Work-Life Balance
Pada dasarnya, seorang individu bisa dipastikan selalu memiliki hobi, baik itu Ia sadari maupun tidak. Hobi (hobi/ho·bi/ n) seperti disadur dari KBBI ialah "kegemaran, kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama". Tentu saja tidak setiap saat kita melakukan pekerjaan utama kita, bagaimanapun bentuknya, sepanjang hidup kita secara nonstop. Yang membedakan adalah apakah individu tersebut sempat atau tidak sempat dalam usahanya untuk menyalurkan hobi. Lalu, bagaimana peran hobi terhadap jargon yang akhir-akhir ini digaungkan oleh banyak korporasi, mulai dari sektor swasta hingga pemerintahan: Work-Life Balance?
Menurut Emma Parkhurst, seorang Professional Practice Extension Assistant Professor di Utah State University di Amerika Serikat, kesehatan mental dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, mulai dari peristiwa yang mengubah hidup hingga tugas rutin sehari-hari. Dan meskipun ada banyak strategi yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan kesehatan mental kita, salah satu faktor yang sering diabaikan adalah menghabiskan waktu untuk melakukan aktivitas yang kita nikmati, yang biasa disebut juga sebagai hobi. Riset menunjukkan bahwa jika kita mendedikasikan sebagian waktu kita untuk hobi yang kita gemari, kesehatan mental kita akan terjaga dan bahkan berkembang. Hal tersebut sejalan dengan tujuan dari jargon Work-Life Balance itu sendiri, yang berharap kita dapat menyeimbangkan antara Kehidupan Pekerjaan dengan Kehidupan Pribadi dalam rangka memaksimalkan potensi diri kita.
Namun, adakalanya kita tidak bisa memastikan, apa, sih, sebenarnya hobi kita? Hal apa sebenarnya yang kita ingin lakukan di saat sedang tidak menjalani Kehidupan Pekerjaan kita? Ya, sebuah hobi bisa berupa aktivitas apapun yang dilakukan secara teratur selama waktu luang demi kesenangan pribadi. Tidak penting apakah kita melakukan sesuatu yang kreatif, atletis, akademis, atau sesuatu yang lebih kita sendiri pahami, yang benar-benar penting adalah bahwa itu adalah sesuatu yang kita anggap berarti dan menyenangkan. Hobi dapat berkisar dari menghabiskan waktu sendiri yang tenang, berkunjung atau makan bersama orang lain, berinteraksi dengan alam, bermain olahraga, mengumpulkan barang koleksi, hingga berlibur.
Kementerian Keuangan, DJPb pada khususnya, memberikan banyak sekali sarana untuk menyalurkan hobi pegawainya. Seperti di KPPN Blitar tempat penulis bekerja. Hobi olahraga? KPPN Blitar mengadakan olahraga rutin setiap minggunya, voli, bulutangkis, bersepeda, dan sebagainya, tinggal pilih yang paling cocok! Hobi memasak? KPPN Blitar menyediakan dapur beserta berbagai perabotannya untuk dimanfaatkan. Atau bahkan, hobi bersantai? KPPN Blitar mempunyai banyak titik nongkrong di area kantor untuk melepas ketegangan. Hal-hal tersebut adalah contoh kecil. Jika belum merasa hobi kita difasilitasi, berarti kita sendirilah yang perlu memfasilitasinya, dengan cara apapun selama hal tersebut tidak dilarang hukum, tentunya.
Work-Life Balance sendiri bukan perkara mudah. Kenyataannya, memiliki hobi dan mendalaminya tidak serta merta membuat Kehidupan Pekerjaan versus Kehidupan Pribadi menjadi seimbang secara instan. Banyak aspek yang mempengaruhi. Bahkan walaupun waktu untuk hobi sudah sama banyaknya dengan waktu kita bekerja, bisa jadi belum dapat menyeimbangkan kedua "Kehidupan" tadi. Apakah itu dapat menjadi alasan untuk sama sekali tidak memperhatikan hal-hal yang kita senangi sebagai hobi? Penulis bisa yakinkan, Work-Life Balance akan jauh lebih sulit dicapai jika kita tidak mendedikasikan sedikit saja waktu untuk bergumul dengan hobi yang kita gemari.
Selain aspek kesehatan mental ataupun upaya menyeimbangkan Kehidupan Pekerjaan dengan Kehidupan Pribadi, memiliki hobi juga dapat menjadi sarana pengembangan diri. Banyak orang menemukan bahwa melalui hobi, mereka dapat mengembangkan keterampilan baru atau bahkan menemukan potensi yang selama ini tidak mereka sadari ada dalam diri mereka. Hobi seperti memasak, fotografi, atau belajar bahasa asing memerlukan pengembangan keterampilan tertentu. Seiring waktu, seseorang yang tekun menjalani hobi ini akan meningkatkan keahlian mereka dan mungkin bahkan dapat mengubahnya menjadi karir atau bisnis. Hobi juga dapat meningkatkan disiplin dan kesabaran, karena beberapa hobi membutuhkan dedikasi serta latihan yang konsisten. Misalnya, belajar memainkan alat musik atau merajut, kedua hobi itu membutuhkan tingkat kesabaran dan disiplin yang tinggi untuk mencapai hasil yang diinginkan. Keterampilan ini juga dapat diterapkan dalam aspek lain di kehidupan sehari-hari secara luas.
Jadi, jangan menunggu waktu yang tepat untuk menekuni hobi—karena waktu yang tepat tidak akan datang sendiri. Luangkan waktu untuk hobi Anda, dan rasakan manfaatnya!
Penulis: Hanif Naufaldi (PTPN Mahir KPPN Blitar)

