Kajian Fiskal Regional secara lengkap dapat diunduh pada tautan berikut.
Executive Summary
PDRB Provinsi Jambi mengalami penurunan sebesar -1,72% (y-on-y) dan -1,41 (q-to-q). Dominasi pada sektor Produksi masih disumbang oleh sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan dengan kontribusi sebesar 30,98%. Sedangkan dari sisi Pengeluaran, didominasi dari sektor Konsumsi Rumah Tangga dengan kontribusi sebesar 47,14%. Peran Pengeluaran Konsumsi Pemerintah masih sangat rendah dengan dampak yang sangat kecil terhadap perekonomian dengan kontribusi hanya sebesar 9,15% dengan laju pertumbuhan -18,43% (y-on-y) dan 76,76% (q-to-q).
Inflasi gabungan untuk Provinsi Jambi pada April, Mei dan Juni (y-on-y) berturut-turut adalah 1,42%, 1,09% dan 0,47% dengan rata-rata sebesar 0,99%. Tren penurunan ini masih terpengaruh dengan rendahnya daya beli masyarakat sebagai dampak pandemi COVID-19 dan pembatasan aktifitas selama pandemi. Selain itu, perubahan waktu hari raya Idul Fitri dari bulan Juni ke bulan Mei juga mempengaruhi nilai inflasi bulanan.
Sebagai indikator kesejahteraan, pada KFR kali ini kami menggunakan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Gini Ratio sebagai salah satu indikator kesejahteraan. NTP digunakan karena sektor pertanian menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap perekonomian. NTP di Provinsi Jambi cukup fluktuatif selama triwulan dengan NTP per Bulan sebesar 102,16%, 98,55% dan 101,15%. Namun, perubahan ini menunjukkan tren yang positif dan kembali akan menanjak setelah bulan Mei sehingga sektor Pertanian ini diharapkan semakin menunjukkan pertumbuhannya pada periode-periode berikutnya. Sedangkan Gini Ratio tercatat sebesar 0,32 turun 0,004 poin dari sebelumnya.
Pendapatan dari APBN telah terealisasi sebesar Rp2.346,93 Miliar atau 37,05% dari pagu. Sedangkan realisasi belanja telah mencapai Rp10.269,87 Miliar atau 52,67% dari pagu. Belanja pemerintah pusat telah terealisasi sebesar 2.458,48 Miliar (39,44%) dan Belanja Transfer sebesar 7.811,39 Miliar (58,88%).
Pendapatan dari APBD telah terealisasi sebesar Rp7.842,01 Miliar atau 41,21% dengan tingkat PAD turun sebesar 40,46% dari tahun 2019. Sedangkan realisasi belanja telah mencapai Rp5.799,21 Miliar atau 28,17% dari pagu. Belanja Tidak Langsung telah terealisasi sebesar Rp3.967,92 Miliar (34,61%). Sedangkan Belanja Langsung terealisasi sebesar Rp1.831,29 Miliar (20,08%).
Pendapatan Konsolidasian tercatat sebesar Rp3.387,77 Miliar, naik tipis sebesar 4,16% dari tahun sebelumnya. Peningkatan terbesar terjadi pada Pendapatan Bukan Pajak Konsolidasian yang naik sebesar 6,5%. Sedangkan Belanja Konsolidasian tercatat sebesar Rp9.219,71 Miliar atau naik tipis sebesar 7,58% dengan peningkatan terbesar pada Belanja Transfer yang naik sebesar 108,84%.


