
UMKM Minyak Kayu Putih Wini: Potensi Lokal dalam Penguatan Ekonomi dari Bawah
Pemerintah Indonesia melalui agenda pembangunan asta cita menekankan pentingnya penguatan membangun perekonomian dari bawah guna membangun fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sejalan dengan itu, di ujung utara Pulau Timor, tepatnya di Desa Wini, Kecamatan Insana Utara, aroma khas daun kayu putih kerap tercium dari tungku-tungku penyulingan milik warga. Dari wilayah perbatasan yang tenang ini, masyarakat perlahan menumbuhkan harapan baru melalui usaha minyak kayu putih atsiri yang secara bertahap menggerakkan perekonomian lokal. Kondisi ini mencerminkan bahwa penguatan ekonomi berbasis potensi lokal dapat menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dari tingkat dasar.
Salah satu sosok yang berperan besar dalam menjaga dan mengembangkan usaha ini adalah Bapak Ludovikus, pelaku UMKM yang meneruskan usaha keluarga sejak tahun 1972. Usaha penyulingan minyak kayu putih yang dirintis orang tuanya kini menjadi sumber penghidupan tidak hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi beberapa warga sekitar yang turut bekerja bersamanya.
Minyak kayu putih yang dihasilkan berasal dari ladang milik sendiri, mencerminkan semangat kemandirian dan keberlanjutan yang dipegang teguh oleh Bapak Ludovikus. Awalnya, proses penyulingan dilakukan secara sederhana menggunakan drum bekas. Namun, berkat perhatian dari Universitas Timor, beliau memperoleh alat penyulingan baru yang lebih baik dan efisien.
Kehadiran alat baru tersebut menjadi titik balik penting bagi usahanya. Kapasitas bahan baku yang semula hanya mampu menampung 110 kilogram daun kayu putih, kini meningkat menjadi 300 kilogram. Peningkatan kapasitas ini berdampak langsung pada hasil produksi, dari sebelumnya hanya sekitar 500 mililiter, kini dapat mencapai 2 hingga 2,5 liter minyak kayu putih setiap kali penyulingan. Kondisi ini menunjukkan bagaimana dukungan pemerintah melalui pengelolaan dan pelaksanaan APBN dapat berperan positif dalam meningkatkan produktivitas UMKM berbasis potensi lokal.
Proses penyulingan membutuhkan waktu sekitar delapan jam, dimulai dari pengambilan bahan baku hingga menghasilkan minyak kayu putih yang siap dikemas. Aktivitas produksi dilakukan dua kali dalam seminggu, menyesuaikan dengan ketersediaan tenaga kerja di lapangan.
Meski menunjukkan perkembangan positif, usaha ini masih menghadapi tantangan, terutama dalam pemasaran produk. Akses pasar yang terbatas membuat produk minyak kayu putih Wini belum dikenal luas, sehingga diperlukan strategi promosi dan kerja sama untuk menjangkau pasar yang lebih besar.
Minyak kayu putih atsiri produksi Wini memiliki beragam manfaat, antara lain sebagai aroma terapi, pereda nyeri otot, antiseptik untuk luka kecil, serta meredakan kembung dan masuk angin. Produk ini telah dipasarkan dalam berbagai ukuran kemasan, mulai dari 30 ml hingga 250 ml, menyesuaikan kebutuhan konsumen.
Dengan semangat pantang menyerah dan dukungan dari berbagai pihak, usaha minyak kayu putih atsiri di Wini diharapkan dapat terus tumbuh menjadi ikon produk unggulan perbatasan yang tidak hanya mengharumkan daerah, tetapi juga membawa kesejahteraan bagi masyarakat Timor Tengah Utara. Ke depan, dukungan pemerintah melalui pembiayaan dan pendampingan yang berkesinambungan diharapkan mampu memperkuat UMKM hingga ke wilayah perbatasan.
oleh: Dyva Lindra SK Kencana

