Perempuan dan Integritas:
Garda Sunyi Penjaga APBN
Ada yang bekerja tanpa sorak tepuk tangan. Ada yang menjaga tanpa nama besar di spanduk. Mereka hadir setiap hari dengan membuka berkas, memeriksa angka, memverifikasi dokumen, memastikan setiap rupiah uang negara berjalan pada jalur yang benar. Mereka adalah perempuan-perempuan di balik birokrasi keuangan negara. Garda sunyi yang menopang APBN.
Tidak banyak yang tahu bahwa mesin keuangan negara ini sebagian besar digerakkan oleh tangan-tangan perempuan.
Data Badan Kepegawaian Negara (BKN) menunjukkan fakta yang mengejutkan sekaligus membanggakan: per tahun 2024, sebanyak 57 persen dari total Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia adalah perempuan yang mencapai lebih dari 2,7 juta orang dari total sekitar 4,7 juta ASN. Sejak tahun 2020, proporsi ASN perempuan sudah melampaui 50 persen, dan terus meningkat setiap tahunnya.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan bahwa negara ini, diam-diam, telah mempercayakan pengelolaan urusan publiknya kepada perempuan dalam jumlah yang sangat besar.
Dan kepercayaan itu bukan hal kecil. Di setiap instansi yang terlibat dalam pengelolaan keuangan negara baik dari kantor pusat hingga satuan kerja paling ujung di pelosok daerah, perempuan ASN hadir dan bekerja. Sekecil apa pun perannya, setiap dari mereka turut menanggung amanah pengelolaan keuangan rakyat.
Sebelum berbicara tentang integritas, penting untuk memahami apa itu APBN dan mengapa ia begitu sakral.
APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) adalah rencana keuangan tahunan pemerintah yang ditetapkan bersama DPR. Di sinilah pajak yang dibayar oleh jutaan warga negara dikumpulkan, lalu disalurkan kembali untuk membangun jalan, membayar guru, membiayai rumah sakit, memberikan beasiswa, dan menjaga stabilitas ekonomi saat badai krisis datang.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pernah menegaskan hal ini dengan tegas: "APBN berfungsi sebagai shock absorber untuk meredam gejolak sekaligus sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi." Lebih jauh, beliau mengingatkan bahwa kepercayaan investor dan masyarakat harus terus dijaga melalui kebijakan yang kredibel dan transparan.
Ketika APBN bocor karena korupsi, yang rugi bukan negara dalam arti abstrak tetapi yang rugi adalah anak yang tidak mendapat beasiswa, ibu yang menunggu lama di puskesmas, petani yang jalannya tidak kunjung diperbaiki. Uang yang bocor itu nyata. Dan dampaknya pun nyata.
Karena itulah integritas bukan sekadar nilai moral. Integritas adalah fondasi dari kepercayaan publik.
Menarik untuk dicermati bahwa riset yang dilakukan oleh akademisi Universitas Bocconi, Milan, menemukan bahwa perempuan cenderung lebih jarang terlibat dalam perilaku suap dan korupsi dibandingkan laki-laki (The Economist, 2022). Studi literatur dari jurnal Sosains (2025) mencatat bahwa keterlibatan perempuan dalam korupsi secara umum memang lebih rendah, meski faktor sosial, tekanan lingkungan, dan peluang tetap memengaruhi siapa pun baik perempuan maupun laki-laki.
Namun, menyederhanakan isu ini hanya dengan argumen "perempuan lebih bersih" adalah tidak adil dan tidak tepat. Indonesia Corruption Watch (ICW) mengingatkan bahwa perilaku korupsi tidak bisa dibaca semata dari identitas gender. Perempuan pun bisa terlibat dalam korupsi jika sistem pengawasan lemah dan tekanan struktural membiarkannya terjadi.
Yang lebih relevan bukan perdebatan apakah perempuan lebih jujur atau tidak. Yang lebih relevan adalah ini: perempuan yang berintegritas, yang memilih untuk tetap lurus di tengah godaan, tekanan, dan kesempatan adalah kontributor nyata bagi kebersihan sistem keuangan negara.
Dan mereka banyak. Sangat banyak.
Bayangkan seorang bendahara perempuan di sebuah satuan kerja (satker) kementerian di daerah terpencil. Setiap hari ia berhadapan dengan dokumen pencairan anggaran, tagihan, dan permintaan pembayaran. Tidak ada kamera yang menyorotnya. Tidak ada wartawan yang meliputnya. Tidak ada pejabat yang mengawasi setiap langkahnya.
Tapi setiap kali ia menolak dokumen palsu, setiap kali ia tidak mau memproses tagihan yang tidak sesuai prosedur, setiap kali ia memilih repot daripada memilih kompromi, ia sedang menjaga APBN.
Atau bayangkan seorang perempuan yang setiap hari berhadapan dengan sistem digital pencatatan keuangan negara. Di balik layar komputer itu, ia memastikan setiap transaksi tercatat dan setiap pengeluaran bisa dipertanggungjawabkan. Tidak ada yang melihat. Tapi ketelitian dan kejujurannya adalah pagar pertama dari kebocoran anggaran.
Tidak ada sertifikat khusus untuk mereka. Tidak ada penghargaan yang ramai dipublikasikan. Tapi tanpa mereka, sistem ini tidak akan berjalan.
Negara tidak hanya berharap pada kebaikan hati individu. Sistem integritas dibangun secara kelembagaan di setiap instansi pemerintah melalui pengendalian internal, penanganan konflik kepentingan, serta mekanisme pelaporan pelanggaran. Semua itu dirancang agar tidak ada satu pun celah yang bisa dimanfaatkan untuk menggerogoti keuangan negara.
Di sinilah peran perempuan ASN menjadi kunci. Mereka bukan hanya pelaksana sistem tetapi mereka adalah penghidup sistem. Secanggih apa pun aturan dan teknologi yang dibangun, semuanya akan sia-sia jika tidak dijalankan oleh orang-orang yang berkomitmen. Dan komitmen itu, setiap hari, ditunjukkan oleh jutaan perempuan ASN yang memilih untuk bekerja dengan benar.
Kepada para perempuan ASN di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari kantor pusat hingga satker paling ujung, kalian adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kalian sendiri. Ketika kalian menjaga prosedur, menolak gratifikasi, dan berani berkata tidak pada hal yang salah, kalian sedang menjaga mimpi rakyat yang terwujud dalam setiap program negara.
Kepada masyarakat luas, sadarilah bahwa integritas pengelolaan APBN bukan urusan pejabat tinggi semata. Ia dimulai dari orang-orang biasa yang bekerja setiap hari dengan hati yang lurus. Dan banyak dari mereka adalah perempuan.
Kepada para pengambil kebijakan, pastikan perempuan-perempuan ini mendapat ruang yang setara, perlindungan yang layak, dan pengakuan atas peran nyata mereka. Bukan hanya sebagai pelengkap statistik keterwakilan gender, tetapi sebagai mitra strategis dalam membangun tata kelola keuangan negara yang bersih.
Kadang, pahlawan adalah perempuan yang setiap pagi membuka laptop, memeriksa dokumen, dan memilih untuk tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Mereka bukan garda yang bising. Mereka sunyi. Tapi justru kesunyian mereka itulah yang menjaga suara jutaan rakyat Indonesia. Suara yang berharap bahwa uang pajak mereka benar-benar sampai ke tujuan yang benar.
Perempuan dan integritas. Dua kata yang sudah lama berjalan beriringan dalam senyap. Sudah waktunya kita bersuara lebih keras untuk menghargai mereka.
*) Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi tempat penulis bekerja.
Penulis: Rosita Purwaningsih






