Keimanan yang terpatri dalam jiwa setiap insan, bisa bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Alqur’an selalu menyandingkan keimanan dengan amal shalih karena amal shalih sendiri adalah satu kesatuan dengan iman. Orang yang mengaku beriman namun tidak satupun melakukan amal shalih maka dia telah berdusta atas pengakuannya, begitu pula, orang yang melakukan amal shalih pasti didasari keimanan dalam hatinya. Iman yang tinggi tercermin dalam perilaku dan akhlak mulia yang menghiasi pemiliknya, sementara seseorang yang rendah imannya akan selalu dihiasi dengan perilaku dan akhlak yang buruk.
Kualitas keimanan adalah faktor paling utama dalam membangun karakter pegawai. Pegawai dituntut memiliki karakter yang kuat, perilaku yang positif dan akhlakul karimah dalam setiap melakukan tugas pelayanan kepada masyarakat. Dalam rangka peningkatan kualitas keimanan para pegawainya, KPPN Purwokerto selalu mengagendakan kegiatan islami berupa sedekah jumat, pembacaan kitab Riyadhus Shalihin setelah sholat Asar berjamaah, pengajian bulanan dan tahsin (perbaikan) bacaan Al Qur’an. Untuk kegiatan terakhir diprakarsai ibu-ibu dharma wanita dan pesertanya juga khusus ibu-ibu pegawai.
Sedekah Jum’at memang terinspirasi KPPN lain yang sudah melaksanakan kegiatan serupa seperti KPPN Cilacap, Banjarnegara dan yang lainnya namun KPPN Purwokerto mengemasnya dengan bentuk sedikit berbeda. Dengan tujuan agar lebih banyak penerimanya, setiap Juma’at pagi tim penyalur sedekah melakukan rutinitas melewati jalan-jalan protokol di kota ‘berburu’ hamba-hamba Alloh yang sedang berjuang mengais rejeki. Sepotong kue atau sebungkus nasi akan sangat berharga buat mereka sekedar sebagai tambahan energi untuk melanjutkan usaha mereka. Momen-momen seperti itu akan membekas di hati para pegawai dan mengingatkan mereka untuk senantiasa bersyukur kepada Alloh bahwa banyak saudara-saudara seiman yang harus berjuang lebih keras, harus memeras keringat dibawah terik matahari demi mendapatkan rejeki mereka, sementara kita semua bisa bekerja lebih nyaman dan santai, diruangan yang ber AC pula.
Adapun, pengajian bulanan yang rutin dilaksanakan setiap Rabu setelah sholat Asar berjamaah di musholah kantor pada pekan ketiga bertujuan meningkatkan wawasan pengetahuan Islam bagi para pegawai. Bahwasanya kewajiban menuntut ilmu agama sebagaimana diperintahkan oleh Nabi Muhammad –shalallohu alaihi wasallam-, maka perintah ini tidak terbatas kepada pelajar saja, kepada anak-anak yang duduk di bangku sekolah saja, namun kepada seluruh orang Islam. Pegawai yang menghabiskan waktu seharian di ruangan kantor pun tetap wajib belajar agama. Oleh karena itu, meski terbilang hanya satu bulan sekali, tetaplah suatu usaha yang bernilai kebaikan dengan harapan dengan bertambahnya wawasan keislaman diiringi dengan meningkatnya kadar keimanan juga.
Pembacaan terjamah kitab Riyadhus Shalihin setiap usai sholat Asar berjamaah di musholah kantor juga dalam rangka meningkatkan wawasan keislaman para pegawai khususnya agar lebih familiar dengan hadits-hadits Nabi Muhammad –shalallohu alaihi wasallam- sebagai sumber hukum yang kedua. Kitab tersebut termasuk salah satu kitab termahsyur yang sudah dekat dengan kaum muslimin seluruh dunia buah karya Imam Nawawi murid langsung Imam Syafi’i yang populer sebagai peletak dasar madzhab Syafi’i yang dianut mayoritas muslimin Indonesia. Setiap hari dibacakan sekitar tiga atau empat hadits oleh pegawai yang bertugas sebagai imam sholat. Tujuan dari pembacaan terjemah kitab tersebut adalah dalam rangka taushiah (pemberian nasehat), tazkiyatun nufus (pensucian hati) dan targhib wa tarhib (penyampaian janji pahala dan ancaman dosa) seperti pada saat pembacaan hadits tentang keutamaan sholat malam, perintah sholat berjamaah, perintah bersedekah dan lain sebagainya. Karena kegiatan tersebut adalah murni pembacaan terjamah maka tidak dijelaskan hukum-hukum yang digali dari hadits bersangkutan, kemudian asbabul wurud (latar belakang sabda Nabi) dan fatwa-fatwa ulama yang terkait karena semua hal tersebut masuk dalam ranahnya alim ulama. Adapun, kegiatan ini adalah sekadar penyegaran jiwa atau siraman rohani kepada sesama pegawai untuk manfaat-manfaat yang sudah disampaikan di atas.
Beberapa kegiatan islami diatas sudah dicanangkan sebagai kegiatan rutin baik harian, pekanan maupun bulanan sebagai sarana peningkatan kualitas keimanan seluruh pegawai yang akan menunjang proses pembentukan karakter pegawai yang berakhlak mulia dalam mengemban amanah sebagai aparatur negara.




