Jakarta, Januari 2026 – Kondisi perekonomian Jakarta sepanjang tahun 2025 tercatat stabil. Di akhir tahun 2025, inflasi tetap berada di rentang target sasaran meskipun terdapat tekanan harga volatile food dan emas perhiasan. Ekspektasi konsumsi dan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi jangka pendek juga masih menunjukkan optimisme. Dari sisi fiskal, kinerja APBN dan APBD diakselerasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Dukungan tersebut diwujudkan melalui capaian berbagai program prioritas pemerintah yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk warga Jakarta.
Ekonomi Makro
Tekanan harga emas dan volatile food masih berlangsung, namun inflasi Jakarta pada Desember 2025 masih terkendali di level 2,63% (yoy). Kondisi ini disumbang oleh kenaikan harga beberapa komoditas di antaranya Emas Perhiasan, Daging Ayam Ras, dan Air Minum PAM.
Sampai dengan akhir Desember 2025, indikator optimisme masyarakat terhadap perekonomian di Jakarta masih terjaga positif. Keyakinan Konsumen (IKK) kembali naik di level 145,33 menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ke depan. Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) berada di level 131,90 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) berada di level 158,76.
Kinerja APBN
Kinerja APBN hingga akhir Desember 2025 masih terus dioptimalkan melalui akselerasi belanja sebagai instrumen fiskal ekspansif. Hingga 31 Desember 2025, Belanja APBN telah terserap Rp2.146,48 T atau 87,68% dari target, naik 11,05% (yoy).
- Belanja K/L mencapai Rp1.077,52 T atau 85,16% dari pagu. Highlight penyaluran Bulan Desember menurut Kementerian/Lembaga antara lain (1) Kementerian Pertahanan Rp103,18 T mayoritas untuk Sarana Bidang Pertahanan dan Keamanan, (2) Badan Gizi Nasional Rp16,93 T mayoritas untuk Penyediaan dan Penyaluran Makan Bergizi Gratis, dan (3) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Rp15,80 T mayoritas untuk Program Wajib Belajar 13 Tahun.
- Belanja Non K/L mencapai Rp1.103,87 T atau 90,07% dari pagu. Mayoritas Belanja Non K/L di antaranya untuk program Pengelolaan Belanja Subsidi dan Pengelolaan Transaksi Khusus.
- Dukungan APBN melalui Transfer ke Daerah terealisasi sebesar Rp25,08 T atau 90,41% dari pagu. Pada bulan Desember utamanya digunakan untuk DBH dan DAK Non Fisik.
Kinerja Pendapatan APBN hingga akhir Desember 2025 mencapai Rp1.927,96 T atau 99,63% dari target, terdiri dari:
- Pendapatan Pajak menunjukkan pertumbuhan kuat didorong kenaikan PPh Non Migas dan PBB Migas. Hingga akhir 2025, pendapatan Pajak telah mencapai Rp1.464,49 T atau 95,61% dari target.
- Penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp22,57 T atau 87,15% dari target APBN, terkontraksi tipis 4,99% (yoy). Kontraksi ini masih melanjutkan dampak dari adanya insentif Bea Masuk nol persen untuk importasi kendaraan bermotor listrik hingga Desember 2025 serta dampak skema AC-FTA. Sementara itu, penerimaan Cukai mengalami peningkatan yang berasal dari Cukai Hasil Tembakau, Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol, dan importasi EA.
- Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp436,17 T atau 115,70% dari target. Mayoritas PNBP masih mengalami kontraksi sebagai dampak dari penurunan harga komoditas tingkat global.
Kinerja APBD
Kinerja APBD Jakarta hingga 31 Desember 2025 tercatat surplus diikuti kenaikan Pendapatan dan Belanja. Pendapatan APBD Jakarta mencapai Rp79,94 T atau 94,65% dari target, naik 9,88% (yoy). Kenaikan Pendapatan APBD utamanya disebabkan adanya kenaikan Pendapatan Transfer dan kenaikan PAD. Mayoritas Pendapatan yang mengalami kenaikan antara lain PBB-P2, PKB, dan Pajak Makanan/Minuman.
Belanja APBD mencapai Rp76,05 T atau 88,45% dari target, naik 8,66% (yoy). Utamanya didorong kenaikan Belanja Bantuan Sosial yang tumbuh 22,98% (yoy) akibat penambahan kuota penerima KJP Plus, bansos, kartu lansia dan anak, serta dukungan bagi penyandang disabilitas.
Kondisi perekonomian Jakarta sepanjang 2025 menunjukkan stabilitas inflasi dan menguatnya optimisme domestik terhadap perekonomian, meski masih terdapat tekanan eksternal tercermin dari defisit neraca perdagangan. Kinerja APBN 2025 juga menunjukkan defisit yang sehat, seiring pendapatan negara yang tumbuh solid dan akselerasi belanja yang terarah untuk menjaga daya beli, mendorong aktivitas ekonomi, serta memperkuat fondasi pertumbuhan di tengah dinamika global yang menantang. Kinerja APBN didukung APBD yang tetap mencatat surplus seiring meningkatnya pendapatan daerah dan akselerasi belanja sebagai stimulus fiskal untuk mendorong aktivitas ekonomi daerah. Sinergi APBN-APBD tetap dilanjutkan untuk memastikan belanja yang lebih cepat, terarah, dan saling melengkapi guna mengoptimalkan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi.


