Jakarta, Februari 2026 - Mengawali tahun 2026, kondisi perekonomian Jakarta terpantau tetap kuat dan stabil. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren penguatan yang didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga serta terjaganya optimisme masyarakat terhadap prospek ekonomi Jakarta dalam jangka pendek. Hal ini mencerminkan daya tahan ekonomi daerah yang tetap solid di tengah dinamika perekonomian nasional dan global.
Dari sisi fiskal, kinerja keuangan juga menunjukkan perkembangan yang positif. Realisasi Pendapatan dan Belanja APBN tercatat tumbuh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, APBD terus bersinergi dengan APBN dalam memastikan belanja pemerintah di Jakarta berjalan optimal, efektif, dan tepat sasaran guna mendukung aktivitas ekonomi serta mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
Kondisi Ekonomi Makro
Ekonomi Jakarta tumbuh kuat sebesar 5,71% (yoy), di atas rata-rata nasional dan menjadi capaian tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini ditopang oleh kinerja sektor perdagangan dan konsumsi rumah tangga, dengan peran pemerintah yang meningkat menjadi 13,20% sehingga memberikan dukungan yang lebih besar dibandingkan tahun 2024.
Inflasi Januari 2026 melanjutkan tren menurun berada di level 3,96% (yoy). Tekanan utamanya berasal dari lonjakan tarif listrik, harga emas perhiasan, dan tarif air minum PAM. Meski demikian, secara bulanan tercatat deflasi yang sejalan dengan pola musiman awal tahun, utamanya didorong penurunan harga cabai merah, daging ayam ras, dan bawang merah.
Sampai dengan akhir Januari 2026, indikator optimisme masyarakat terhadap perekonomian di Jakarta masih positif. Indeks Keyakinan Konsumen naik 6,14% (yoy) di level 149,81 didorong oleh optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang naik 10,65% (yoy) di level 138,48 dan juga naiknya ekspektasi konsumen tiga bulan kedepan sebesar 3,08% (yoy) di level 161,14.
Kinerja Fiskal
Kinerja APBN di awal tahun 2026 tercatat defisit tipis seiring kenaikan pendapatan diikuti belanja yang akseleratif. Hingga 31 Januari 2026, Belanja APBN terserap Rp116,61 T atau 5,16% dari target, naik 56,63% (yoy).
- Belanja K/L mencapai Rp40,44 T atau 5,14% dari pagu, tumbuh signifikan 243,48% (yoy). Highlight penyaluran bulan Januari antara lain Badan Gizi Nasional Rp19,55 T mayoritas untuk program Makan Bergizi Gratis anak sekolah di seluruh Indonesia. Kementerian Sosial Rp5,87 T mayoritas untuk penyelenggaraan bansos Program Keluarga Harapan. Kementerian Kesehatan Rp4,13 T, mayoritas untuk Pembiayaan dan Pengelolaan Jaminan Kesehatan.
- Belanja Non K/L mencapai Rp76,13 T atau 6,65% dari pagu, naik 23,41% (yoy). Highlight penyaluran bulan Januari antara lain digunakan untuk Program Pengelolaan Transaksi Khusus Rp25,58 T mayoritas untuk kontribusi sosial dan Program Pengelolaan Belanja Lainnya sebesar Rp222,99 M, mayoritas untuk Pengelolaan Bantuan Kemasyarakatan.
- Dukungan APBN melalui Transfer ke Daerah terealisasi sebesar Rp35 M atau 0,25% dari pagu. Realisasi ini digunakan untuk Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Bagi Hasil (DBH).
Kinerja Pendapatan APBN hingga akhir Januari 2026 mencapai Rp116,02 T atau 6,26% dari target, tumbuh 49,24% (yoy), terdiri dari:
- Pendapatan Pajak menunjukkan optimisme ditopang oleh membaiknya kinerja PPh dan PPN. Hingga akhir Januari 2026, pendapatan Pajak mencapai Rp87,35 T atau 5,45% dari target, naik signifikan 88,02% (yoy).
- Penerimaan Kepabeanan dan Cukai masih mengalami tekanan akibat penurunan Bea Masuk. Hingga 31 Januari 2026, Penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp1,69 T atau 7,00% dari target, terkontraksi 2,78% (yoy). Kontraksi ini dipengaruhi turunnya BM akibat pemanfaatan skema ACFTA dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) bertarif 0%, melemahnya permintaan CPO global yang menekan BK, serta penurunan signifikan penerimaan cukai MMEA dan cukai lainnya.
- Kinerja PNBP mencapai Rp26,94 T atau 7,18% dari target, terkontraksi 8,82% (yoy). Kinerja PNBP hingga Januari 2026 masih tertekan akibat penurunan pendapatan non migas dan bagian laba BUMN.
Kinerja APBD
Kinerja APBD Jakarta hingga 31 Januari 2026 tercatat surplus. Pendapatan Daerah tumbuh moderat seiring dengan peningkatan Belanja Daerah. Pendapatan APBD Jakarta mencapai Rp2,64 T atau 3,69% dari target, naik 2,93% (yoy). Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan PAD sebesar 2,74% (yoy), terutama dari Pajak Daerah dan Lain-Lain PAD yang Sah, serta adanya peningkatan signifikan Pendapatan Transfer sebesar 34,19% (yoy) yang dipengaruhi kenaikan realisasi DAU dan DBH SDA Minyak Bumi. Belanja APBD mencapai Rp1,75 T atau 2,38% dari target, naik signifikan 40,38% (yoy). Kenaikan ini utamanya disebabkan oleh kenaikan Belanja Operasi, khususnya Belanja Pegawai serta Belanja Barang dan Jasa.
Secara keseluruhan, perekonomian Jakarta pada awal 2026 tetap kuat dan stabil dengan pertumbuhan terjaga, inflasi terkendali, dan perbaikan pasar kerja, meski tetap perlu mewaspadai tantangan ketimpangan dan tekanan eksternal. Kinerja fiskal menunjukkan APBN dalam kondisi defisit tipis akibat akselerasi belanja yang mendukung pertumbuhan, sementara APBD mencatat surplus dengan percepatan belanja daerah, didukung sinergi APBN dan APBD yang semakin optimal untuk memperkuat stimulus ekonomi.


