Jakarta, Juni 2026 – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Mei 2026 tetap menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Pendapatan negara tercatat tumbuh 18,00% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, belanja negara meningkat 37,73% (yoy) mencerminkan peran APBN yang tetap optimal dalam mendukung pelaksanaan program prioritas pemerintah dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Sejalan dengan itu, berbagai indikator ekonomi nasional masih menunjukkan kondisi yang relatif terjaga. Keyakinan konsumen dan kesejahteraan petani serta nelayan tetap berada pada level yang positif, meskipun ekspektasi ekonomi ke depan mulai menunjukkan moderasi. Di sisi lain, inflasi tahunan pada Mei 2026 meningkat mendekati batas atas sasaran inflasi, sementara neraca perdagangan mengalami pelebaran defisit akibat peningkatan impor dan penurunan ekspor. Dalam kondisi tersebut, APBN terus menjalankan fungsinya sebagai instrumen stabilisasi dan akselerasi pembangunan melalui dukungan pada sektor pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, penguatan daya beli masyarakat, serta berbagai program strategis nasional.
Kondisi Ekonomi Makro
Inflasi tahunan Mei 2026 alami kenaikan mencapai batas atas sasaran di level 3,08 (yoy) Inflasi masih disebabkan oleh naiknya harga emas perhiasan, tarif angkutan udara akibat tekanan krisis energi, dan daging ayam ras. Indikator optimisme masyarakat terhadap perekonomian jangka pendek di Jakarta tercatat masih menunjukkan optimisme meskipun ada penurunan ekspektasi 3 bulan ke depan. Indeks Keyakinan Konsumen berada di level 144,70. Optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi termoderasi di level 134,60. Sementara itu, ekspektasi masyarakat tetap berada di level 154,80.
Kinerja APBN
Kinerja APBN masih on track, dengan pertumbuhan positif belanja diikuti dengan pertumbuhan pendapatan. Hingga 31 Mei 2026, Belanja APBN terserap Rp903,99 T atau 37,30% dari target, tumbuh signifikan 37,73% (yoy).
- Belanja K/L terserap Rp358,31 T atau 30,94% dari pagu, naik 30,38% (yoy). Highlight penyaluran Bulan Mei antara lain: (1) Badan Gizi Nasional Rp13,16 T, utamanya untuk Penyediaan dan Penyaluran Makan Bergizi untuk Anak Sekolah di Seluruh Indonesia sebesar Rp11,53 T, (2) Kementerian Pertahanan Rp12,98 T, utamanya untuk Pengadaan/Harwat Alutsista Strategis sebesar Rp8,58T, (3) Kementerian Pendidikan Dasar Dan Menengah Rp9,61 T, utamanya untuk Layanan Pembiayaan Pendidikan Dasar dan Menengah sebesar Rp5,53 T.
- Belanja Non K/L terserap Rp542,06 T atau 34,03% dari pagu, naik 43,30% (yoy). Highlight penyalurannya antara lain: (1) Program Pengelolaan Utang Negara Rp48,93 T, (2) Program Program Pengelolaan Belanja Lainnya sebesar Rp35,95 T, (3) Program Pengelolaan Subsidi Rp19,87 T.
- Dukungan APBN melalui Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp3,62 T atau 26,03% dari pagu, terkontraksi 48,53% (yoy). Penyaluran TKD meliputi Dana Alokais Fisik (DAK) Non Fisik, Hibah Daerah, dan Dana Alokasi Umum.
Kinerja Pendapatan APBN hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp840,09 T atau 41,92% dari target, naik 18,00% (yoy), terdiri dari:
- Pendapatan Pajak mencapai Rp593,34 T atau 37,03% dari pagu, naik 22,16% (yoy). Kinerja pajak masih terjaga positif, terutama didukung oleh akselerasi kinerja PPN seiring membaiknya kinerja sektor utama perpajakan diikuti penurunan restitusi seiring meningkatnya mitigasi restitusi pada komoditas SDA.
- Penerimaan Kepabeanan dan Cukai masih melanjutkan tren positifnya didukung pertumbuhan seluruh komponen penerimaan. Hingga akhir Mei penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp9,64 T atau 39,68% dari pagu, naik 10,57% (yoy).
- Kinerja PNBP mencapai Rp188,49 T atau 50,01% dari pagu, tumbuh 50,29% (yoy). Realisasi PNBP naik utamanya berasal dari kenaikan PNBP Lainnya didorong oleh naiknya Pendapatan Denda/Kompensasi di Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Kinerja APBD
Kinerja APBD Jakarta hingga 31 Mei 2026 mencatatkan Belanja yang tetap tumbuh moderat di tengah moderasi Pendapatan Daerah. Pendapatan APBD Jakarta mencapai Rp23,70 T atau 33,18% dari target, termoderasi 22,23% (yoy). Koreksi Pendapatan APBD utamanya karena penurunan signifikan Pendapatan Transfer sebesar 81,26% (yoy). Sementara itu PAD tetap mengalami peningkatan sebesar 1,50% (yoy) utamanya dari Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Belanja APBD mencapai Rp18,99 T atau 25,56% dari target, naik 2,52% (yoy). Kenaikan utamanya disebabkan mayoritas komponen Belanja Daerah yang naik seperti Belanja Operasi, Belanja Subsidi, dan Belanja Pegawai.
Secara keseluruhan, kondisi perekonomian di Jakarta masih terjaga di tengah berbagai tantangan global, meskipun terdapat tekanan dari meningkatnya inflasi dan melemahnya ekspektasi ke depan. Di sisi fiskal, kinerja APBN tetap on track dengan dukungan Belanja yang ekspansif dan Pendapatan yang terus tumbuh, sementara APBD mencatatkan surplus meskipun perlu mewaspadai perlambatan pendapatan daerah. Ke depan, sinergi yang semakin erat antara APBN dan APBD menjadi faktor penting dalam memperkuat peran fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi, mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan, serta meningkatkan kualitas layanan publik di Jakarta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional dan kota global.


