Jakarta, Mei 2026 - Perekonomian Jakarta hingga April 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah dinamika ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi Jakarta pada triwulan I 2026 tercatat tetap solid, didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat, aktivitas perdagangan, serta sektor jasa keuangan yang terus ekspansif seiring momentum Hari Besar Keagamaan Nasional. Inflasi Jakarta juga tetap terjaga dalam rentang sasaran, sementara kesejahteraan petani dan nelayan menunjukkan tren yang membaik.
Di sisi fiskal, kinerja APBN di wilayah DKI Jakarta hingga April 2026 tetap kuat dengan pertumbuhan pendapatan negara dan percepatan realisasi belanja pemerintah. Belanja negara terus diarahkan untuk mendukung program prioritas seperti pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, subsidi, dan penguatan daya beli masyarakat. APBN pun terus berperan sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas ekonomi Jakarta sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di tengah ketidakpastian global.
Kondisi ekonomi makro
Pertumbuhan ekonomi Jakarta awal tahun mencapai 5,59% (yoy), kondisi ini menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dan stabil ditopang oleh menguatnya konsumsi rumah tangga (sisi konsumsi) dan perdagangan dan jasa keuangan (sisi produksi).
Pada April 2026, Jakarta mengalami inflasi sebesar 2,12% (yoy). Inflasi ini tercatat melandai dalam rentang target, namun masih tertahan oleh kenaikan harga emas perhiasan, daging ayam ras, dan tarif angkutan udara akibat tekanan krisis energi.
Indikator optimisme masyarakat terhadap perekonomian jangka pendek di Jakarta tercatat meneruskan perlambatan pada akhir April 2026. Indeks Keyakinan Konsumen berada di level 144,76. Optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi termoderasi di level 135,24. Sementara itu, ekspektasi masyarakat tetap berada di level 154,29.
Kinerja APBN
Kinerja APBN tercatat menguat ditopang oleh pertumbuhan dua digit Pendapatan dan akselerasi Belanja. Hingga 30 April 2026, Belanja APBN terserap Rp707,78 T atau 29,79% dari target, tumbuh signifikan 53,64% (yoy).
- Belanja K/L terserap Rp278,43 T atau 24,58% dari pagu, naik 73,28% (yoy). Penyaluran Belanja pada April didominasi oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sebesar Rp19,68 T mayoritas untuk penyediaan dan penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak sekolah di seluruh Indonesia; Kementerian Sosial sebesar Rp13,03 T mayoritas untuk Bantuan Program Sembako; serta Kementerian Pertahanan sebesar Rp10,25 T mayoritas untuk pengadaan Alutsista strategis.
- Belanja Non K/L mencapai Rp425,92 T atau 34,64% dari pagu, naik 45,31% (yoy). Mayoritas penyalurannya untuk Program Pengelolaan Utang Negara Rp48,93 T, Pegelolaan Subsidi Rp22,65 T khususnya subsidi energi, dan Pengelolaan Transaksi Khusus Rp13,63 T utamanya untuk kontribusi sosial.
- Dukungan APBN melalui Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp3,43 T atau 24,68% dari pagu, turun 50,19% (yoy). Penyaluran TKD pada April meliputi Dana Bagi Hasil (DBH) Rp1,12 T, Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Rp127 M, dan Pengelolaan Hibah Transportasi Rp27,57 M.
Kinerja Pendapatan APBN hingga akhir April 2026 mencapai Rp642,70 T atau 32,10% dari target, naik 15,03% (yoy), terdiri dari:
- Pendapatan Pajak mencapai Rp457,28 T atau 28,54% dari pagu, naik 14,82% (yoy). Tren positif kinerja pajak masih berlanjut utamanya disumbang oleh membaiknya kinerja PPN seiring membaiknya kinerja sektor perdagangan dan pertimbangan diikuti penurunan restitusi.
- Penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp7,39 T atau 30,43% dari target, naik 9,02% (yoy). Penerimaan Kepabeanan dan Cukai tercatat terus menguat didukung pertumbuhan seluruh komponen penerimaan.
- Kinerja PNBP mencapai Rp137,95 T atau 36,76% dari target, naik 7,48% (yoy). Realisasi PNBP naik utamanya berasal dari kenaikan PNBP SDA Non Migas yang utamanya berasal dari naiknya Pendapatan Pungutan Hasil Perikanan.
Kinerja APBD
Kinerja APBD Jakarta hingga 30 April 2026 tercatat masih positif dengan pertumbuhan Belanja di tengah moderasi Pendapatan Daerah. Pendapatan APBD Jakarta mencapai Rp13,84 T atau 19,37% dari target, terkontraksi 37,54% (yoy). Kontraksi ini utamanya disebabkan penurunan signifikan Pendapatan Transfer sebesar 90,51% (yoy), PAD juga terkontraksi sebesar 3,31% (yoy).
Belanja APBD mencapai Rp14,71 T atau 19,81% dari target, naik 3,40% (yoy). Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan Belanja Operasi sebesar 3,62% (yoy) meskipun komponen Belanja lain masih mengalami kontraksi.
Kinerja ekonomi dan fiskal hingga April 2026 menunjukkan bahwa Jakarta tetap mampu menjaga pertumbuhan yang kuat di tengah tekanan global. Stabilitas inflasi, terjaganya optimisme masyarakat, serta akselerasi belanja negara menjadi faktor penting dalam menopang aktivitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Dengan capaian tersebut, APBN dan APBD terus menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat daya tahan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta yang inklusif dan berkelanjutan.


