Jl. Sultan Muhammad Syah, Gedung Kanwil DJPb Provinsi Kepulauan Riau, Dompak

Mengayuh Perubahan:

Pelajaran Treasuride tentang Cara Baru DJPb Membangun Public Value

Oleh: Mohamad Yusuf

Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kepulauan Riau

 

Apa hubungan sepeda dengan APBN?

Sekilas, pertanyaan tersebut terdengar tidak masuk akal. Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) selama ini dikenal sebagai institusi yang bertugas mengelola kas negara, menyalurkan APBN, dan memastikan setiap rupiah uang negara dikelola secara tertib, efektif, dan akuntabel. Sementara itu, sepeda identik dengan olahraga, rekreasi, atau sekadar hobi di akhir pekan. Keduanya tampak berasal dari dua dunia yang berbeda.

Namun, anggapan itu berubah ketika saya mengikuti Treasuride.

Pada awalnya, saya mengira Treasuride hanyalah sebuah kompetisi bersepeda antarunit kerja di lingkungan DJPb. Seperti halnya ajang olahraga lainnya, ukuran keberhasilannya tampak sederhana: siapa yang paling jauh mengayuh, siapa yang paling banyak mengumpulkan kilometer, atau siapa yang paling tinggi berada di papan peringkat. Akan tetapi, semakin lama mengikuti rangkaian kegiatan tersebut, saya menyadari bahwa Treasuride sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar olahraga.

Di balik setiap kayuhan, terdapat pesan tentang hidup sehat, kepedulian terhadap lingkungan, dukungan kepada UMKM, dan semangat kolaborasi. Treasuride memperlihatkan bahwa birokrasi modern tidak selalu membangun manfaat publik melalui regulasi atau anggaran. Kadang-kadang, perubahan justru dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan bersama secara konsisten.

Inilah sisi paling menarik dari Treasuride. Program ini memperlihatkan bahwa DJPb tidak hanya menghadirkan manfaat melalui pengelolaan APBN, tetapi juga melalui perubahan perilaku. Jika APBN merupakan instrumen utama negara dalam menciptakan kesejahteraan, maka Treasuride menunjukkan bahwa perubahan perilaku dapat menjadi instrumen pelengkap yang tidak kalah penting dalam membangun nilai bagi masyarakat (public value).

Ketika Birokrasi Tidak Lagi Cukup Mengelola Anggaran

Selama bertahun-tahun, keberhasilan organisasi publik sering diukur dari besarnya anggaran yang diserap, ketepatan waktu pelaksanaan program, atau jumlah layanan yang berhasil diberikan kepada masyarakat. Ukuran-ukuran tersebut tentu tetap penting. Namun, perkembangan administrasi publik modern menunjukkan bahwa keberhasilan birokrasi tidak lagi berhenti pada aspek administratif semata.

Mark H. Moore melalui konsep public value menjelaskan bahwa organisasi publik pada akhirnya dinilai dari nilai yang berhasil diciptakannya bagi masyarakat. Dengan kata lain, keberhasilan sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh apa yang dikerjakannya, tetapi juga oleh perubahan positif yang berhasil dihadirkannya.

Bagi DJPb, public value selama ini diwujudkan melalui pengelolaan APBN. Dana yang dikelola negara kemudian mengalir menjadi pembangunan sekolah, rumah sakit, jalan, jembatan, perlindungan sosial, hingga berbagai program pemberdayaan masyarakat. Semua itu merupakan bentuk nyata bagaimana pengelolaan perbendaharaan negara berujung pada peningkatan kesejahteraan publik.

Namun, Treasuride memperlihatkan dimensi lain yang menarik. Program ini menunjukkan bahwa nilai publik tidak selalu harus dibangun melalui instrumen fiskal. Nilai yang sama dapat tumbuh melalui budaya organisasi yang mampu menginspirasi perubahan perilaku.

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep nudge yang diperkenalkan Richard Thaler dan Cass Sunstein. Mereka menjelaskan bahwa perilaku manusia sering kali lebih mudah berubah melalui dorongan yang menyenangkan daripada melalui aturan yang bersifat memaksa. Treasuride tidak mewajibkan pegawai untuk bersepeda. Sebaliknya, peserta diajak melalui mekanisme yang menyenangkan: pencatatan jarak tempuh, tantangan antarkomunitas, penghargaan, edukasi, hingga kampanye di media sosial.

Tanpa disadari, pendekatan tersebut menciptakan kebiasaan baru. Banyak peserta mulai menjadikan sepeda sebagai pilihan transportasi menuju kantor atau sarana berolahraga pada akhir pekan. Inilah yang oleh James Clear dalam Atomic Habits disebut sebagai perubahan besar yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Bagi saya, inilah wajah baru birokrasi. DJPb tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai pengelola APBN, tetapi pada saat yang sama juga membangun budaya hidup sehat, kepedulian lingkungan, dan semangat kolaborasi melalui keteladanan. Dengan kata lain, DJPb tidak hanya mengelola anggaran negara, tetapi juga menggerakkan perubahan sosial dalam lingkup yang lebih luas.

Setiap Kayuhan Adalah Investasi Sosial

Ada satu pengalaman sederhana selama mengikuti Treasuride yang justru mengubah cara pandang saya terhadap kegiatan ini.

Pada suatu akhir pekan, saya bersama rekan-rekan kantor mengikuti gowes bareng menuju kawasan Pantai Trikora. Setelah menempuh puluhan kilometer, kami berhenti sejenak di sebuah kedai kopi lokal untuk beristirahat. Bagi pesepeda, mampir ke warung atau kedai kopi bukan sekadar melepas lelah. Ada kenikmatan tersendiri menikmati secangkir kopi sambil berbincang tentang rute yang baru dilalui atau merencanakan tujuan berikutnya.

Di tengah suasana santai itu, saya justru mendapat pelajaran penting. Setiap peserta Treasuride yang mampir sebenarnya sedang membawa manfaat ekonomi, sekecil apa pun nilainya, bagi pelaku usaha di sekitar. Barangkali, inilah bentuk dukungan paling sederhana kepada UMKM: bukan melalui program yang rumit, melainkan melalui keputusan kecil tentang di mana kita berhenti, menikmati kopi, dan membelanjakan uang kita.

Saat itulah saya memahami mengapa penyelenggara tidak hanya mengajak peserta mencatat kilometer, tetapi juga mendorong mereka mengangkat UMKM melalui media sosial. Sepeda ternyata bukan sekadar sarana berolahraga, melainkan jembatan yang menghubungkan gaya hidup sehat dengan pemberdayaan ekonomi lokal.

Pengalaman tersebut mengingatkan pada konsep local multiplier effect dalam ekonomi regional. Nilai transaksi setiap peserta mungkin hanya puluhan ribu rupiah. Namun, ketika ratusan peserta melakukan hal yang sama di berbagai daerah selama penyelenggaraan Treasuride, akumulasi transaksi tersebut menciptakan permintaan baru bagi UMKM. Setiap cangkir kopi yang dibeli, setiap makanan yang dipesan, dan setiap unggahan di media sosial menjadi bentuk dukungan nyata terhadap usaha lokal.

Lebih dari itu, setiap kayuhan sepeda ternyata menghasilkan lebih dari satu manfaat. Ia menyehatkan tubuh, mengurangi emisi karbon, menggerakkan ekonomi lokal, sekaligus mempererat interaksi antarkomunitas. Sulit menemukan sebuah program yang mampu menghadirkan begitu banyak manfaat melalui aktivitas yang sesederhana bersepeda.

Dalam perspektif yang lebih luas, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa setiap kayuhan sepeda sesungguhnya merupakan investasi sosial. Investasinya memang tidak tercatat dalam neraca keuangan negara, tetapi manfaatnya nyata dan dirasakan oleh banyak pihak.

Pertama, dari sisi kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit setiap minggu untuk menjaga kesehatan jantung, mengurangi risiko penyakit tidak menular, serta meningkatkan kesehatan mental. Bersepeda menjadi salah satu bentuk aktivitas yang mudah dilakukan, murah, sekaligus ramah lingkungan. Ketika semakin banyak pegawai membiasakan diri bersepeda, manfaat yang dirasakan bukan hanya oleh individu, tetapi juga oleh organisasi melalui meningkatnya kebugaran, produktivitas, dan kualitas hidup pegawai.

Kedua, dari sisi lingkungan. Treasuride mengajak peserta menghitung carbon saving dari setiap perjalanan yang dilakukan dengan sepeda. Pesan ini sangat relevan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Upaya mengurangi emisi karbon sering kali dipersepsikan sebagai kebijakan besar yang membutuhkan investasi mahal. Padahal, perubahan sederhana dalam pilihan moda transportasi juga merupakan kontribusi nyata terhadap pengurangan emisi. Ketika ratusan peserta melakukan hal yang sama secara serentak, dampaknya tidak lagi bersifat individual, tetapi menjadi gerakan kolektif.

Ketiga, dari sisi ekonomi lokal. Tema Gowes Sehat, Dukung UMKM Kuat bukan sekadar pelengkap kompetisi. Tema tersebut mengandung pesan bahwa aktivitas olahraga pun dapat menjadi pengungkit ekonomi. Setiap peserta yang mampir ke warung makan, kedai kopi, atau toko kecil di sepanjang rute telah menciptakan permintaan bagi pelaku usaha setempat. Ketika pengalaman tersebut dibagikan melalui media sosial, manfaatnya tidak berhenti pada transaksi hari itu, tetapi juga menjadi promosi yang memperluas jangkauan pasar UMKM.

Keempat, dari sisi budaya organisasi. Selama ini ASN lebih sering dipandang sebagai pelaksana kebijakan. Melalui Treasuride, ASN justru ditempatkan sebagai agen perubahan (agent of change). Keteladanan menjadi instrumen utama. Ketika pegawai memilih bersepeda ke kantor, peduli terhadap lingkungan, dan mendukung usaha lokal, mereka sedang menunjukkan bahwa nilai-nilai pembangunan dapat dimulai dari perilaku sehari-hari. Inilah bentuk public value yang lahir bukan dari regulasi, melainkan dari keteladanan.

Keempat manfaat tersebut saling melengkapi. Mereka menunjukkan bahwa sebuah program sederhana dapat menghasilkan nilai publik yang jauh lebih besar daripada tujuan awalnya. Di sinilah terlihat bahwa Treasuride bukan hanya sebagai agenda olahraga tahunan, tetapi sebagai laboratorium kecil bagaimana birokrasi dapat membangun budaya yang sejalan dengan arah pembangunan nasional.

Agar Kayuhan Tidak Berhenti di Garis Finish

Tentu saja, tidak ada sebuah program yang sepenuhnya sempurna. Justru karena memiliki potensi besar, Treasuride perlu terus disempurnakan agar dampaknya semakin luas dan berkelanjutan.

Salah satu hal yang patut diapresiasi pada penyelenggaraan Treasuride 2026 adalah semakin seriusnya desain program yang dibangun. Kompetisi tidak lagi sekadar mengukur jarak tempuh, tetapi juga menghadirkan empat kategori yang saling melengkapi, yaitu kategori jarak individu, kategori tim, kategori saving carbon, dan kategori konten bertema "Gowes Sehat Dukung UMKM Kuat". Seluruh rangkaian tersebut berlangsung selama 45 hari, sejak 3 Juli hingga 16 Agustus 2026, dengan target minimal 250 kilometer bagi peserta kategori individu untuk memperoleh predikat finisher. Desain ini menunjukkan bahwa Treasuride telah berkembang dari sekadar kompetisi olahraga menjadi sebuah gerakan yang mengintegrasikan gaya hidup sehat, kepedulian lingkungan, serta pemberdayaan UMKM dalam satu ekosistem kegiatan.

Namun, dari perspektif ilmu olahraga dan perubahan perilaku, durasi yang lebih panjang juga menghadirkan tantangan baru. Berbagai penelitian mengenai exercise adherence menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam aktivitas fisik bukanlah mengajak seseorang mulai berolahraga, melainkan menjaga konsistensinya. Semakin panjang sebuah tantangan berlangsung, semakin besar peluang munculnya behavioral fatigue, yaitu menurunnya motivasi akibat kejenuhan. Pada sebagian peserta, terutama yang bukan atlet, keinginan mengejar target kilometer juga berpotensi mendorong latihan yang berlebihan tanpa pemulihan yang cukup.

Karena itu, menurut saya, keberhasilan Treasuride ke depan tidak hanya ditentukan oleh lamanya penyelenggaraan, tetapi juga oleh desain program yang mampu menjaga antusiasme peserta. Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah membagi rangkaian kegiatan menjadi beberapa mini challenge tematik, misalnya Bike to Work Week, Carbon Saving Week, UMKM Ride Week, atau Family Cycling Week. Pendekatan ini memberikan variasi aktivitas, ruang pemulihan yang memadai, sekaligus memperkuat pesan yang ingin dibangun pada setiap fase.

Lebih penting lagi, ukuran keberhasilan Treasuride seharusnya tidak berhenti pada total kilometer yang ditempuh atau jumlah emisi karbon yang berhasil dihemat. Ukuran yang jauh lebih bermakna adalah apakah para peserta tetap memilih bersepeda setelah kompetisi selesai, tetap mampir di kedai kopi lokal tanpa menunggu tantangan UMKM berikutnya, dan tetap menjadikan gaya hidup sehat sebagai bagian dari keseharian.

Di sinilah terlihat hubungan antara sepeda dan APBN menjadi semakin jelas. Selama ini DJPb membangun public value melalui pengelolaan APBN yang akuntabel dan penyaluran anggaran yang mendukung pendidikan, kesehatan, infrastruktur, serta perlindungan sosial. Treasuride memperlihatkan dimensi pelengkap yang tidak kalah penting: public value juga dapat dibangun melalui perubahan perilaku yang menginspirasi masyarakat.

Birokrasi modern ternyata tidak hanya bekerja melalui angka-angka dalam dokumen anggaran dan laporan keuangan, tetapi juga melalui contoh yang diberikan oleh orang-orang di dalamnya. Ketika pegawai menjadi teladan dalam menerapkan gaya hidup sehat, peduli lingkungan, dan mendukung ekonomi lokal, birokrasi sedang menjalankan fungsi yang lebih luas, yaitu membangun kepercayaan dan budaya.

Kini, pertanyaan di awal tulisan terasa lebih mudah dijawab. Hubungan antara sepeda dan APBN ternyata bukan terletak pada roda, rantai, atau kilometer yang ditempuh, melainkan pada nilai yang diciptakannya. APBN tetap menjadi instrumen utama negara dalam mewujudkan kesejahteraan. Namun, Treasuride mengingatkan bahwa kesejahteraan juga dibangun oleh kebiasaan-kebiasaan baik yang tumbuh di tengah masyarakat.

Mungkin beberapa tahun dari sekarang kita tidak lagi mengingat siapa yang menjadi juara Treasuride 2026. Namun akan jauh lebih bermakna jika yang tetap bertahan adalah kebiasaannya. Ketika semakin banyak pegawai memilih bersepeda ke kantor, semakin banyak masyarakat membeli produk UMKM lokal, dan semakin banyak orang menyadari bahwa setiap perjalanan tanpa kendaraan bermotor ikut menjaga bumi, saat itulah Treasuride telah melampaui statusnya sebagai sebuah agenda tahunan. Ia menjadi bukti bahwa DJPb tidak hanya mengelola APBN, tetapi juga ikut membangun public value melalui keteladanan. Sebab pada akhirnya, perubahan besar sering kali tidak dimulai dari kebijakan yang spektakuler, melainkan dari satu kayuhan sederhana yang mengajak banyak orang bergerak ke arah yang sama.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi.

Referensi

  1. Clear, J. (2018). Atomic Habits.
  2. Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Materi publikasi Treasuride 2026. https://djpb.kemenkeu.go.id/portal/id/berita/berita/nasional/4620-djpb-luncurkan-treasuride-2026-gowes-sehat,-kurangi-emisi,-sekaligus-dukung-umkm.html
  3. Moore, M. H. (1995). Creating Public Value: Strategic Management in Government.
  4. Portal resmi Treasuride 2026. https://treasuride.id/
  5. Porter, M. E., & Kramer, M. R. (2011). Creating Shared Value. Harvard Business Review.
  6. Thaler, R. H., & Sunstein, C. R. (2008). Nudge: Improving Decisions About Health, Wealth, and Happiness.
  7. World Health Organization. (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour.

 

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

 PENGADUAN

 

 

Search