
Oleh : Agus Rosidi, Kepala Seksi Bank
Pagi ini, saya mendapat disposisi tentang Surat Edaran KPK No. 16 Tahun 2025. Bukan dokumen yang berat sebenarnya untuk dicermati, tapi entah kenapa ada rasa tertentu yang menggugah. Mungkin karena tema Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) tahun ini---"Satukan Aksi Basmi Korupsi"---benar-benar pas dengan keadaan kita sekarang. Meski Hakordia puncaknya akan diperingati tanggal 9 Desember, namun dengan edaran itu seakan KPK sedang menepuk pundak kita sambil berkata, "Ayo, jangan diam. Ini waktu yang tepat untuk ikut bergerak."
Sambil menyeruput secangkir teh yang masih mengepulkan uap, saya tiba-tiba merenung: ternyata isu korupsi tidak pernah jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia tidak selalu berupa kasus besar di televisi; kadang ia hadir dalam bentuk yang halus, tapi dampaknya sangat nyata pada hidup kita.
Korupsi yang Diam-Diam Mencuri dari Kantong Kita
Kalau mendengar kata "korupsi", pikiran kita langsung melayang ke gedung-gedung megah tempat para pejabat berdasi. Padahal efek korupsi bisa terasa sampai ke ruang tamu hingga dapur rumah kita---meski kita tidak sadar.
Bayangkan sebuah jalan desa yang hanya bertahan tiga bulan sebelum aspalnya retak-retak. Orang mungkin hanya menyalahkan cuaca. Namun siapa sangka, bisa jadi anggarannya "dilemaskan" sedemikian rupa sehingga bahan bangunan yang dipakai jauh dari standar. Akibatnya, pedagang perlu tambahan biaya perawatan kendaraan, petani jadi sulit membawa hasil panennya, dan harga barang jadi ikut naik.
Atau lihat kondisi puskesmas yang peralatannya terbatas. Warga harus pergi ke kota hanya untuk pemeriksaan sederhana. Waktu habis di perjalanan, ongkos bertambah, dan tenaga terkuras. Semua ini bisa terjadi karena ada anggaran yang seharusnya untuk fasilitas, tapi tidak pernah sampai ke tempatnya.
Begitulah korupsi bekerja---dengan cara yang sering tak terlihat. Ia merugikan banyak orang, tetapi tanggungannya justru ditanggung oleh masyarakat biasa.
Pengelolaan Keuangan Negara: Benteng Pertama yang Menentukan
Di balik pemerintahan yang besar, ada sistem keuangan negara yang rumit namun luar biasa penting. Ribuan triliun rupiah harus direncanakan, dicairkan, dipertanggungjawabkan, dan dilaporkan setiap tahun. Dan prosesnya tidak lagi manual---kini semuanya semakin digital.
Digitalisasi pengelolaan negara antara lain ada e-procurement, SAKTI dan SPAN.Sistem-sistem ini ibarat pagar besi yang mengelilingi rumah bangsa. Ia dibuat untuk menjaga agar uang negara tidak jatuh ke tangan yang salah. Tapi pagar yang kuat tetap bisa ditembus jika ada penjaga yang lengah.
Karena pada akhirnya, integritas manusialah yang jadi kunci. Seorang PPK yang menolak gratifikasi, seorang bendahara yang teliti pada setiap angka, seorang auditor yang tidak kompromi---mereka semua adalah "penjaga moral" yang membuat sistem bekerja sebagaimana mestinya. Tanpa mereka, teknologi hanya akan menjadi alat tanpa roh.
Kenapa "Satukan Aksi" Itu Tidak Bisa Ditawar?
Korupsi tidak pernah diam di satu tempat. Ia pandai berkamuflase. Jika dulu ia hadir dalam bentuk amplop cokelat, kini ia bisa berupa rekayasa perjalanan dinas, manipulasi laporan, atau bahkan jalur "fee proyek" berlapis yang sulit dilacak.
Dan karena korupsi punya banyak wajah, tidak mungkin upaya pemberantasannya dijalankan oleh satu pihak saja.
- Penegak hukum membutuhkan sinyal dari masyarakat dan instansi pemerintah.
- Instansi pemerintah membutuhkan sistem yang kuat dan SDM yang berintegritas.
- Media perlu ruang untuk mengabarkan temuan tanpa intimidasi.
- Warga harus berani melapor bila melihat yang janggal.
- Generasi muda perlu membawa budaya baru: budaya jujur sebagai standar hidup.
Semua elemen ini seperti bagian-bagian tubuh. Jika bergerak sendiri-sendiri, hasilnya lemah. Tapi kalau bergerak bersama, ia menjadi kekuatan yang tidak mudah dilawan.
Inilah makna "satukan aksi" yang sebenarnya: bukan sekadar kampanye, tapi kerja kolektif untuk meminimalkan ruang gerak korupsi dari segala sisi.
Indonesia Bisa Jauh Lebih Sejahtera Jika Uang Negara Tidak Bocor
Kadang kita tidak menyadari betapa besarnya dampak yang bisa dirasakan jika negara bebas dari kebocoran anggaran. Pikirkan sejenak: Jika anggaran pembangunan tidak disunat, sekolah-sekolah bisa memiliki ruang kelas yang nyaman, guru yang cukup, fasilitas belajar yang layak.
Jika anggaran kesehatan tidak diselewengkan, puskesmas bisa punya peralatan lengkap dan ruang yang memadai.
Jika dana desa dikelola tanpa permainan, jalan-jalan desa bisa benar-benar mempercepat akses dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal.
Semua ini bukan mimpi.Ini kenyataan yang sangat mungkin terjadi---asal uang yang seharusnya milik rakyat betul-betul sampai ke rakyat.Korupsi tidak sekadar mencuri uang negara. Ia mencuri hal yang jauh lebih penting: kesempatan rakyat untuk hidup lebih baik.
Aksi Kecil yang Bisa Membuat Perubahan Besar
Perang melawan korupsi tidak selalu harus dimulai dari kantor besar atau ruang sidang megah. Ia bisa dimulai dari langkah sederhana di sekitar kita.
- Menolak memberikan uang pelicin saat mengurus layanan publik.
- Tidak menerima bingkisan sebagai "tanda terima kasih".
- Mengelola anggaran kantor secara transparan.
- Melaporkan jika melihat penyimpangan.
- Turut mengawasi proyek pembangunan di lingkungan tempat tinggal.
Aksi-aksi kecil ini ibarat tetesan air. Jika dilakukan oleh banyak orang, ia bisa menjadi sungai besar yang membersihkan aliran budaya korupsi yang sudah lama mengendap. Dan yang paling penting: gerakan ini bisa diwariskan. Dari generasi ke generasi.
Tahun 2025 Bisa Menjadi Titik Balik Jika Kita Bergerak Bersama
Surat Edaran KPK yang saya baca pagi ini terasa seperti panggilan: "Jangan biarkan masa depan bangsa dicuri." Dan benar, korupsi terlalu mahal harganya untuk dibiarkan. Ia bukan hanya masalah hukum, tapi masalah masa depan.
Tahun 2025 ini adalah kesempatan kita untuk membuat halaman baru dalam sejarah Indonesia---halaman yang berisi kerja kolaboratif, kesadaran kolektif, dan sikap berani menjaga uang negara. Karena kesejahteraan hanya bisa tumbuh di tanah yang bersih dari korupsi. Dan Indonesia pantas mendapatkan itu.
Mari satukan aksi.
Mari basmi korupsi.
Mulai dari diri sendiri, mulai dari hari ini.

