Bio Gas sebagai Salah Satu Alternatif Ketahanan Energi Indonesia

Ketahanan energi merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Energi menjadi kebutuhan utama dalam berbagai aktivitas kehidupan, mulai dari memasak, transportasi, industri, hingga pembangkit listrik. Selama bertahun-tahun, pemerintah Indonesia melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk subsidi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM) dan LPG 3 kilogram. Kebijakan subsidi energi ini bertujuan untuk memastikan masyarakat tetap dapat mengakses energi dengan harga terjangkau.
Namun demikian, besarnya anggaran subsidi energi dari tahun ke tahun menunjukkan adanya tantangan besar bagi keberlanjutan fiskal negara. Pada tahun 2021 subsidi energi mencapai Rp140,4 triliun. Angka tersebut meningkat menjadi Rp171,9 triliun pada tahun 2022. Pada tahun 2023 subsidi energi tercatat sebesar Rp164,3 triliun, kemudian meningkat kembali pada tahun 2024 menjadi Rp177,6 triliun. Bahkan pada tahun 2025 pemerintah mengalokasikan subsidi energi sebesar Rp281,6 triliun dan pada tahun 2026 meningkat drastis menjadi Rp381,3 triliun.
Besarnya alokasi subsidi energi tersebut menunjukkan bahwa negara harus menanggung beban yang sangat besar demi menjaga keterjangkauan energi masyarakat. Subsidi energi memang merupakan bentuk intervensi pemerintah untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat memperoleh akses energi yang adil dan terjangkau. Akan tetapi, di tengah keterbatasan anggaran negara, pemerintah perlu mencari solusi jangka panjang agar masyarakat tidak terus bergantung pada subsidi energi. Ketahanan energi masyarakat harus dibangun melalui pemanfaatan sumber energi alternatif yang murah, ramah lingkungan, dan tersedia melimpah di Indonesia.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar untuk mendukung ketahanan energi nasional. Selain minyak dan gas bumi, Indonesia memiliki potensi energi dari tenaga air, sinar matahari, angin, panas bumi, dan biomassa. Salah satu sumber energi alternatif yang memiliki potensi besar tetapi belum dimanfaatkan secara optimal adalah biogas.
Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan organik oleh bakteri dalam kondisi tanpa oksigen atau anaerobik. Bahan organik yang digunakan dapat berasal dari kotoran hewan, limbah pertanian, sisa makanan, rumput, eceng gondok, maupun limbah rumah tangga lainnya. Gas yang dihasilkan sebagian besar terdiri dari metana dan karbon dioksida. Kandungan metana inilah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak, pembangkit listrik, bahkan bahan bakar kendaraan tertentu.
Pemanfaatan biogas sebenarnya sangat sesuai dengan kondisi geografis dan sosial Indonesia. Sebagian besar wilayah Indonesia memiliki sektor pertanian dan peternakan yang cukup besar sehingga menghasilkan limbah organik dalam jumlah melimpah. Di pedesaan, sumber biogas sangat mudah ditemukan melalui limbah peternakan seperti kotoran sapi, kambing, ayam, maupun limbah pertanian seperti jerami dan sisa tanaman. Sementara itu, di perkotaan, sumber biogas dapat berasal dari limbah dapur, sisa makanan, sampah organik pasar, hingga kotoran manusia.
Jika dikelola dengan baik, seluruh limbah tersebut dapat diubah menjadi sumber energi yang bermanfaat. Selama ini limbah organik sering dianggap sebagai masalah lingkungan karena menimbulkan bau, mencemari air, dan menghasilkan gas rumah kaca. Padahal, melalui teknologi biogas, limbah tersebut dapat diolah menjadi energi bersih yang membantu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap LPG bersubsidi.
Proses pembuatan biogas pada dasarnya relatif sederhana dan dapat diterapkan di masyarakat. Tahapan pertama adalah pengumpulan limbah organik seperti kotoran ternak atau sisa makanan. Limbah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah tertutup yang disebut biodigester. Di dalam biodigester, bakteri akan menguraikan bahan organik tanpa kehadiran oksigen melalui proses fermentasi anaerobik. Dari proses tersebut akan dihasilkan gas metana yang kemudian ditampung dan dialirkan melalui pipa untuk digunakan sebagai bahan bakar.
Karakteristik api yang dihasilkan dari biogas cenderung berwarna biru dan bersih, mirip dengan nyala api pada kompor gas konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa biogas memiliki kualitas pembakaran yang cukup baik untuk kebutuhan rumah tangga. Selain digunakan untuk memasak, biogas juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik skala kecil menggunakan generator sederhana.
Pemanfaatan biogas memberikan banyak manfaat, baik dari sisi ekonomi, lingkungan, maupun sosial. Dari sisi energi, biogas merupakan sumber energi terbarukan yang dapat menjadi pengganti LPG dan minyak tanah. Masyarakat yang memiliki instalasi biogas tidak perlu lagi membeli LPG secara rutin sehingga dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga. Jika pemanfaatannya semakin luas, kebutuhan subsidi LPG dari pemerintah juga dapat berkurang secara bertahap.
Dari sisi lingkungan, biogas membantu mengurangi pencemaran akibat limbah organik. Kotoran hewan dan sampah organik yang sebelumnya menimbulkan bau dan mencemari lingkungan dapat diolah menjadi energi yang bermanfaat. Selain itu, pengolahan biogas juga membantu mengurangi emisi gas rumah kaca karena gas metana yang dihasilkan limbah tidak langsung terlepas ke atmosfer.
Manfaat lainnya adalah hasil sisa pengolahan biogas dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Setelah proses fermentasi selesai, limbah padat dan cair yang tersisa masih mengandung unsur hara yang sangat baik untuk tanaman. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh energi tetapi juga pupuk organik yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Hal ini sangat menguntungkan bagi masyarakat pedesaan yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian.
Melihat potensi yang sangat besar tersebut, pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk mendorong pemanfaatan biogas secara lebih luas. Dukungan kebijakan sangat penting agar masyarakat memiliki motivasi dan kemampuan dalam membangun instalasi biogas. Salah satu kebijakan yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan program pengembangan biogas dengan penggunaan dana desa.
Penggunaan dana desa pada tahun 2026 memang difokuskan untuk mendukung energi bersih dan pembangunan infrastruktur melalui program Listrik Desa (Lisdes), jaringan gas, serta penguatan ketahanan iklim. Kebijakan ini sangat relevan untuk mendukung pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat seperti biogas dan energi surya.
Dana desa dapat digunakan untuk membangun instalasi biodigester komunal maupun rumah tangga. Desa-desa yang memiliki populasi ternak tinggi sangat potensial untuk menjadi desa mandiri energi berbasis biogas. Pemerintah desa dapat bekerja sama dengan kelompok tani, peternak, dan masyarakat untuk membangun sistem pengolahan limbah menjadi energi. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.
Beberapa poin penting penggunaan dana desa untuk sektor energi antara lain pembangunan infrastruktur energi, pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat, serta dukungan terhadap program Desa Energi Berdikari (DEB). Program ini bertujuan menciptakan desa mandiri energi yang mampu memanfaatkan potensi sumber daya lokal untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat.
Melalui program tersebut, desa tidak hanya menjadi konsumen energi tetapi juga menjadi produsen energi. Biogas dapat digunakan untuk mendukung aktivitas pertanian, usaha kecil, peternakan, hingga kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Bahkan, jika dikelola dengan baik, biogas dapat menjadi sumber ekonomi baru melalui penjualan pupuk organik atau pengembangan wisata edukasi energi terbarukan.
Pengembangan biogas juga sangat mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. Saat ini dunia menghadapi tantangan besar akibat pemanasan global dan peningkatan emisi karbon. Penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara menjadi salah satu penyebab utama perubahan iklim. Oleh karena itu, pemanfaatan energi terbarukan seperti biogas menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Selain itu, pemanfaatan biogas memiliki manfaat besar terhadap kelestarian lingkungan, khususnya waduk dan sungai. Selama ini salah satu permasalahan utama waduk dan sungai di Indonesia adalah sedimentasi dan pencemaran air. Pertumbuhan eceng gondok yang sangat cepat sering menyebabkan pendangkalan waduk dan mengganggu ekosistem perairan. Di sisi lain, limbah peternakan dan limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai menyebabkan pencemaran air dan menurunkan kualitas lingkungan.
Pemanfaatan biomassa seperti eceng gondok, rumput, dan limbah peternakan sebagai bahan baku biogas dapat memberikan manfaat ganda. Pertama, lingkungan menjadi lebih bersih karena limbah organik tidak dibuang sembarangan. Kedua, masyarakat memperoleh sumber energi alternatif yang murah dan berkelanjutan.
Eceng gondok yang selama ini dianggap sebagai gulma pengganggu sebenarnya memiliki potensi besar sebagai bahan baku biogas. Tanaman ini tumbuh sangat cepat di waduk dan sungai sehingga sering menyebabkan masalah lingkungan. Dengan mengolah eceng gondok menjadi biogas, pemerintah dan masyarakat dapat sekaligus membersihkan perairan dan menghasilkan energi.
Demikian pula dengan limbah peternakan. Banyak peternakan tradisional di Indonesia yang belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang baik. Akibatnya, limbah ternak mencemari lingkungan sekitar dan menimbulkan bau tidak sedap. Jika limbah tersebut diolah menjadi biogas, maka permasalahan lingkungan dapat dikurangi sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi peternak.
Keberhasilan pengembangan biogas tentu memerlukan dukungan berbagai pihak. Pemerintah pusat perlu menyediakan regulasi dan insentif yang mendukung pengembangan energi terbarukan. Pemerintah daerah dapat memberikan pendampingan teknis dan pelatihan kepada masyarakat. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat membantu mengembangkan teknologi biogas yang lebih murah dan efisien. Sementara itu, masyarakat perlu memiliki kesadaran dan semangat untuk memanfaatkan sumber daya lokal secara bijaksana.
Edukasi kepada masyarakat juga menjadi hal yang sangat penting. Banyak masyarakat yang belum memahami manfaat dan cara kerja biogas. Sebagian masyarakat masih menganggap limbah sebagai sesuatu yang tidak berguna. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi dan contoh nyata agar masyarakat percaya bahwa biogas benar-benar dapat membantu memenuhi kebutuhan energi mereka.
Jika pengembangan biogas dilakukan secara masif dan terencana, maka Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun ketahanan energi berbasis masyarakat. Ketahanan energi tidak lagi hanya bergantung pada pasokan BBM dan LPG dari pemerintah, tetapi juga berasal dari kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di sekitarnya.
Indonesia memiliki semua syarat untuk menjadi negara yang mandiri energi. Alam Indonesia sangat kaya akan sumber daya biomassa. Jumlah penduduk yang besar juga menghasilkan limbah organik dalam jumlah melimpah yang sebenarnya dapat dimanfaatkan menjadi energi. Tantangan utamanya adalah bagaimana mengubah pola pikir masyarakat dan memperkuat dukungan kebijakan pemerintah agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
Pada akhirnya, biogas bukan hanya sekadar alternatif energi, tetapi juga solusi untuk berbagai persoalan sekaligus. Biogas membantu mengurangi beban subsidi energi pemerintah, meningkatkan ketahanan energi masyarakat, mengurangi pencemaran lingkungan, mendukung pertanian organik, serta membantu mitigasi perubahan iklim. Dengan pengelolaan yang tepat, biogas dapat menjadi salah satu pilar penting dalam pembangunan berkelanjutan Indonesia.
Kesimpulannya, biogas sebagai salah satu energi terbarukan merupakan alternatif yang sangat potensial dalam mendukung ketahanan energi masyarakat Indonesia. Alam Indonesia memiliki sumber bahan baku biogas yang sangat berlimpah, baik dari limbah peternakan, limbah rumah tangga, limbah pertanian, maupun biomassa seperti eceng gondok dan rumput. Dukungan pemerintah melalui kebijakan penggunaan dana desa dan pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat akan menjadi faktor penting dalam mempercepat pemanfaatan biogas. Dengan semangat masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ramah lingkungan, Indonesia dapat mewujudkan ketahanan energi yang mandiri, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat.
Opini By – Budi Lesmana – KPPN Garut






