Istilah ruh telah sering kita dengar dalam dunia pewayangan atau agama, kita ambil contoh di dunia pewayangan versi pagelaran Jawa Sang Kresna adalalah titisan Hyang Wisnu
artinya ruh nya telah menjadi satu dalam badan “wadhag (Jawa)” ke dalam tubuh Sang Kresna, telah diakui tentang kehebatan, keahlian Sang Kresna dia adalah ahli dalam segala hal menghancurkan kebatilan diatas sendi kebenaran, ini artinya peran serta ruh Hyang Wisnu itulah yang membuat Sang Kresna sangat berperan dalam pengabdiannya dalam menegakkan kebenaran.
Didalam agama Islam diyakini bahwa ruh adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberadaan asal-usul manusia yang diawali dari proses kejadian manusia yaitu dari segumpal darah, dan setelah melewati beberapa tahapan dan sempurna kejadiannya dihembuskan-Nyalah kepada ruh ciptaan Tuhan, hal demikian ruh menjadi faktor penting bagi aktivitas manusia dalam pengabdiannya selama hidup di dunia.
Sebagai insan Perbendaharaan kita pu harus meyakini bahwa Nilai-Nilai Kementerian Keuangan adalah satu-satunya Ruh Dalam Pengabdian sebagaimana dalam slogan yang selalu terpasang di lingkungan institusi kita yakni Mengawal APBN, Membangun Negeri. Kita tau bahwa kita adalah pemain dan penjaga gawang APBN, tanpa adanya pengawalan ketat yang terjadi adalah bola liar yang akan menggerogiti pundi-pundi keuangan negeri. Berapa milyar rupiah kita hanyut akibat derasnya banjir bandang korupsi yang dilakukan oleh anak negeri yang tidak menjujung tinggi kejujuran dan kebenaran yang hanya mengedepankan nafsu-nafsu hewani. Untuk itulah mari kita berusaha menyimak, memahami dan mengamalkan satu demi satu makna dan kandungan Nilai-Nilai Kementerian Keuangan.
Pertama adalah Integritas, yang mengandung pengertian berpikir, berkata,berprilaku dan bertindak dengan baik dan benar serta memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral. Adapun Integritas memiliki prilaku utama yakni : a. Bersikap jujur, tulus dan dapat dipercaya; b. Menjaga martabat dan tidak melakukan hal-hal tercela. Kata kunci dari pada nilai integritas adalah kejujuran yang merupakan pangkal kebenaran untuk menuju keselamatan. Kita ambil misal yang sederhana saja dengan mengolah dan membuat laporan keuangan dengan jujur, terukur tidak ada upaya pemalsuan data, atau indikasi merekayasa data dukung, maka yang diperoleh adalah beban pikiran terasa ringan yang berujung pada keselamatan baik dari pemeriksaan internal maupun eksternal.
Sebagai muslim, penulis percaya betul bahwa kejujuran dapat menghantarkan kehidupan ke surga yang dijanjikan. Allah berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 119:
ياايهااللذين امنوااتقواالله وكونوامع الصادقين (
Artinya: “ hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Q. S. At Taubah: 119) dalam ayat lain Allah berfirman
انمايفترى الكذب الذين لايؤمنون بئايت الله واولئك هم الكذبون
Artinya: “ Sesungguhnya yang mengadakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat allah, dan mereka itulah pembohong.” ( Q. S. An Nahl: 105)
sebagaimana diperjelas dalam sebuah hadis Rasulullah :
عَنْ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ, فَاِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي اِلَى البِرَّ, وَ البِرُّ يَهْدِ اِلى الجَنَّةِ, وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عَنْدَاللهِ صِدِّيْقًا, وَاِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ, فَاِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي اِلَى الفُجُوَرِ وِ الفُجُوْرُيَهْدِى اِلَى النَّارِ, وَمَايَزَالُ العَبْدُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الكَذَبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَاللهْ كَذَّابًا. البخارى و مسلم و ابو داود و الترمذى و صححه و اللفظ له
Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: “ Rasulullah saw. bersabda, Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena jujur membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke surga. Dan apabila seseorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseoarang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta ( pembohong)”. ( HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kita pegang teguh kejujuran dan kebenaran sebagai perwujudan Integritas yang merupakan modal serta landasan pokok dalam mengabdi dan berkarya dalam lingkup Direktorat Jenderal Perbendaharaan tempat berteduh kita beserta keluarga. (Onggo Dito...............bersambung)



