FENOMENA QUIET QUITTING DI DUNIA KERJA
Akhir-akhir ini, beberapa dari kita sering mendengar istilah quiet quitting. Bahkan quiet quitting sudah menjadi fenomena baru di lingkungan kerja yang cenderung melekat pada generasi muda. Sebelum muncul fenomena quiet quitting, kita pernah mendengar juga istilah hustle culture. Hustle culture merupakan keadaan bekerja terlalu keras dan mendorong diri sendiri untuk melampaui batas kemampuan atau yang kita kenal juga dengan istilah workaholism atau tiiada hari tanpa bekerja. Berbeda dengan hustle culture, maka quiet quitting merupakan suatu sikap yang membatasi kontribusi dalam memenuhi kewajiban kerja sesuai porsinya atau bekerja apa adanya.
Penyebab seorang pegawai bekerja apa adanya yaitu dari lingkungan kerja, rekan kerja dan diri sendiri. Pegawai merasa kurang mendapat apresiasi, beban kerja yang terlalu tinggi, dan adanya pergelokan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi.
Dari sisi organisasi, tipe pegawai seperti ini akan berdampak kepada penurunan produktivitas kerja, menghambat kreatifitas dan inovasi serta dapat mengganggu semangat tim kerja. Untuk mengetahui apakah seorang pegawai sedang mengalami fenomena quite quiting, beberapa ciri yang dapat dilihat adalah sebagai berikut :
- Kurangnya inisiatif dalam pekerjaan, biasanya seseorang tidak lagi mengambil risiko atau mencoba hal-hal baru untuk meningkatkan kinerja.
- Kurangnya keterlibatan/partisipasi dalam pertemuan tim.
- Pulang kerja tepat waktu dan menghindari
- Bekerja sesuai porsinya.
- Perubahan sikap dan perilaku yang semula antusias dan bersemangat menjadi tidak responsive terhadap tugas-tugas yang diberikan
Lalu, bagaimana kita tidak terjebak dalam perilaku quiet quitting? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu
- Peningkatan kolaborasi dalam bekerja,
- Membangun budaya kerja positif melalui budaya kerja yang memungkinkan kita untuk bekerja dan bersenang-senang seperti komunikasi terbuka, suasana seru, penghargaan, motivasi, dll
- Meningkatkan budaya kerja organisasi
- Menciptakan a sense of purpose yaitu motivasi bahwa bekerja bukan hanya sekedar untuk mendapatkan gaji.
Masih banyak cara lain untuk menghindari seseorang terjebak dalam kondisi quite quitting. Intinya adalah komunikasi antara anggota tim. Melalui komunikasi yang terbuka, memberikan kesempatan bagi masing-masing anggota tim untuk menyampaikan pendapat, masukan, bahkan keluh kesah dalam menjalankan pekerjaan yang bisa jadi menurutnya tidak seimbang. Melalui komunikasi, akan mendapatkan banyak masukan perbaikan bagi keberlanjutan pencapaian tujuan organisasi.
Oleh : Ikasari Heniyatun *
*) Kepala KPPN Solok
Catatan :
Artikel di atas merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili pandangan instansi dimana Penulis bekerja
#Kemenkeusatu
#DJPbHAnDAL
#InTress
#KPPNSolok
#RANCAK







