Ayah memang bukan orang yang melahirkan seorang anak sehingga derajatnya tidak semulia seorang Ibu, tetapi Ayah-lah yang berkewajiban mencari nafkah untuk mencukupi segala kebutuhan keluarganya. Ayah merupakan profesi istimewa karena tidak setiap pria ditakdirkan menjadi seorang ayah, dan tidak pula setiap ayah bisa menjadi inspirasi yang membanggakan anak-anak dan keluarganya. Banyak harapan terhadap anak tertumpah kepada setumpuk kriteria mulia yaitu anak yang sholeh, pintar, rajin dan mandiri atau bahkan menjadi anak yang hebat. Tak ada yang salah dengan sederet harapan tersebut, namun pada umumnya, kita semua tidak tahu harus bagaimana mendidik anak agar memenuhi kriteria dan harapan itu. Dan juga tidak mengerti bagaimana menjadi seorang ayah yang pantas mengantarkan anak-anak sehebat itu.
Persoalannya adalah bahwa tidak ada sekolah atau institusi yang mengajarkan bagaimana piawai menjadi seorang ayah. Ayah yang peduli dan berempati membangun visi dan masa depan anak-anaknya, yang piawai berbicara dengan anaknya, menjalin pertemuan dengan anak-anaknya dalam frekuensi dan kualitas pertemuan yang menyenangkan.
Dalam kenyataannya, kita pernah punya ayah-ayah hebat yang telah mengantarkan keberhasilan kita sekarang ini, yang menanggung semua beban dengan ikhlas, menaruh harapan yang tinggi dan tidak lupa mengiringinya dengan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar kelak menjadi orang yang berguna serta “mikul dhuwur mendhem jero terhadap keluarga”. Peribahasa Jawa ini mengajarkan kita agar mampu menjunjung tinggi harkat, derajat dan martabat orang tua, tidak membuat aib dan cela serta harus bisa menghargai dan menghormati orang tua. Tidak hanya orang tua dalam arti sempit namun juga dalam arti yang lebih luas, yakni orang yang lebih tua, pemimpin dan tokoh masyarakat. Pertanyaannya, mampukah kita mengulang sukses menjadi seorang Ayah yang hebat untuk anak-anak kita?
Jaman telah berubah, terlebih lagi kehidupan anak-anak pada era milenial, demikian juga konsep dan model pendidikan. Ketika ilmu semakin maju dan berkembang, orang tua semakin sibuk dan tidak mempunyai waktu serta kompetensi ilmu yang memadai untuk mengajar anak-anaknya. Banyak lahir berbagai lembaga penitipan pendidikan anak, formal maupun non-formal, seperti sekolah, madrasah, pesantren maupun sekolah-sekolah agama.
Walaupun pengajaran bisa dialihperankan ke sekolah atau yang lain, tetapi tanggung jawab pendidikan tidak serta merta beralih kepada guru atau tenaga pendidik. Semua tetap bertumpu pada kedua orang tua di rumah. Tidak bisa dialihkan dan tidak bisa dipindahtangankan, meskipun orang tua sudah merasa membayar lebih/mahal ke sekolah.
Terlebih lagi saat pandemi Covid-19 ini merebak, sebagian besar Insan Perbendaharaan yang sekaligus sebagai seorang Ayah tentunya mempunyai permasalahan yang sama dalam memaksimalkan peranannya dalam keluarga, khususnya yang berkaitan dengan intensitas pertemuan dengan keluarga/anak-anaknya dalam frekuensi dan kualitas interaksi yang efektif. Sedikit atau banyak, ini merupakan dampak dari pola mutasi pegawai yang diterapkan, tetapi kita sangat menyadari bahwa kebijakan tersebut dijalankan dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Dan setidaknya itu sudah menjadi pilihan ataupun takdir kita. Jadi tidak perlu kita sesali dan tidak perlu menggerutu sehingga menyebabkan hasil kerja yang kurang maksimal.
Sehubungan dengan hal tersebut, realitas yang harus dihadapi pada umumnya adalah setiap saat terus berupaya mencari formula, resep yang pas, jurus atau apalah namanya agar tetap bisa memaksimalkan peranannya. Inilah sebenarnya beban berat yang harus kita emban, menjalankan peran seorang Ayah dalam keluarga, disela-sela kesibukan menunaikan tugas pekerjaan dalam keseharian. Saya yakin kita mempunyai metode ataupun cara yang berbeda dalam menjalani semua ini tetapi tujuannya adalah sama. Hal ini tentunya sangat dipengaruhi oleh komitmen awal saat terjalinnya ikatan kedalam sebuah perkawinan, spiritual, pendidikan dan budaya yang terbentuk dalam keluarga seiring berjalannya waktu.
Apalagi dalam kenyataannya, pada jaman sekarang tata keluarga mulai bergeser dari fitrahnya. Seolah-olah ada kesepakatan tidak tertulis bahwa Ayah mengkhususkan diri mencari uang, sementara Ibu mendidik anak. “Maafkan Ayahmu ya Nak, kalau sekiranya Ayahmu termasuk lalai karena sedikit sekali berperan dalam mendidikmu”. Kesepakatan ini bisa jadi karena semakin beratnya kompetisi dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga memaksa Ayah pergi pagi pulang malam, demi tugas dan amanah yang harus diemban.
Memang tidak mudah menemukan pola kepemimpinan keluarga yang dinamis dan selaras-seimbang. Perlu sinkronisasi dan penyesuaian secara berkelanjutan seiring berjalannya waktu. Sekalipun saya bekerja dan istri “bekerja” di rumah, belum pernah sekalipun saya memisahkan peran secara khusus dan pasrah segalanya pada istri untuk mengurus seluruh urusan rumah tangga. Tak terkecuali dalam urusan mendidik anak.
Mengenai kewajiban Ayah yang bekerja, terlebih kita yang sering terpisah dengan keluarga karena sering pindah-pindah, tidak kemudian membatalkan kewajiban dalam memperhatikan pendidikan dan aktivitas putra-putri kita, sekalipun tenggat waktu dan kesempatan bertatap muka dengan mereka sangat terbatas. Sebagai seorang Ayah yang memiliki ruang waktu terbatas, satu hal yang senantiasa saya jaga yaitu komunikasi. Untuk anak-anak-ku, “Taati dan patuhilah Ibu-mu (Jangan membuat hatinya bersedih, buatlah Ibu-mu tersenyum dengan apa saja yang sekiranya bisa diperbuat, walaupun Engkau tidak memberinya piala, rangking, ataupun prestasi yang membuat decak kagum banyak orang), taati dan hormati Guru-Gurumu, hargai dan sayangi kawan-kawanmu, berusahalah mandiri, rajinlah menuntut ilmu dan selalu berprasangka baiklah kepada Tuhan-mu. Teruslah berusaha sekuat tenaga untuk menggapai cita-citamu Nak, tapi jangan lupa Engkau iringi dengan doa dan sandarkan semuanya kepada Sang Pencipta. Yang penting perjuangannya, soal berhasil atau tidak adalah urusan nanti.
Dan teruntuk Istriku, “Janganlah sekali-kali keluar kata-kata kasar, umpatan/makian atau bahkan lebih lagi laknat baik yang langsung terucap maupun dalam hati yang Engkau tujukan terhadap anak-anak, meskipun mungkin kelakuan, tabiat anak-anak kita sering tidak berkenan di hatimu, dan bisa juga karena rasa penatmu yang berlebihan karena harus sendirian mengurus segala keperluan rumah setiap harinya. Sebab apa pun yang terucap maupun tidak dari-mu merupakan sebuah doa, sedangkan doa seorang Ibu adalah sangat dekat dengan Tuhan”.
Demikianlah, ungkapan atau boleh disebut sebagai kegalauan hati seorang Ayah yang berupaya memaksimalkan perannya dalam sebuah keluarga. Sebab peran sebagai pendidik merupakan tanggung jawab bersama, suami dan istri. Tanpa memandang waktu dan tempat. Tanpa melihat siapa yang bekerja mencari nafkah dan siapa yang di rumah. Kita sebagai ayah yang berkerja tidak bisa serta merta menyerahkan sepenuhnya seluruh tanggung jawab rumah tangga kepada istri.
Marilah kita terus mencoba dan berusaha agar tidak menjadi ayah yang gagal dalam menjalankan peran sebagai seorang Ayah bagi anak-anak kita. Bukan karena kita tidak menginginkan peran tersebut, tetapi terlebih karena ketidaktahuan akan peran penting itu dan bagaimana memulainya. Disamping untuk instropeksi diri, paparan yang sederhana ini, juga saya harapkan mampu menjadi refleksi, bukan saja bagi calon ayah tapi juga mereka yang sudah terlanjur jadi ayah namun lalai karena sibuk dalam aktivitas keseharian.
Semoga kita semua mampu dan bisa mengulang sukses menjadi seorang Ayah, atau bahkan melebihinya, sebagaimana Ayah-Ayah hebat yang telah menjalankan peranannya dengan sangat membanggakan sehingga kita bisa seperti ini.
IDENTITAS PENULIS
Nama: Pudjiono Slamet
Unit kerja: KPPN Tobelo
Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi

