Menakar Potensi Budidaya Nila/Tilapia Berbasis Desa Devisa di Bangka Belitung
Pendahuluan
Ekonomi biru adalah konsep pembangunan berkelanjutan yang memanfaatkan sumber daya laut dan perairan untuk pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan tetap menjaga kesehatan ekosistem. Ini mencakup berbagai sektor seperti perikanan, energi terbarukan laut, pariwisata bahari, transportasi laut, dan pengelolaan limbah, dengan penekanan pada praktik yang ramah lingkungan. Ekonomi Biru tidak berfokus semata laut, dan juga tidak berfokus semata ekonomi.
Pengertian Ekonomi Biru
UU Nomor 32/2014 tentang Kelautan, Pasal 14, Ayat 1 mencantumkan: Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya menyelenggarakan Pengelolaan Kelautan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat melalui pemanfaatan dan pengusahaan sumber daya laut dengan menerapkan prinsip ekonomi biru.
Penjelasan Pasal 14, Ayat 1: Ekonomi biru adalah pendekatan untuk meningkatkan pengelolaan kelautan yang berkelanjutan dan konservasi sumber daya laut dan pesisir dan ekosistemnya untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi dengan melibatkan masyarakat, efisiensi sumber daya, meminimalkan limbah, dan pendapatan ganda.
Ekonomi Biru berdasarkan definisi The World Bank: Penggunaan sumber daya laut yang berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi, peningkatan mata pencaharian, dan pekerjaan sambil menjaga kesehatan ekosistem laut, mencakup berbagai sektor terkait laut seperti perikanan, energi terbarukan, pariwisata, transportasi laut, pengelolaan limbah, dan mitigasi perubahan iklim. Pengelolaan secara berkelanjutan dapat memberikan kontribusi bagi kemakmuran ekonomi.
(Indonesia Blue Economy Roadmap, Kementerian PPN/Bapenas)
Ekonomi Biru menjadi bagian dari SDGs yang disepakati oleh negara-negara anggota PBB. SDGs adalah singkatan dari Sustainable Development Goals atau dalam bahasa Indonesia diartikan menjadi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. SDGs adalah cetak biru bersama yang diadopsi semua negara anggota PBB untuk perdamaian dan kemakmuran bagi manusia dan planet Bumi.
Kerangka Penerapan Ekonomi Biru Indonesia
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Bappenas menyusun Indonesian Blue Economy Index (IBEI). IBEI dikembangkan dengan dukungan ARISE+ Indonesia pada tahun 2022, dengan tujuan menyediakan alat pemantauan untuk mengukur kemajuan implementasi ekonomi biru di berbagai daerah di Indonesia. IBEI mencakup tiga pilar SDGs, yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial. IBEI yang disusun Kementerian PPN/Bappenas ini dapat dijadikan kerangka penerapan Ekonomi Biru di Indonesia.
- Pilar ekonomi berfokus pada nilai tambah ekonomi (value added), mencakup kontribusi sektor kelautan (perikanan dan budidaya, manufaktur berbasis kelautan dan pariwisata) terhadap perekonomian Indonesia.
- Pilar lingkungan berrfokus pada keberlangsungan (sustainability), mencakup upaya menjaga dan meningkatkan kualitas ekosistem pesisir dan laut yang akan menjadi pendukung bagi ekonomi laut yang berkelanjutan. Lingkungan/ekosistem laut yang terpelihara dengan baik akan mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang layak.
- Pilar sosial berfokus pada inklusivitas (inclusiveness). Pilar ini mengukur bagaimana sektor kelautan dapat mendukung terciptanya kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Kesejahteraan mencakup pendapatan serta kualitas hidup (layanan kesehatan) yang memadai.
Sektor Prioritas Ekonomi Biru Kementerian Kelautan dan Perikanan
Ekonomi Biru diharapkan dapat memberikan daya ungkit untuk penguatan rantai nilai domestik, serta rantai nilai regional untuk pulih bersama dan lebih kuat. Juga membuka peluang untuk mendorong pertumbuhan PDB serta mencapai SDGs dengan mempromosikan konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, industrialisasi yang berkelanjutan, pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, dan inklusivitas sosial melalui pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja.
Atas dasar tersebut Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan sektor prioritas dan kebijakan Ekonomi Biru Indonesia sebagai berikut:
Meningkatkan sektor tradisional untuk pertumbuhan berkelanjutan (SDGs):
- Perikanan tangkap dan budidaya
- Industri berbasis kelautan
- Perdagangan, Transportasi, dan Logistik Kelautan
- Pariwisata Bahari
Emerging Sectors:
- Energi Terbarukan
- Bioteknologi dan Bioekonomi
- Riset dan Pengembangan
- Manajemen Lingkungan dan Sumber Daya
Kebijakan Ekonomi Biru:
- Penambahan luas kawasan konservasi laut
- Penangkapan ikan terukur berbasis kuota
- Pengembangan budidaya laut, pesisir, dan darat berkelanjutan
- Pengelolaan dan pengawasan pesisir dan pulau2 kecil
- Pembersihan sampah plastik di laut
Kondisi Perikanan Budidaya Di Bangka Belitung
Fungsi Nilai Tukar Petani (NTP) adalah sebagai indikator untuk mengukur kemampuan daya beli dan kesejahteraan petani. NTP membandingkan harga barang yang diterima petani (hasil produksi) dengan harga barang yang dibayar petani (biaya produksi dan konsumsi rumah tangga), sehingga dapat diketahui apakah pendapatan petani meningkat lebih besar dari pengeluarannya, yang menandakan peningkatan kemampuan daya beli. Jika NTP > 100 berarti petani mengalami surplus. Harga produksinya naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya, sehingga pendapatan petani lebih besar dari pengeluarannya, yang menandakan peningkatan kesejahteraan. Demikian pula sebaliknya. Dalam NTP terdapat beberapa komponen, yaitu: Nilai Tukar Tanaman Pangan, Nilai Tukar Hortikultura, Nilai Tukar Perkebunan, Nilai Tukar Peternakan, Nilai Tukar Nelayan (khususnya perikanan tangkap), dan Nilai Tukar Budidaya Ikan (untuk perikanan budidaya).
Berdasarkan data Nilai Tukar Petani (NTP) yang dirilis secara berkala setiap bulan oleh BPS, ada hal menarik untuk dikulik. Selama rentang tahun 2024 – 2025, Nilai Tukar Budidaya Ikan di Provinsi Bangka Belitung berkisar di angka 87,82 hingga 90,10. Sementara Nilai Tukar Nelayan berkisar di angka 107,40 hingga 112,32. Nilai tukar Budidaya Ikan belum pernah melebihi angka 100. Jika dibandingkan dengan komponen nilai tukar petani lainnya, Nilai Tukar Budidaya Ikan ada di posisi paling rendah.
Data Nilai Tukar Petani di Provinsi Babel sebagai berikut:
Berita Resmi Statistik, BPS Provinsi Bangka Belitung, https://babel.bps.go.id/id
Perikanan budidaya kurang diminati karena berbagai faktor seperti minimnya pengetahuan dan teknologi modern, keterbatasan modal untuk investasi, infrastruktur penunjang yang tidak memadai (termasuk akses ke pakan berkualitas dan pasar yang stabil), persaingan dengan budidaya ikan tangkap, serta risiko kegagalan panen yang tinggi akibat faktor alam seperti banjir dan serangan penyakit. Perikanan budidaya biasanya menjadi pemasukan sampingan (sided income) selain pemasukan utama. Misalnya profesi utamanya adalah petani, pekebun, atau peternak. Lalu karena masih memiliki sumber daya lahan yang dapat didayagunakan, maka dimanfaatkan untuk membuat perikanan budidaya.
Udang vaname mendominasi produksi budidaya perikanan di Bangka Belitung. Data KKP tahun 2023, dari total produksi perikanan budidaya sebanyak 10.913,67 ton, produksi budidaya udang mencapai 8807,18 ton (80.70%). Kemudian diikuti produksi lele sebanyak 1099,89 ton (10,08%), nila sebanyak 381,23 ton (3,49%), patin sebanyak 290,29 ton (2,66%). Sisanya adalah produk perikanan lain-lain.

Data diolah, https://portaldata.kkp.go.id/
Berdasarkan data KKP tahun 2023, jumlah pembudidaya perikanan di Bangka Belitung yang terdata berjumlah 3580. Dengan jumlah terbanyak ada di Kota Pangkalpinang.
https://portaldata.kkp.go.id/
Kondisi ini menjadi tantangan bagi kita apakah bisa kita mengembangkan sektor perikanan budidaya di Bangka Belitung, dan bagaimana strateginya.
Nilai Strategis Mengembangkan Perikanan Budidaya
Salah satu kebijakan Ekonomi Biru yang ditetapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan adalah penangkapan ikan terukur berbasis kuota. Kebijakan ini diterapkan pertama dengan menetapkan zona-zona penangkapan ikan serta kuota maksimal ikan yang dapat ditangkap dalam satu musim, biasanya ditetapkan dalam satu tahun. Pada zona-zona yang telah ditetapkan itu juga diterapkan aturan kategori nelayan, kapasitas tangkap dan jenis kapal, serta asal nelayan yang boleh menangkap ikan di zona tertentu tersebut. Kebijakan penangkapan ikan terukur berbasis kuota ini dimaksudkan untuk mengurangi tekanan atas eksploitasi laut dengan menerapkan penangkapan ikan yang terkendali. Juga bertujuan memberi kesempatan bagi laut untuk bereproduksi dan merehabilitasi potensinya.
Dari enam wilayah zona tangkap ikan yang ditetapkan Kementerian KKP, Bangka Belitung berada di Zona 1 - WPPNRI 711 (Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia). Zona 1 ini meliputi wilayah perairan Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut Natuna Utara. Wilayah ini menjadi tempat yang diakses oleh lima Provinsi yaitu Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat.

https://portaldata.kkp.go.id/
Berdasarkan Keputusan Menteri KKP Nomor 19 Tahun 2022, estimasi potensi ikan di WPPNRI 711 sebesar 1.306.379 ton pertahun, dengan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 911.534 ton. Sementara berdasarkan data KKP, di tahun 2023 jumlah tangkapan ikan laut di WPPNRI 711 mencapai 846.413,46 ton. Capaian tangkapan ikan di Zona 1 telah mencapai hampir 93% dari kuota maksimal yang ditetapkan.
![]() |
Capaian tangkapan ikan jika dibandingkan dengan JTB:
92,85% |
Data diolah, https://portaldata.kkp.go.id/
Di Bangka Belitung sendiri, berdasarkan penjelasan Dinas KKP Provinsi Bangka Belitung, nelayan kecil sudah mulai kesulitan untuk menangkap ikan di zona perairan hingga 12 mil laut. Ikan dengan jumlah yang besar baru dapat ditangkap di zona perairan di atas 12 mil laut. Sehingga mengembangkan potensi budidaya perikanan diharapkan dapat mengurangi tekanan eksploitasi atas potensi ikan di laut lewat aktivitas penangkapan ikan.
Dari data produksi budidaya perikanan di Bangka Belitung, komoditas andalan adalah udang vaname. Berdasarkan data KKP tahun 2023, produksi budidaya udang vaname Provinsi Bangka Belitung mencapai 8807,18 ton. Sementara menurut data Dinas KKP Provinsi Bangka Belitung, di tahun 2024 data pembudidaya udang vaname berjumlah lebih dari 190 pembudidaya. Sebanyak 2106,49 ton komoditas lain (lele, nila, dll) dikelola oleh sekitar 3390 pembudidaya.
Ini menunjukkan bahwa budidaya udang vaname cenderung lebih bersifat padat modal, karena membutuhkan investasi yang besar, infrastruktur yang lebih banyak, serta teknologi yang kompleks. Udang vaname memang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Komoditas lain seperti lele, nila, patin, dll lebih bersifat padat karya. Komoditas seperti lele, nila, dan patin dapat dirintis melalui model usaha komunal, oleh kelompok-kelompok petani atau nelayan kecil. Nilai ekonomis lele, nila, dan patin memang tidak setinggi udang vaname. Tetapi di sini komoditas tersebut memiliki kelebihan. Lele, patin, dan nila relatif harganya terjangkau oleh masyarakat, sehingga berpeluang menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan protein masyarakat.
Ini sejalan dengan upaya pemenuhan pilar ketiga dari IBEI (Indonesian Blue Economy Index) yang ditetapkan Kementerian PPN/Bappenas, yaitu pilar sosial – inklusivitas. Pilar ini mengukur bagaimana sektor kelautan dan perikanan dapat mendukung terciptanya kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia. Kesejahteraan mencakup pendapatan serta kualitas hidup (layanan kesehatan) yang memadai.
Budidaya perikanan yang dibangun dengan pendekatan padat karya dengan model komunal, dapat menjadi jalan alternatif membangun kesejahteraan nelayan dan petani budidaya ikan. Produk komoditas perikanan yang harganya terjangkau oleh masyarakat banyak membantu upaya mencukupi kebutuhan protein masyarakat.
Dari beberapa komoditas perikanan budidaya di Bangka Belitung, ada satu komoditas yang menarik untuk dikembangkankan, yaitu komoditas ikan nila atau tilapia. Komoditas ini berpeluang untuk dirintis menjadi salah satu komoditas budidaya perikanan berbasis komunal. Peluang tersebut didukung juga oleh momentum sebagai berikut:
- Momentum MBG
- Potensi ekspor ke mancanegara
Peluang dan Momentum Menjadi Mitra SPPG
Program Makan Bergizi Gratis (yang dikenal dengan singkatan MBG) merupakan program makan siang gratis Indonesia yang dicetuskan pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini dirancang dengan tujuan untuk membangun sumber daya unggul, menurunkan angka stunting (tengkes), menurunkan angka kemiskinan, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Program ini juga merupakan rancangan pemerintah Prabowo Subianto dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, yang menargetkan terciptanya generasi emas dari bonus demografi, yang mampu membawa Indonesia menjadi negara maju. Pemenuhan gizi yang memadai untuk anak usia sekolah (SD, SMP, SMA) dan ibu hamil, melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program strategis Pemerintah melalui Asta Citanya.
Untuk melaksanakan Program MBG ini, di tiap daerah dibangun unit-unit usaha dapur umum yang disebut SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). Satu SPPG melayani sekitar 3000 penerima manfaat (siswa dan ibu hamil). Di Bangka Belitung, saat ini telah terdaftar 12 SPPG sebagai berikut:
|
NO |
KABUPATEN |
KECAMATAN |
KELURAHAN |
UNIT SPPG |
|
1 |
BANGKA |
PEMALI |
PEMALI |
SPPG Bangka Pemali Pemali |
|
2 |
BANGKA BARAT |
KELAPA |
KELAPA |
SPPG Bangka Barat Kelapa Kelapa |
|
3 |
BANGKA TENGAH |
PANGKALAN BARU |
AIR MESU TIMUR |
SPPG Bangka Tengah Pangkalan Baru Air Mesu Timur |
|
4 |
BANGKA TENGAH |
KOBA |
ARUNG DALAM |
SPPG Bangka Tengah Koba Arung Dalam |
|
5 |
BELITUNG |
TANJUNG PANDAN |
PAAL SATU |
SPPG Belitung Tanjung Pandan Paal Satu |
|
6 |
BELITUNG |
TANJUNG PANDAN |
PERAWAS |
SPPG Belitung Tanjung Pandan Perawas |
|
7 |
BELITUNG |
TANJUNG PANDAN |
DUKONG |
SPPG Belitung Tanjung Pandan Dukong |
|
8 |
BELITUNG TIMUR |
DAMAR |
MENGKUBANG |
SPPG Belitung Timur Damar Mengkubang |
|
9 |
BELITUNG TIMUR |
SIMPANG PESAK |
SIMPANG PESAK |
SPPG Belitung Timur Simpang Pesak Simpang Pesak |
|
10 |
PANGKAL PINANG |
TAMAN SARI |
BATIN TIKAL |
SPPG Kota Pangkal Pinang Taman Sari Batin Tikal |
|
11 |
PANGKAL PINANG |
BUKIT INTAN |
AIR ITAM |
SPPG Kota Pangkal Pinang Bukit Intan Air Itam |
|
12 |
PANGKAL PINANG |
GERUNGGANG |
KACANG PEDANG |
SPPG Kota Pangkal Pinang Gerunggang Kacang Pedang |
Tilapia/nila dikenal juga sebagai “Aquatic Chicken” – karena memiliki kandungan protein yang hampir setara dengan protein dada ayam atau kuning telur yakni mencapai 26 gram per 100 gramnya (Booklet Profil Pasar Tilapia, Ditjen PDSPKP Kementerian KKP). Maka tak heran tilapia menjadi ikan budidaya yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.
Digulirkannya Program MBG membuka peluang pengusaha budidaya perikanan untuk menjadi mitra SPPG. Tilapia/nila berpeluang jadi alternatif protein Program MBG karena harganya terjangkau masyarakat. Sebagai perbandingan, harga udang vaname segar berkisar Rp.120.000 hingga Rp.200.000 perkilogram. Harga nila segar berkisar Rp.30.000 hingga Rp.48.000 perkilogram. Sementara harga lele segar berkisar Rp.24.000 hingga Rp.40.000 perkilogram.
Jika satu unit SPPG ditargetkan akan melayani sekitar 3000 siswa, kita dapat menghitung perkiraan kebutuhan ikan untuk satu tahun.
Draft perhitungan potensi peluang bisnis menjadi mitra SPPG
|
Kebutuhan protein 1 anak untuk sekali MBG |
50 gram/hari |
|
Kebutuhan protein 1 SPPG untuk sekali MBG = 50gram x 3000 orang |
150 kg/hari |
|
Jika 1 SPPG mengkonsumsi ikan nila 4x sebulan = 150 kg x 4 |
600 kg/bulan |
|
Potensi kebutuhan ikan nila untuk MBG selama 12 bulan |
7,2 ton/tahun |
Di Provinsi Bangka Belitung, direncanakan akan dibangun 143 unit SPPG, dan jumlah SPPG sementara yang telah terdaftar di BGN berjumlah 12 unit. Itu berarti ada potensi permintaan ikan nila untuk kebutuhan SPPG sebesar 86,4 ton hingga 1029,6 ton pertahun.
Potensi Ekspor Tilapia
Menurut data FAO tahun 2022, Indonesia menempati posisi produsen tilapia terbesar kedua dunia, setelah Tiongkok. Meskipun Indonesia menjadi negara produsen tilapia terbesar kedua di dunia, sebagai eksportir tilapia, posisi Indonesia menduduki peringkat keempat, di bawah Tiongkok, Kolombia, dan Honduras. Berikut data produksi tilapia dunia, dan data eksportir tilapia di tahun 2022.
Produsen Tilapia Dunia
|
Data 2022 |
China |
Indonesia |
Mesir |
Brasil |
Bangladesh |
|
Produksi (ton) |
1,66 juta ton |
1,42 juta ton |
1,13 juta ton |
367 ribu ton |
348 ribu ton |
|
Kontribusi |
23,47% |
20,11% |
16,01% |
5,22% |
4,91% |
|
YoY |
0,44% |
8,9% |
1,75% |
5,02% |
5,93% |
Eksportir Tilapia Dunia
|
Data 2022 |
China |
Kolombia |
Honduras |
Indonesia |
Taiwan |
|
Nilai (USD) |
268 juta |
95 juta |
80 juta |
79 juta |
57 juta |
|
Kontribusi |
33,2% |
11,8% |
9,9% |
9,7% |
7,1% |
|
YoY |
2,8% |
41,2% |
20,6% |
19% |
-7,0% |
Booklet Profil Pasar Tilapia, Ditjen PDSPKP Kementerian KKP
Kinerja ekspor tilapia Indonesia dalam kurun 5 tahun terakhir menunjukkan trend kenaikan. Tujuan ekspor terbesar adalah Negara Amerika Serikat dengan rerata kontribusi 65,64% dari total nilai ekspor, Kanada sebesar 14,03%, Uni Eropa sebesar 10,59%, negara-negara Asean sebesar 4,39%, dan sisanya ke negara-negara tujuan ekspor lainnya.
Data diolah, https://portaldata.kkp.go.id/
Ekspor tilapia dari Indonesia berasal dari strain impor, yaitu strain Manit, Genomar, dan AIT. Tiga strain ini adalah tiga strain tilapia yang dikenal karena pertumbuhan dan kualitasnya. Ketiga strain ini mampu tumbuh di atas 1000gram dalam masa 5 s.d 5.5 bulan. Sementara strain lokal yang banyak dikembangkan di Indonesia seperti Sultana dan Black Pasuruan, pertumbuhannya cenderung melambat setelah mencapai bobot 300 – 400 gram.
Tilapia merupakan komoditas yang menguntungkan, karena hampir semua bagian tubuhnya bernilai ekonomis (zero waste). Selain dagingnya, kulit, kepala, duri dan tulang, bahkan intestine atau jeroannya juga dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. Tilapia yang dipasarkan di dalam negeri biasanya berbentuk utuh dengan bobot 300 – 500 gram perekor. Sementara yang dipasarkan ke luar negeri biasanya dalam bentuk fillet meat dari ikan berbobot >1000 gram perekor. Standar produk filet di pasar luar negeri di antaranya tidak berbau lumpur yang disebabkan oleh kandungan geosmin dan metyl isoborneal. Komoditas tilapia yang diekspor ke luar negeri seperti Amerika, Kanada, dan Uni Eropa berbentuk fillet meat beku.
Salah satu sentra produksi tilapia terbesar di Indonesia untuk pasar ekspor, adalah tilapia yang dibudidaya di Sumatera Utara. Budidaya tilapia di Sumatera Utara dilakukan di wilayah Danau Toba.
Menggagas Budidaya Tilapia di Bangka Belitung Berorientasi Ekspor
Total produksi tilapia di Provinsi Bangka Belitung pada tahun 2023 mencapai 381,23 ton. Kabupaten Bangka Tengah menjadi kabupaten yang memproduksi tilapia dalam jumlah sangat signifikan di tahun 2023, dibanding daerah lainnya di Bangka Belitung. Produksi tilapia di Bangka Tengah mencapai 246,01 ton atau 64,53% dari total produksi tilapia Bangka Belitung. Kabupaten Belitung jadi kabupaten dengan tingkat produksi tilapia paling rendah, yaitu sebesar 4.02 ton atau sekitar 1,05% dari total produksi Bangka Belitung. Selanjutnya capaian produksi tilapia di empat kabupaten lain berkisar 21 hingga 33 ton.
Data diolah, https://portaldata.kkp.go.id/
Jika melihat trend produksi tilapia Bangka Belitung dalam kurun 2019 hingga 2023, menunjukkan pertumbuhan YoY yang fluktuatif. Di tahun 2020, pertumbuhan produksi tilapia (YoY) sebesar 18,14%. Kemudian di tahun 2021 pertumbuhan negatif sebesar -16,05%. Di tahun 2022 pertumbuhan produksi naik signifikan hingga 53,05%. Tetapi di tahun 2023 pertumbuhan turun bahkan negatif -7,36%.
Data diolah, https://portaldata.kkp.go.id/
Ini menunjukkan tatakelola produksi tilapia belum dilakukan dengan baik berdasarkan peta perencanaan yang matang. Pada tahun-tahun produksi tilapia meningkat, diperkirakan karena harga tinggi dan permintaan melebihi suplai yang ada. Petani pembudidaya kemudian menambah volume produksinya. Tetapi karena tidak disertai peta perencanaan, di tahun berikutnya terjadi panen raya tilapia yang menyebabkan harga tilapia menurun. Sehingga petani pembudidaya menurunkan produksinya.
Mendorong dan membuka akses bagi petani pembudidaya tilapia untuk dapat menjadi mitra SPPG, bisa menjadi strategi awal bagi para petani tilapia Provinsi Bangka Belitung mengelola produksi tilapia dengan perencanaan dan pertumbuhan yang lebih baik.
Misalnya, jumlah produksi tahun 2023 sebanyak 381,23 ton kita jadikan angka base. Selanjutnya, di bagian sebelumnya kita telah menghitung perkiraan kebutuhan tilapia untuk memenuhi permintaan MBG/SPPG sebesar 2059,2 ton pertahun. Maka kita dapat memproyeksikan dan menghitung perkiraan tingkat pertumbuhan produksi tilapia setiap tahun.
Kabupaten Bangka Tengah dapat dijadikan pilot project untuk pengembangan komoditas tilapia. Kemudian dapat diikuti oleh kabupaten lain seperti Belitung Timur, Bangka, Bangka Selatan, Bangka Barat, dan Kota Pangkalpinang. Selanjutnya kita mentargetkan usaha budidaya tilapia bisa scale up untuk berorientasi ekspor. Harapannya kita bisa merintis desa-desa devisa berbasis komoditas tilapia di Provinsi Bangka Belitung.
Tilapia dan Potensi Membangun Desa Devisa
Desa Devisa adalah sebuah program pemberdayaan masyarakat dan komunitas yang berbasis pada pengembangan produk unggulan desa untuk tujuan ekspor, yang bertujuan meningkatkan pendapatan devisa dan kesejahteraan masyarakat lokal. Program ini menginisiasi pendampingan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank kepada petani, pengrajin, koperasi, atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mengembangkan komoditas yang berpotensi diekspor.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk merintis kandidat desa devisa, di antaranya:
- Memiliki Produk Unggulan Ekspor (OVOP): Desa harus memiliki satu jenis produk unggulan yang diproduksi secara bersama-sama oleh komunitas, sering disebut dengan konsep One Village One Product (OVOP).
- Jumlah Anggota Komunitas: Komunitas yang bergerak dalam produksi produk tersebut setidaknya memiliki 20 anggota.
- Memiliki Produk Berorientasi Ekspor: Produk yang dihasilkan harus memiliki potensi untuk dijual ke pasar internasional dan mampu memenuhi permintaan buyer luar negeri.
- Perlu Keterlibatan Stakeholder: Ada partisipasi dari lembaga pemerintah dan/atau perusahaan swasta dalam mendukung program Desa Devisa.
- Perlu Pemberdayaan dan Peningkatan Kapasitas: Komunitas desa harus diberdayakan dan memiliki kemampuan dalam memproduksi produknya agar sesuai dengan standar dan permintaan buyer.
Tilapia berpotensi untuk dikembangkan menjadi komoditas ekspor. Dan untuk dapat mewujudkannya, beberapa daerah di Bangka Belitung berpotensi mengembangkan komoditas tilapia dengan konsep desa devisa. Pemerintah daerah serta beberapa instansi terkait kiranya dapat mengkaji lebih lanjut dan merumuskan langkah merintis desa devisa komoditas tilapia di Bangka Belitung.
Kami menilai, karena Kabupaten Bangka Tengah berdasarkan data Kementerian KKP adalah daerah yang memproduk tilapia terbanyak di Bangka Belitung, dapat dipilih sebagai proyek pilot membangun desa devisa komoditas tilapia. Selanjutnya model desa devisa dari Bangka Tengah dapat dijadikan benchmarking untuk membangun desa-desa devisa komoditas tilapia di kabupaten lain. Di tiap desa devisa, para petani pembudidaya tilapia agar dihimpun dalam koperasi pembudidaya tilapia. Koperasi bisa menjadi pilihan badan hukum yang tepat untuk membangun usaha berbasis komunal.
Beberapa Industri Pendukung Yang Perlu Dipersiapkan
Ada beberapa industri pendukung yang kiranya perlu dipersiapkan untuk merintis desa devisa komoditas tilapia. Budidaya tilapia, sebagaimana budidaya perikanan darat lain, memerlukan beberapa industri pendukung, di antaranya:
- Pembenihan ikan
- Produksi garam krosok, dan bahan pendukung lain untuk kolam budidaya
- Pasokan pakan ikan
Industri pendukung pertama yang harus dipersiapkan adalah industri pembenihan ikan. Perlu mempersiapkan sentra-sentra pembenihan ikan tilapia untuk mendukung target produksi sekitar 2000 ton pertahun. Benih tilapia yang dikembangkan difokuskan kepada strain tilapia yang mendukung ekspor, seperti strain Genomar, Manit, dan AIT, yang merupakan strain impor. Selain itu ada beberapa strain lokal unggulan yang dapat diperhitungkan menjadi strain nila unggulan. Beberapa strain lokal unggulan di antaranya: BEST, Srikandi, Nirwana 2, Gesit, Jatimbulan, Larasati, dan Nila AN (https://regalsprings.co.id/artikel/mengenal-7-jenis-ikan-nila-atau-tilapia-unggul-di-indonesia/).
- Ikan Nila Best (Bogor Enhanced Strain Tilapia) : Ikan nila atau tilapia BEST adalah salah satu hasil pemuliaan ikan nila yang dilakukan dengan menggunakan karakteristik keunggulan dalam pertumbuhan. Ikan ini merupakan hasil penelitian dari Tim Peneliti Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor. Keunggulan dari ikan nila BEST meliputi ketahanan terhadap penyakit yang 140% lebih baik dibandingkan dengan ikan nila biasa. Ikan ini juga memiliki pertumbuhan yang sangat baik, mencapai 300-500 gram dalam waktu hanya 4 bulan. Bahkan, ketahanan terhadap lingkungan dengan salinitas hingga 15 ppt membuat ikan nila BEST masuk menjadi salah satu ikan nila yang unggul.
- Ikan Nila Srikandi (Salinity Resistant Improvement from Sukamandi) : Ikan nila atau tilapia Srikandi merupakan salah satu varietas ikan nila hasil pemuliaan oleh Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat. Ikan ini telah dirilis oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2012. Keunikan ikan nila Srikandi adalah toleransinya yang tinggi terhadap lingkungan dengan tingkat salinitas hingga ≤ 30 ppt. Selain itu, ikan nila Srikandi juga memiliki pertumbuhan yang cepat dan ketahanan terhadap penyakit, menjadikannya solusi ideal untuk memanfaatkan lahan-lahan sub-optimal di sepanjang pesisir.
- Ikan Nila Nirwana 2 (Nila Ras Wanayasa) : Ikan nila atau tilapia Nirwana 2 adalah hasil pengembangan dari Balai Pengembangan Benih Ikan Wanayasa yang terletak di Purwakarta, Jawa Barat. “Nirwana” singkatan dari Nila Ras Wanayasa. Keunggulan ikan nila Nirwana terletak pada pertumbuhannya yang sangat cepat, mencapai bobot 1 kilogram dalam waktu hanya enam bulan. Ikan nila atau tilapia Nirwana 2 ini bentuk tubuhnya lebih lebar, kepala lebih pendek, dan struktur dagingnya lebih tebal dibandingkan dengan ikan nila biasa. Ikan nila Nirwana 2, yang telah dirilis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan pada 2012 ini memiliki pertumbuhan 15% lebih tinggi dari generasi sebelumnya.
- Ikan Nila Gesit (Genetically Supermale Indonesian Tilapia) : Ikan Genetically Supermale Indonesian Tilapia (GESIT) dibuat oleh peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT), dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Nila GESIT bisa mencapai ukuran 8 cm dalam 4-5 bulan. Khusus yang memiliki kromosom YY, ikan ini memiliki keunggulan dalam hal kelamin jantan, dengan 98-100 persen turunannya berjenis kelamin jantan. Keunggulan ekonomis lainnya adalah pertumbuhannya yang sangat cepat, mencapai berat 600 gram per ekor dalam waktu lima hingga enam bulan.
- Ikan Nila Jatimbulan : Ikan nila Jatimbulan merupakan hasil perekayasaan oleh Unit Pelaksana Teknis Perikanan Budidaya Air Tawar (PBAT) Umbulan di Pasuruan, Jawa Timur. Keunggulan ikan ini terletak pada pertumbuhannya yang lebih cepat dibandingkan dengan ikan nila biasa dan struktur dagingnya yang lebih kenyal.
- Ikan Nila Larasati (Nila Merah Strain Janti) : Ikan nila Larasati adalah hasil pemuliaan oleh Perbenihan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Janti, Klaten, Jawa Tengah. Ikan ini merupakan persilangan antara ikan nila hitam dengan nila merah. Keunggulan ikan nila Larasati adalah pertumbuhannya yang mirip dengan nila merah dan kemampuan merespons pakan seperti nila hitam. Selain itu, pemeliharaannya lebih cepat dan memiliki jumlah daging yang lebih banyak, serta tingkat kelangsungan hidup yang tinggi.
- Ikan Nila atau Tilapia AN (Aquafarm Nusantara) : Ikan nila atau tilapia Aquafarm Nusantara atau kami sebut Ikan Nila AN merupakan hasil pengembangan dari PT Aqua Farm Nusantara atau yang lebih dikenal dengan Regal Springs Indonesia. Ikan nila yang sudah dikenal dalam budidaya di Indonesia yaitu Oreochromis Niloticus ini dikembangkan kembali dengan cara program pemuliaan yaitu penyeleksian keluarga ikan nila terbaik disetiap generasinya untuk mendapatkan ketahanan dan pertumbuhan ikan yang unggul. Keunikan dari ikan nila AN ini terletak pada budidayanya yang dilakukan di danau air tawar yang kaya oksigen, dengan penggunaan pakan apung rendah fosfor, dan menggunakan keramba jaring apung yang tidak memakan ganggang atau lumpur. Hasil dari budidaya ini adalah ikan nila dengan daging premium yang putih, berlapis, lezat, dan tidak berbau amis. Ikan nila AN ini telah menjadi pilihan utama bagi mereka yang menginginkan ikan nila dengan kualitas terbaik dan mencari alternatif unggul dalam budidaya ikan nila. Dengan menggabungkan teknologi modern dan pemeliharaan yang baik, ikan nila AN menjadi salah satu pilihan yang sangat menarik bagi industri perikanan di Indonesia.
Industri pendukung kedua yang perlu dipersiapkan adalah industri garam. Bangka Belitung memiliki potensi mengembangkan daerah-daerah sentra tambak garam. Saat ini potensi produksi garam di Bangka Belitung belum optimal karena masih mengimpor garam untuk kebutuhan lokal, namun ada potensi besar untuk pengembangan produksi garam, baik untuk konsumsi maupun industri. Bangka Belitung memiliki banyak wilayah dengan garis pantai yang cukup. Garam krosok (garam dengan kualitas rendah) sering digunakan sebagai bahan baku pendukung industri perikanan. Garam krosok digunakan biasanya untuk memproduksi ikan asin. Garam krosok juga digunakan untuk mempersiapkan kolam dan tambak ikan. Garam krosok secara sederhana diproduksi dengan proses pengeringan air laut di hamparan-hamparan tambak garam. Menurut Adibrata et al (2021), dengan mengkaji kondisi iklim dan pantai, beberapa tempat di sekitar Pangkalpinang dan Bangka Tengah berpotensi dikembangkan menjadi tempat tambak garam untuk memproduksi garam krosok. Pantai Takari dan Pantai Lubuk di Bangka Tengah, punya potensi diproduksi garam krosok dengan kualitas dasar yang mendekati kualitas garam yang diproduksi di sentra-sentra garam seperti di Sumenep, Pamekasan, Sampang (Adibrata et al, Uji Kualitas Garam di Pantai Lubuk dan Pantai Takari, 2021).
Pendukung yang ketiga adalah menjamin pasokan pakan ikan. Pasokan pakan ikan perlu disediakan dengan jumlah mencukupi dan harga yang murah. Karena pakan ikan merupakan komponen biaya yang cukup dominan dalam industri budidaya ikan. Perlu untuk menjamin ketersediaan pakan ikan yang cocok dengan pembesaran tilapia. Selain ini, upaya menjamin ketersediaan pakan ikan juga dapat dilakukan dengan mencari alternatif-alternatif pakan, memanfaatkan potensi yang ada. Salah satu produksi sampingan dari perikanan tangkap di Bangka Belitung adalah ikan rucah. Ikan rucah adalah ikan sisa yang merupakan limbah dari ikan tangkapan laut. Ikan rucah dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi bahan pakan ikan. Ikan rucah diolah menjadi tepung ikan, yang selanjutnya dijadikan bahan campuran untuk membuat pakan ikan. Perlu kajian lebih lanjut untuk melihat seberapa besar potensi ekonomi merintis industri bahan pakan ikan memanfaatkan ikan rucah yang ada di nelayan-nelayan laut Bangka Belitung.
Peran Riset dan Pengembangan Serta Sekolah Perikanan
Salah satu sisi tak kalah penting untuk mendukung desa devisa tilapia, adalah peran riset dan pengembangan yang dilakukan oleh pihak yang berkompeten, yaitu kalangan akademisi, kampus, serta stakeholder yang lain.
Riset dan pengembangan diperlukan untuk mengkaji kelayakan usaha budidaya tilapia. Riset dan pengembangan harus fokus mencari dan merumuskan model budidaya tilapia yang paling cocok dengan kondisi alam Bangka Belitung. Juga perlu mencari model budidaya yang terjangkau untuk skala nelayan atau petani kecil, model budidaya yang dapat dikembangkan dengan model komunal. Juga sekaligus model budidaya tilapia tersebut ramah lingkungan, atau bahkan bisa disinkronkan dengan bidang yang lain misalnya disinkronkan dengan pertanian. Limbah budidaya ikan misalnya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organis bagi pertanian.
Riset dan pengembangan juga diperlukan untuk mencari strain tilapia unggul yang cocok dibudidaya di Bangka Belitung. Riset dan pengembangan dilakukan untuk menyusun model pembibitan ikan yang terbaik, serta mendorong upaya pemuliaan strain tilapia. Ditargetkan agar di sentra-sentra pembibitan menyediakan benih tilapia terbaik.
Riset dan pengembangan juga menarik untuk dilakukan mengkaji kelayakan bisnis penunjang budidaya ikan. Misalnya mengkaji bagaimana potensi mengembangkan industri garam dan pengolahan ikan rucah menjadi bahan pakan ikan, apakah layak dan menguntungkan dikembangkan di Bangka Belitung.
Teknik dan praktek teruji budidaya tilapia agar didokumentasikan, dan bisa diajukan sebagai kurikulum khusus di sekolah-sekolah perikanan di Bangka Belitung. Generasi muda yang berminat dapat menekuni teknik budidaya tilapia, yang selanjutnya dapat disiapkan menjadi tenaga sdm pengelola budidaya tilapia.
Kesimpulan
Jika diletakkan dalam kerangka IBEI (The Indonesian Blue Economy Index), upaya mengembangkan perikanan budidaya dengan merintis desa devisa komoditas tilapia, memenuhi banyak aspek dari pilar-pilar ekonomi biru.
|
Pilar Ekonomi – Fokus: Value Added |
Sub pilar Perikanan Tangkap dan Budidaya · Mengembangkan budidaya tilapia untuk tujuan ekspor |
|
Sub pilar Industri Berbasis Kelautan · Menjajaki potensi pengembangan bisnis garam · Menjajaki potensi pengembangan bisnis pakan ikan dari rucah ikan |
|
|
Sub pilar Perdagangan, Transportasi, dan Logistik · Membangun Desa Devisa dengan komoditas ekspor tilapia |
|
|
Pilar Lingkungan – Fokus: Sustainability |
Sub pilar Sumber Daya dan Konservasi Laut · Mengurangi tekanan atas eksploitasi laut dari aktivitas perikanan tangkap yang melebihi kuota |
|
Pilar Sosial – Fokus: Inclusiveness |
Sub pilar Kesejahteraan · Menguatkan dan memberdayakan petani dan nelayan pembudidaya · Meningkatkan Nilai Tukar Budidaya Ikan |
|
Sub pilar Kesehatan · Membantu ketersediaan alternatif suplai protein kepada masyarakat · Membantu mendukung program MBG dengan menjadi mitra supplier SPPG |
|
|
Sub pilar R&D dan Pendidikan · Kajian tentang teknik budidaya tilapia terbaik berorientasi ekspor · Kegiatan pemuliaan strain tilapia di sentra-sentra pembenihan · Kajian kelayakan bisnis industri garam · Kajian kelayakan bisnis pengelolaan rucah ikan untuk bahan pakan ikan · Kurikulum pembenihan, pembesaran tilapia di sekolah-sekolah perikanan |
Penutup
Demikian ringkasan laporan mengenai Ekonomi Biru di Provinsi Bangka Belitung. Fokus bahasannya adalah memberdayakan sektor perikanan budidaya, dengan memilih komoditas perikanan budidaya yang memiliki potensi ekspor/devisa.
Usulan yang dipilih adalah menggagas desa devisa dengan komoditas tilapia. Dukungan stakeholder terkait, seperti pemerintah daerah, Lembaga Pembiayaan Ekspor, Kalangan Akademisi, Kalangan Pengusaha, dll sangat diperlukan untuk merintis pemberdayaan petani dan nelayan di Provinsi Bangka Belitung.
Penulis:
Arius Vitra
Kepala Seksi Analisa Statistik dan Penyusunan Laporan Keuangan, Bidang Pembinaan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bangka Belitung
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi
Referensi
- Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Bidang Kelautan dan Perikanan;
- Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2023 Tentang Penangkapan Ikan Terukur;
- Permen Kelautan dan Perikanan Nomor 28 Tahun 2023 Tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2023 Tentang Penangkapan Ikan Terukur;
- Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 19 Tahun 2022 Tentang Estimasi Potensi Sumber Daya Ikan, Jumlah Tangkapan Ikan Yang Diperbolehkan, dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia;
- Bank Dunia, 2021, “Laut Untuk Kesejahteraan – Reformasi untuk Ekonomi Biru di Indonesia”;
- Widyasanti, Amilia Adiningar et al, 2023, “Indonesia Blue Economy Roadmap”, Kementerian PPN/Bappenas;
- Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, 2023, “Profil Pasar Tilapia”, Kementerian Kelautan dan Perikanan;
- Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, 2023, “Profil Pasar Udang”, Kementerian Kelautan dan Perikanan;
- Damanik, Reza et al, 2023, “Proyek Strategis Ekonomi Biru Menuju Negara Maju 2045”, Laboratorium Indonesia 2045;
- Adibrata, Sudirman et al, 2021, “Uji Kualitas Garam di Pantai Lubuk dan Pantai Takari, Bangka Belitung”, Buletin Oseanografi;
- https://regalsprings.co.id/artikel/mengenal-7-jenis-ikan-nila-atau-tilapia-unggul-di-indonesia/;
- https://www.bps.go.id/id;
- https://babel.bps.go.id/id;
- https://portaldata.kkp.go.id/;
- https://www.bgn.go.id/.




