Mengawal Keuangan Negara dengan Sentuhan Artificial Intelligence (AI)
Oleh: Roseno Napu Setiawan
Kasubbag Kepegawaian
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat dilihat sebagai bentuk mini dari Indonesia. Wilayah NTT terdiri dari ratusan pulau, dengan beberapa pulau besar yang terbentang mulai dari pulau Sumba di bagian barat, pulau Flores di tengah, hingga pulau Timor di bagian timur, dipisahkan oleh laut seperti halnya Indonesia sebagai negara kepulauan. Bagi pengelola keuangan negara, kondisi geografis ini merupakan suatu tantangan tersendiri. Pulau-pulau yang terpisah membuat koordinasi lebih menantang, distribusi anggaran sering terkendala jarak dan waktu, serta kebutuhan masyarakat yang sangat beragam di tiap daerah.
Di garis depan tugas inilah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) memegang peranan penting. Kantor Wilayah DJPb NTT bersama jajaran KPPN sebagai instansi vertikal di daerah menjadi simpul utama dalam memastikan dana APBN mampu menggerakkan roda pembangunan di daerah, mendampingi satuan kerja, memberi masukan fiskal bagi pemerintah daerah, sekaligus menjaga agar laporan keuangan negara tetap akurat dan transparan. Untuk itu diperlukan langkah-langkah terobosan serta inovatif sehingga dapat memberikan layanan terbaik bagi pengguna layanan.
Beberapa tahun terakhir, dunia dihebohkan oleh perkembangan Artificial Intelligence (AI). Teknologi AI bukan sekadar sebuah perangkat lunak yang pintar, melainkan sebuah terobosan revolusioner yang mampu mengubah cara manusia bekerja. Dari industri kesehatan hingga keuangan, dari perusahaan swasta hingga pemerintahan, AI telah hadir sebagai alat bantu yang berperan penting dalam mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi setiap bidang pekerjaan.
Berkaca dari hal tersebut, Kanwil DJPb NTT bekerja sama dengan Balai Diklat Keuangan Denpasar mengadakan Bimbingan Teknis terkait Pemanfaatan AI. Tujuan yang ingin dicapai adalah bagaimana membekali ASN dengan keterampilan dan pengetahuan baru sehingga mampu menggunakan teknologi ini untuk menyusun kajian ekonomi, analisis fiskal, laporan kebijakan publik, dan kajian ilmiah lainnya.
Dalam kegiatan tersebut, menghadirkan narasumber dari BDK Denpasar yang menunjukkan betapa besar manfaat AI yang dapat digunakan dalam mempercepat pekerjaan. Tugas-tugas yang biasanya memakan waktu berhari-hari, seperti merangkum data, membuat outline kajian, menyusun draft analisis, hingga memvisualisasikan angka dalam bentuk grafik, kini bisa dilakukan hanya dalam hitungan jam. Selain itu, para pegawai juga diajak untuk turut terlibat dalam membuat outline kajian secara berkelompok sebagai bagian dari pembelajaran.
Penggunaan AI dalam keseharian pengguna dapat dibayangkan dengan ilustrasi sederhana yakni seorang analis yang diminta menyusun laporan singkat tentang efektivitas Dana Desa dalam menurunkan angka kemiskinan di sebuah kabupaten. Tanpa AI, analis tersebut harus mencari data dari berbagai sumber, merumuskan masalah, membuat kerangka kajian, dan kemudian menyusun narasi. Proses tersebut bisa menyita waktu yang tidak sebentar. Dengan AI, analis dapat segera memperoleh opsi rumusan masalah, draft yang sudah terstruktur, hingga grafik visual yang mempermudah pemahaman. Waktu yang ada dapat dialihkan untuk memperkaya analisis dari perspektif yang lain, bukan hanya teknis menulis.
Sebagaimana halnya teknologi lainnya, AI juga sangat bergantung pada kemampuan penggunanya. Salah satu keterampilan penting dalam pemanfaatan AI adalah kemampuan membuat instruksi atau prompt. Hasil yang baik hanya dapat diperoleh jika instruksi jelas, spesifik, dan terstruktur. Ada tiga prinsip sederhana yang bisa diterapkan:
- Berikan peran yang jelas kepada AI. Misalnya, “Anda adalah analis fiskal di Kanwil DJPb NTT yang sedang menyusun kajian Dana Desa.”
- Sampaikan konteks yang spesifik. Sertakan data, isu utama, wilayah kajian, dan target audiens.
- Tetapkan tujuan yang tegas. Misalnya, minta AI menyusun outline dengan fokus pada penyaluran dana dan dampaknya terhadap indikator kemiskinan.
Dengan cara tersebut, maka AI dapat bekerja lebih terarah. Hasilnya yang didapatkan pun akan relevan, mudah diolah lebih lanjut, dan sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya, perlu dilakukan verifikasi dan validasi dengan data yang relevan.
AI merupakan teknologi yang dapat sangat membantu, namun di sisi lain, terdapat juga risiko yang mengintai. Tantangan terbesar dalam pemanfaatan AI adalah potensi ketergantungan berlebihan. Ada risiko ASN pengguna hanya mengandalkan mesin dan melupakan kemampuan analisis kritisnya sendiri. Bahkan bisa jadi, ASN lebih mempercayai hasil dari AI, daripada pemikirannya sendiri. Jika dilihat lebih dalam, AI tidak selalu memberikan jawaban yang benar atau sesuai konteks. Jika hasilnya diterima begitu saja tanpa verifikasi, dapat menimbulkan kesalahan yang fatal, yang pada akhirnya menghasilkan rekomendasi dan laporan yang keliru. Oleh karena itu, validasi manual tetap wajib dilakukan. Hasil olahan AI harus diperiksa ulang dengan sumber resmi, misalnya data dari BPS, DJPb, atau Kementerian terkait.
Selain faktor ketergantungan, faktor atau isu keamanan juga tak kalah penting. Data yang bersifat sensitif tidak boleh sembarangan diunggah ke platform publik karena memiliki potensi kebocoran data. Integritas dan tanggung jawab terhadap data perlu dikedepankan dalam menggunakan teknologi. Di masa kini, data merupakan informasi penting yang sangat berharga, sehingga jika tidak dijaga dengan baik maka dapat menimbulkan bahaya dan kerugian yang signifikan.
Satu hal penting tidak boleh dilupakan adalah AI bukan pengganti manusia, namun merupakan asisten digital yang mempercepat pekerjaan. AI tidak dapat menggantikan analisa, pengalaman, dan kearifan manusia. Justru yang dibutuhkan adalah perpaduan antara kecerdasan mesin dan wisdom yang dimiliki pengguna. AI bisa memberi data, analisis, dan rekomendasi, sedangkan kebijakan dan keputusan akhir tetap menjadi tanggung jawab manusia.
Adanya teknologi AI membawa peluang yang besar, terlebih di wilayah seperti NTT yang kerap berhadapan dengan tantangan infrastruktur dan akses informasi. Dengan adanya teknologi ini maka dapat memangkas waktu, memperluas sudut pandang dan informasi, serta dapat membantu pengguna untuk menyajikan data dengan bahasa yang lebih komunikatif. Pemanfaatan AI membawa kesempatan dan potensi yang besar apabila mampu dikelola dengan baik. Dengan keterbatasan dan tantangan yang ada, teknologi AI merupakan alat bantu yang sangat berguna yang memungkinkan organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Di tangan ASN pengguna AI yang baik dan terlatih, AI akan menjadi sahabat dan asisten digital yang dapat membantu mengawal keuangan negara.
Untuk itu, setiap pegawai perlu belajar bagaimana menggabungkan kecerdasan mesin dengan daya pikir dan kepekaan yang dimiliki manusia sebagai pengguna. Dengan adanya AI maka diharapkan setiap pegawai dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugas dan fungsi yang diembannya, sehingga pada akhirnya dapat mendukung peran insan perbendaharaan yang menjaga pundi keuangan negara dalam mengawal negeri.



