Oleh: Faizal Angga Nugraha, Kepala Seksi PPA IIC
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus tersedia secara cukup, berkualitas, aman, bergizi, dan terjangkau. Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, permintaan akan pangan terus meningkat. Hal ini berdampak pada peningkatan kebutuhan lahan non-pertanian sehingga menambah tantangan dalam pemenuhan pangan. Tantangan ini semakin kompleks karena melibatkan berbagai faktor produksi seperti manusia, teknologi, dan unsur-unsur alam seperti tanah, air, dan iklim.
Perubahan iklim yang ditandai dengan anomali cuaca seperti perubahan intensitas dan pola curah hujan, kenaikan suhu udara, kekeringan, banjir, serta serangan hama dan penyakit, mempengaruhi produktivitas tanaman pangan (Suryana, 2014). Salah satu fenomena iklim yang signifikan adalah El Nino Southern Oscillation (ENSO), yang menyebabkan pergeseran musim hujan di Indonesia (Ismail & Chan, 2019; Li et al., 2019). ENSO, yang terbagi dalam fase El Nino dan La Nina, dapat mengakibatkan kekeringan atau banjir yang berdampak buruk pada tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai, yang merupakan komoditas penting bagi masyarakat Indonesia (Suwarno, 2010). El Nino dapat menyebabkan kekeringan dan gagal panen, sementara La Nina dapat menyebabkan banjir dan meningkatkan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), mempengaruhi musim tanam dan produksi pangan secara signifikan (Irawan, 2006).
Perubahan iklim, seperti fenomena ENSO, diduga memberikan dampak berbeda di setiap wilayah. Di negara dengan geografis luas seperti Indonesia, dampak ENSO kemungkinan bervariasi antar wilayah. Artikel ini fokus pada wilayah yang terdampak ENSO khusunya di Sulawesi Tenggara. Pada artikel ini akan membahas (1) fenomena Perubahan iklim di Sulawesi Tenggara dan (2) identifikasi sektor-sektor ekonomi regional yang terdampak perubahan iklim di Sulawesi Tenggara
I. Kondisi Iklim/Cuaca Semester I 2024 di Sulawesi Tenggara
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa puncak musim penghujan di Sulawesi Tenggara (Sultra) akan terjadi pada Maret hingga Juni 2024. Peningkatan curah hujan sudah mulai terlihat sejak Februari dan diperkirakan akan berada di atas normal, yang berarti curah hujan akan lebih tinggi dari biasanya. Musim hujan yang lebih intens ini akan berdampak pada beberapa sektor, termasuk sektor kebencanaan, sektor perkebunan, dan sektor transportasi. Di sektor kebencanaan, peningkatan curah hujan yang disertai angin kencang dan petir dapat menyebabkan banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung. Kondisi cuaca ekstrem ini memerlukan kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko bencana. Fenomena El Nino tersebut, kata dia, diprediksi akan segera menuju netral pada periode Mei-Juni-Juli 2024 dan setelah triwulan ketiga (Juli-Agustus-September) 2024 berpotensi beralih menjadi La Nina-Lemah.
Dalam sektor pertanian dan perkebunan, hujan lebat dan angin kencang dapat menyebabkan genangan air atau banjir di lahan pertanian serta merusak komoditas tanaman tertentu. Hal ini berpotensi menyebabkan gagal panen, yang pada gilirannya akan menurunkan produksi dan memicu kenaikan harga komoditas pertanian. Di sektor transportasi, dampak yang diantisipasi meliputi jalanan licin dan tergenang air, tumbangnya pohon akibat angin kencang, serta kerusakan pada jembatan dan infrastruktur jalan. Semua dampak ini dapat mengganggu kelancaran lalu lintas dan membahayakan keselamatan pengguna jalan. Oleh karena itu, tindakan pencegahan dan mitigasi sangat penting untuk mengurangi dampak negatif dari musim hujan yang intens ini.
II. Perkiraan Iklim Semester II 2024 di Sulawesi Tenggara
Prakiraan Awal Musim Kemarau 2024
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara (Sultra) memprediksi bahwa kondisi El Nino akan beralih ke kondisi netral mulai Mei hingga Juli 2024, dengan suhu permukaan laut di perairan Indonesia yang diperkirakan tetap hangat dan angin timuran mulai aktif. Musim kemarau 2024 di wilayah Sulawesi Tenggara diperkirakan akan dimulai paling awal pada bulan Juni dan paling akhir pada bulan Agustus 2024. Awal musim kemarau tahun ini umumnya akan lebih lambat dibandingkan dengan rata-rata selama 30 tahun terakhir (1991-2020). Selama musim kemarau 2024, curah hujan di Sulawesi Tenggara diperkirakan akan bervariasi dari bawah normal (BN) hingga atas normal (AN). Puncak musim kemarau di Sulawesi Tenggara diprediksi terjadi antara bulan Juli hingga September 2024. Menanggapi proyeksi musim kemarau, Pemerintah Daerah Sulawesi Tenggara dan masyarakat, untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi musim kemarau yang akan berdampak pada potensi bencana hidrometeorologi, khususnya bencana kekeringan di tahun 2024.
III. Sektor-Sektor Ekonomi Regional yang Terdampak Perubahan Iklim
Kondisi iklim dan cuaca memiliki pengaruh signifikan terhadap produksi komoditas pertanian, perikanan, dan perdagangan, serta tren inflasi. Perubahan pola cuaca, seperti peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan, dapat berdampak langsung pada hasil panen pertanian. Misalnya, kekeringan yang berkepanjangan dapat mengurangi ketersediaan air untuk irigasi, sehingga menurunkan produktivitas tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai. Sebaliknya, curah hujan yang berlebihan dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor, yang merusak tanaman dan infrastruktur pertanian.
Dalam sektor perikanan, perubahan suhu laut dan cuaca ekstrem seperti badai dapat mengganggu habitat ikan dan menurunkan hasil tangkapan. Fenomena El Nino, misalnya, sering dikaitkan dengan peningkatan suhu permukaan laut yang dapat menyebabkan migrasi ikan ke perairan yang lebih dingin, sehingga mengurangi ketersediaan ikan di daerah tangkapan tradisional. Hal ini berdampak pada pendapatan nelayan dan pasokan ikan di pasar, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi harga komoditas perikanan.
Perubahan iklim juga mempengaruhi perdagangan, terutama komoditas pertanian dan perikanan yang bergantung pada kondisi cuaca stabil. Gangguan produksi akibat kondisi cuaca ekstrem dapat menyebabkan fluktuasi harga komoditas di pasar global. Selain itu, kerusakan infrastruktur transportasi akibat cuaca buruk dapat menghambat distribusi barang, meningkatkan biaya logistik, dan mempengaruhi harga di tingkat konsumen. Semua faktor ini berkontribusi pada tren inflasi, terutama di negara-negara yang sangat bergantung pada sektor pertanian dan perikanan.
Secara historis, tren inflasi sering kali dipicu oleh gangguan produksi akibat kondisi cuaca ekstrem. Kekurangan pasokan pangan dan komoditas lainnya karena bencana alam seperti banjir, kekeringan, atau badai dapat menyebabkan lonjakan harga. Misalnya, selama fenomena El Nino yang kuat, banyak negara mengalami kenaikan harga pangan yang signifikan, yang berkontribusi pada inflasi. Dengan demikian, pemahaman tentang dampak iklim dan cuaca pada berbagai sektor ekonomi sangat penting untuk perencanaan kebijakan dan mitigasi risiko inflasi di masa depan.
Pada triwulan I 2024, kondisi cuaca ekstrem khususnya curah hujan tinggi yang terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor ekonomi di wilayah tersebut. Beberapa pengaruh utama yang tercatat meliputi:
- Sektor Pertanian:
Curah hujan yang tinggi dan cuaca ekstrem menyebabkan kerusakan pada lahan pertanian, terutama pada tanaman padi dan jagung. Banjir dan genangan air di area pertanian mengakibatkan penurunan hasil panen dan kerugian bagi para petani (Antara Sultra).
- Perikanan dan Kelautan:
Produksi perikanan laut di Sulawesi Tenggara umumnya dipengaruhi oleh musim, dengan puncak produksi terjadi pada bulan April-Juni dan Oktober-November. Aktivitas perikanan terganggu oleh cuaca buruk dan gelombang tinggi, yang mengakibatkan penurunan produksi perikanan tangkap. Hal ini berdampak pada pendapatan nelayan dan industri pengolahan ikan yang ada di Sulawesi Tenggara (BPS Sultra).
- Industri Pengolahan:
Meski industri pengolahan mengalami pertumbuhan yang signifikan pada triwulan IV 2023, kondisi cuaca ekstrem pada awal tahun 2024 mempengaruhi distribusi dan logistik bahan baku serta produk jadi. Kendala transportasi dan kerusakan infrastruktur jalan memperlambat laju produksi dan distribusi barang yang akan menyebabkan peningkatan harga dan mendorong inflasi (BPS Sultra)
- Pariwisata:
Cuaca ekstrem juga berdampak pada sektor pariwisata. Banjir dan kondisi cuaca yang tidak menentu mengurangi jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi wisata di Sulawesi Tenggara, yang berujung pada penurunan pendapatan bagi bisnis terkait pariwisata (Antara Sultra).
- Infrastruktur dan Pemukiman:
Infrastruktur publik seperti jalan raya dan jembatan mengalami kerusakan akibat banjir, yang menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi di beberapa daerah. Pemukiman warga juga terdampak, dengan beberapa rumah mengalami kerusakan yang membutuhkan biaya perbaikan signifikan (BPS Sultra).
Keseluruhan, cuaca ekstrem pada awal tahun 2024 telah memberikan tantangan besar bagi ekonomi Sulawesi Tenggara, terutama dalam sektor-sektor yang sangat bergantung pada kondisi cuaca yang stabil. Upaya pemulihan dan adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi penting untuk mengurangi dampak negatif di masa mendatang.
IV. Dampak Perubahan Iklim terhadap Inflasi
Cuaca ekstrem yang melanda Sulawesi Tenggara pada triwulan pertama tahun 2024 telah memberikan dampak signifikan pada inflasi di wilayah tersebut. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi year-on-year (y-on-y) di Sulawesi Tenggara pada Februari 2024 mencapai 2,90%, dengan kenaikan tertinggi terjadi di Kabupaten Konawe sebesar 4,10% (BPS Sultra) (BPS).
Penyebab utama inflasi ini adalah kenaikan harga pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, yang mengalami peningkatan sebesar 6,34%. Cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan banjir telah merusak tanaman dan infrastruktur pertanian, menyebabkan penurunan pasokan pangan dan peningkatan harga barang-barang kebutuhan pokok. Selain itu, gangguan transportasi akibat cuaca buruk juga memperburuk distribusi barang, meningkatkan biaya logistik dan pada akhirnya mempengaruhi harga barang di pasar (BPS Sultra) (BPS).
Kenaikan harga pangan ini berdampak langsung pada inflasi, karena kelompok makanan merupakan salah satu komponen terbesar dalam Indeks Harga Konsumen (IHK). Inflasi yang lebih tinggi mempengaruhi daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah yang paling merasakan dampaknya karena pengeluaran mereka sebagian besar digunakan untuk kebutuhan pokok (BPS Sultra).
Selain itu, kenaikan harga energi dan biaya transportasi juga berkontribusi terhadap inflasi. Kondisi cuaca buruk menyebabkan gangguan pasokan listrik dan bahan bakar, meningkatkan biaya energi bagi konsumen dan bisnis. Biaya transportasi yang meningkat juga mempengaruhi harga berbagai barang dan jasa lainnya, semakin menekan inflasi (BPS Sultra) (BPS).
Secara keseluruhan, cuaca ekstrem di Sulawesi Tenggara pada awal tahun 2024 tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik dan ekonomi langsung tetapi juga memicu tekanan inflasi yang lebih tinggi, berdampak pada stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.
Perbandingan Produksi Padi Januari-April Tahun 2023 dan 2024
Produksi padi di Sulawesi Tenggara umumnya dipengaruhi oleh musim, dengan puncak produksi terjadi pada bulan April-Juni dan Oktober-November. Cuaca ekstrem seperti badai dan gelombang tinggi dapat mengganggu aktivitas penanaman dan panen padi, dan berakibat pada penurunan produksi. Fluktuasi harga gabah dapat memengaruhi minat petani untuk menanam padi. Kebijakan pemerintah, seperti penentuan zona tanam dan peraturan penanaman padi, juga dapat memengaruhi produksi padi.
Beberapa komoditas di Provinsi Sulawesi Tenggara terdampak langsung oleh kondisi cuaca ekstrem, khususnya hujan lebat dan banjir dan kemarau. Berikut adalah beberapa komoditas utama yang terkena dampak:
- Padi dan Jagung:
- Padi: Curah hujan tinggi dan banjir menyebabkan kerusakan pada sawah, mengurangi hasil panen dan kualitas padi. Banjir merendam sawah dalam waktu yang lama, mengakibatkan tanaman padi membusuk dan gagal panen (BPS Sultra) (Antara Sultra).
- Jagung: Seperti padi, tanaman jagung juga terpengaruh oleh genangan air dan banjir, menyebabkan penurunan hasil panen dan peningkatan risiko penyakit tanaman yang disebabkan oleh kelembapan berlebih (Antara Sultra).
- Sayur-sayuran dan Buah-buahan:
- Sayuran: Sayuran seperti cabai, tomat, dan sayuran daun sangat rentan terhadap cuaca ekstrem. Hujan lebat dan kelembapan tinggi meningkatkan risiko penyakit tanaman dan merusak kualitas produk yang dihasilkan (BPS Sultra) (Antara Sultra).
- Buah-buahan: Buah seperti mangga dan durian juga terpengaruh oleh cuaca ekstrem. Kelebihan air dapat menyebabkan buah membusuk atau jatuh sebelum matang, mengurangi produksi dan kualitas buah-buahan ini (Antara Sultra).
- Perikanan:
- Perikanan Laut dan Budidaya: Aktivitas perikanan terganggu oleh cuaca buruk dan gelombang tinggi, yang membatasi kegiatan melaut nelayan. Selain itu, tambak ikan dan udang terancam oleh banjir yang dapat merusak infrastruktur tambak dan mempengaruhi kesehatan ikan dan udang (Antara Sultra).
- Kelapa Sawit dan Kakao:
- Kelapa Sawit: Hujan lebat dapat mengganggu proses panen dan transportasi hasil sawit. Selain itu, kondisi basah yang terus-menerus dapat menyebabkan infeksi jamur pada tanaman sawit, mengurangi hasil produksi (Antara Sultra).
- Kakao: Tanaman kakao juga rentan terhadap kelembapan tinggi yang dapat meningkatkan risiko penyakit seperti black pod disease, yang menyerang buah kakao dan mengurangi hasil panen (Antara Sultra).
Dampak pada komoditas ini berkontribusi pada peningkatan harga barang-barang tersebut di pasar, yang pada gilirannya berdampak pada inflasi di Sulawesi Tenggara selama periode ini. Upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim serta perbaikan infrastruktur pertanian dan perikanan menjadi penting untuk mengurangi dampak negatif di masa mendatang (BPS Sultra) (Antara Sultra).
REFERENSI
Irawan, B. (2006) ‘Fenomena Anomali Iklim El Nino dan La Nina: Kecenderungan Jangka Panjang dan Pengaruhnya terhadap Produksi Pangan’, Forum penelitian Agro Ekonomi, 24(1), pp. 28–45. doi: 10.21082/fae.v24n1.2006.28-45.
Ismail, N. W. and Chan, S. M. (2019) ‘Impacts of the El Niño-Southern Oscillation (ENSO) on Paddy Production in Southeast Asia’, Climate and Development, 12(7), pp. 636–648. doi: 10.1080/17565529.2019.1673141
Suryana, A. (2014) ‘Menuju Ketahanan Pangan Indonesia Berkelanjutan 2025: Tantangan dan Penanganannya’, Forum penelitian Agro Ekonomi, 32(2), pp. 123–135. doi: 10.21082/fae.v32n2.2014.123-135.
Suwarno, S. (2010) ‘Meningkatkan produksi padi menuju ketahanan pangan yang lestari’, Pangan, 19(3), pp. 233–243
https://www.rri.co.id/daerah/603195/bmkg-staklim-sultra-musim-kemarau-dimulai-juni-2024 diakses tanggal 17 Mei 2024
https://edisiindonesia.id/2024/02/02/bmkg-prediksi-puncak-musim-hujan-di-sultra-terjadi-pada-maret-juni-2024/#:~:text=BMKG%20Prediksi%20Puncak%20Musim%20Hujan%20di%20Sultra%20Terjadi%20pada%20Maret%2DJuni%202024,-News&text=KENDARI%2C%20EDISIINDONESIA.id%20%E2%80%93%20Badan,terjadi%20pada%20Maret%2DJuni%202024. diakses tanggal 17 Mei 2024
https://sultra.tribunnews.com/2023/10/24/musim-hujan-di-sulawesi-tenggara-diprediksi-bmkg-bertahap-mulai-november-puncaknya-januari-2024. Penulis: Amelda Devi Indriyani | Editor: Sitti Nurmalasari


