Menghirup udara segar pengalaman kerja nyata di luar ruang kelas, puluhan mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Akuntansi Indonesia (IMAI) Simpul Sulawesi Tenggara mengunjungi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Provinsi Sulawesi Tenggara pada Jumat, 22 Mei 2026. IMAI Simpul Sulawesi Tenggara merupakan wadah mahasiswa akuntansi dari berbagai perguruan tinggi di Sulawesi Tenggara untuk mengembangkan kompetensi dan memperluas jejaring profesional. Melalui kunjungan ini, para mahasiswa memperoleh wawasan langsung mengenai pengelolaan keuangan negara, peran strategis DJPb, serta penerapan ilmu akuntansi dalam dunia kerja pemerintahan.
Kegiatan Study Tour ini tidak sekadar menjadi kunjungan edukatif biasa, melainkan bagian dari implementasi program inovatif Kanwil DJPb Sulawesi Tenggara Mengajar (KASUAMI) yang dirancang sebagai ruang edukasi dan transfer pengetahuan langsung dari para praktisi keuangan negara kepada generasi muda calon akuntan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai pengelolaan APBN, peran DJPb, serta penerapan ilmu akuntansi dalam praktik pengelolaan keuangan negara.
Kegiatan ini juga mendapat sambutan istimewa dengan dibuka langsung oleh Kepala Kanwil DJPb Sulawesi Tenggara, Iman Widhiyanto. Dalam sambutannya, Ia menekankan peran strategis DJPb sebagai representasi Bendahara Umum Negara di daerah. Ia memaparkan bahwa akuntansi pemerintahan bukan sekadar angka, melainkan instrumen vital untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan APBN kepada publik. Pesan kuat yang juga disampaikan adalah komitmen DJPb dalam memberikan pelayanan prima dengan prinsip biaya layanan nol rupiah (Rp0), sebuah wujud nyata pelayanan publik yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Memasuki sesi inti, Kepala Seksi Analisis Sistem Pelaporan Keuangan (ASPLK), Agastya Vitadhani, yang didampingi oleh Kepala Bidang Pembinaan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan (PAPK), I Gede Suarnaya selaku moderator, membawa mahasiswa menyelami dinamika pengelolaan keuangan negara. Materi yang disajikan tidak bersifat teoretis semata, melainkan menyentuh esensi praktis seperti siklus pengelolaan APBN, penyusunan Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL) dan LKBUN, hingga tantangan nyata dalam mempertahankan kualitas laporan keuangan pemerintah. Para mahasiswa juga diperkenalkan dengan ekosistem digitalisasi keuangan negara, seperti pemanfaatan sistem SAKTI, SPAN, dan MONSAKTI yang kini menjadi tulang punggung operasional di Kementerian Keuangan.
Suasana kian hidup saat sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung sangat interaktif. Uswatun Ulma dari Universitas Sembilanbelas November Kolaka menyoroti tantangan teknis pencatatan transaksi dan langkah penanganan jika ditemukan kesalahan akuntansi. Menanggapi hal ini, I Gede Suarnaya menjelaskan mekanisme tegas namun sistematis melalui rekonsiliasi berkala antara Unit Akuntansi Satuan Kerja (UAKPA) dan KPPN, yang wajib tuntas hingga terbitnya Surat Hasil Rekonsiliasi (SHR) untuk menghindari potensi temuan. Sementara itu, Anisa Zahra dari Universitas Halu Oleo mengangkat isu makro yang cukup kritis mengenai evaluasi ekonomi regional, dimana besaran anggaran belum tentu sebanding dengan dampak pembangunan yang dirasakan masyarakat. Agastya menjawab dengan cerdas bahwa kunci keberhasilan terletak pada kualitas pelaksanaan program dan kinerja pemerintah daerah, di mana DJPb berperan menyusun berbagai kajian fiskal sebagai bahan evaluasi.
Pembelajaran tidak berhenti di ruang aula. Peserta kemudian diajak mengelilingi lingkungan kerja melalui sesi Office Tour yang dipandu oleh Sekar Candra Triana Mukti. Pada kesempatan ini, mahasiswa mendapat penjelasan langsung dari Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II mengenai peran Kanwil DJPb sebagai Regional Chief Economist (RCE). Di sini, mahasiswa menyadari bahwa DJPb tidak hanya berkutat pada transaksi dan laporan, tetapi juga melakukan konsolidasi data fiskal untuk dilahirkan menjadi rekomendasi kebijakan berbasis data yang mendorong pembangunan daerah lebih tepat sasaran.
Melalui kegiatan ini, Kanwil DJPb Sulawesi Tenggara berhasil menunjukkan wajah humanis dari birokrasi pengelolaan keuangan negara. Jembatan yang dibangun antara dunia akademik dan instansi pemerintah ini diharapkan tidak hanya menambah wawasan sektor publik bagi mahasiswa, tetapi juga menanamkan motivasi dan menyiapkan kader-kader terbaik yang kelak akan mengisi jawatan-jawatan strategis di lingkungan Kementerian Keuangan, serta mendorong tumbuhnya integritas dalam pengelolaan keuangan negara.


