
Rapat Komite/Pleno ALCo Regional Sumsel Periode s.d. 31 Desember 2025 (20/01/2026)
Palembang, 20 Januari 2026 - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Sumatera Selatan hingga 31 Desember 2025 menunjukkan ketahanan fiskal yang tetap terjaga. Pendapatan negara menutup tahun dengan capaian kuat meskipun tekanan global masih tinggi, sementara belanja negara menjalankan fungsi stabilisasi secara efektif di tengah kebijakan efisiensi. Stabilitas ekonomi daerah juga tercermin dari surplus perdagangan luar negeri yang semakin melebar serta perbaikan berkelanjutan pada indikator kesejahteraan masyarakat.
Dari sisi pendapatan negara, Sumatera Selatan berhasil mencapai realisasi sebesar Rp16,45 triliun atau 93,91% dari target, tumbuh positif dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian ini terutama didorong oleh penerimaan perpajakan yang mencapai Rp13,22 triliun atau 88,80% dari target, tumbuh 7,31% (yoy). Implementasi coretax dan meningkatnya setoran PPN serta PPh Badan dari sektor-sektor unggulan seperti kelapa sawit, karet, dan perhutanan memainkan peran penting dalam menopang kinerja perpajakan. Pada saat yang sama, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp482,73 miliar atau 279,26% dari target, tumbuh kuat sebesar 40,83% (yoy) sejalan dengan meningkatnya harga patokan ekspor dan volume ekspor CPO serta produk turunannya. Meskipun penerimaan PNBP mengalami kontraksi, kontribusinya tetap signifikan melalui optimalisasi pemanfaatan BMN dan kinerja lelang.
Belanja negara di Sumatera Selatan terealisasi sebesar Rp48,25 triliun atau 95,30% dari pagu, meskipun secara tahunan terkontraksi -8,85% (yoy). Belanja Kementerian Negara/Lembaga turut mengalami tekanan dengan realisasi Rp14,49 triliun atau 92,54% dari pagu, terdampak oleh kebijakan efisiensi anggaran serta menurunnya aktivitas belanja modal. Di sisi lain, Transfer ke Daerah (TKD) tetap menjadi penyokong utama fiskal regional dengan realisasi Rp33,76 triliun atau 96,53% dari pagu, tumbuh 2,02% (ctc). Stabilitas penyaluran TKD, terutama DBH dan DAK Non Fisik, terus memperkuat kesinambungan pembangunan daerah.
Surplus neraca perdagangan menjadi salah satu penanda ketangguhan perekonomian Sumatera Selatan. Sepanjang 2025, Sumsel membukukan surplus perdagangan sebesar USD5.603,35 juta, tumbuh 19,38% (yoy). Ekspor mencapai USD6.670,27 juta, didominasi komoditas batubara, karet, dan pulp, sementara impor tercatat menurun signifikan mencapai USD1.066,91 juta, terutama pada komoditas mesin, pupuk, dan kayu kasar. Kondisi ini memperkuat ketahanan eksternal dan menopang stabilitas ekonomi daerah.
Indikator ekonomi makro dan kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan ekonomi Sumsel tetap solid pada level 5,20% (yoy), tertinggi kedua di Sumatera dan berada di atas angka nasional. Inflasi terjaga stabil pada 2,91% (yoy), didukung terjaganya pasokan bahan pangan dan pengendalian harga yang efektif. Dari sisi sosial ekonomi, tingkat pengangguran turun menjadi 3,69%, tingkat kemiskinan menyusut menjadi 10,15%, sementara ketimpangan menurun yang tercermin dari perbaikan Gini Ratio menjadi 0,311. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga mengalami peningkatan menjadi 74,76, menandai perbaikan kualitas hidup masyarakat.
Capaian PNBP Kekayaan Negara dan Lelang turut memberikan kontribusi positif bagi kinerja fiskal Sumsel. Hingga akhir 2025, realisasi PNBP mencapai Rp85,05 miliar atau 129,8% dari target. Kontributor terbesar berasal dari BMN sebesar Rp44,53 miliar dan lelang sebesar Rp40,27 miliar, sementara PNBP dari piutang negara mencapai Rp235,61 juta atau 1.157,5% dari target. Kinerja positif ini dipengaruhi optimalisasi aset negara serta efektivitas penyelesaian piutang.
Sementara itu, proyek-proyek strategis nasional (PSN) di wilayah Sumatera Selatan juga terus berjalan. Total pendanaan lahan PSN mencapai Rp2,045 triliun sepanjang tahun 2025, tumbuh 13,64% (yoy). Proyek terbesar meliputi Jalan Tol Simpang Indralaya–Muara Enim, Jalan Tol Pematang Panggang–Kayuagung, dan Jalan Tol Betung–Tempino–Jambi, yang diharapkan mempercepat konektivitas dan pertumbuhan ekonomi wilayah. Seluruh desa dan kelurahan pada Provinsi Sumatera Selatan telah membentuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dengan total berjumlah 3.258 koperasi.
Secara keseluruhan, APBN Sumsel menutup tahun 2025 dengan kinerja yang kredibel, stabil, dan mampu menjawab berbagai tantangan ekonomi. Dengan capaian pendapatan yang kuat, pengelolaan belanja yang adaptif, serta indikator makroekonomi yang tetap tangguh, APBN terus menjadi instrumen utama stabilitas fiskal dan penggerak pembangunan di Sumatera Selatan.
Unduh dalam format PDF: APBN Sumsel Menutup Tahun 2025 dengan Kinerja Stabil: Pendapatan Menguat, Belanja Terkendali, dan Surplus Perdagangan Melebar


