
Rapat Komite/Pleno ALCo Regional Sumsel Periode s.d. 31 Januari 2026 (19/02/2026)
Palembang, 19 Februari 2026 - Kinerja APBN di wilayah Sumatera Selatan hingga 31 Januari 2026 menunjukkan awal tahun yang solid. Pendapatan negara tumbuh positif, belanja negara meningkat, dan indikator ekonomi daerah tetap terjaga di tengah tekanan inflasi dan perlambatan ekspor komoditas. Kinerja ini mencerminkan sinergi pelaksanaan tugas fungsi pengelolaan fiskal oleh unit vertikal Kementerian Keuangan bersama Pemerintah Daerah di Provinsi Sumatera Selatan.
Pendapatan Negara terealisasi sebesar Rp1,13 triliun (5,33% target) atau tumbuh 7,13% (yoy).Penerimaan perpajakan mencapai Rp866,09 miliar dan tumbuh 10,7% (yoy), didorong peningkatan setoran PPN dan PPh Pasal 21 seiring membaiknya aktivitas sektor sawit dan karet serta implementasi coretax. Penerimaan kepabeanan dan cukai oleh Ditjen Bea dan Cukai sebesar Rp19,78 miliar, terkontraksi -54,41% (yoy) akibat penurunan harga patokan ekspor dan volume CPO. Namun Bea Masuk tumbuh 145,98% (yoy) seiring peningkatan impor mesin dan bahan baku. Di bidang pengawasan, Bea Cukai melakukan 26 penindakan dengan potensi penerimaan negara Rp2,7 miliar, termasuk penindakan jutaan batang rokok ilegal dan barang kena cukai ilegal lainnya. PNBP tercatat Rp241,89 miliar (9,79% target) atau tumbuh 6,48% (yoy), terutama dari layanan BLU rumah sakit.
Dari sisi Belanja Negara, realisasi mencapai Rp3,89 triliun (10,24% pagu) atau tumbuh 3,51% (yoy). Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp611,96 miliar tumbuh 21,84% (yoy), dipengaruhi kenaikan belanja pegawai, belanja barang sektor pelayanan publik, dan belanja modal.
Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp3,28 triliun (13,49% pagu) tumbuh 0,68% (yoy), terutama dari DAU dan DAK Non Fisik untuk mendukung gaji ASN daerah, layanan pendidikan, kesehatan, dan operasional pemerintahan. Penyaluran TKD ini memperkuat kapasitas fiskal Pemerintah Daerah dalam menjaga layanan publik dan stabilitas ekonomi daerah.
Dari sisi pengelolaan kekayaan negara realisasi PNBP BMN mencapai Rp2,27 miliar (7,29% target). Kontribusi utama berasal dari pendapatan BLU (42%), pemindahtanganan (31%), dan sewa (23%). Optimalisasi pemanfaatan BMN dan percepatan penagihan piutang menjadi fokus triwulan I 2026.
Secara makro, ekonomi Sumsel tetap menunjukkan ketahanan. Neraca perdagangan mencatat surplus USD286,56 juta, meski terkontraksi akibat penurunan ekspor batubara, pulp, dan karet. Inflasi berada pada 3,33% (yoy), Indeks Keyakinan Konsumen tetap optimis di level 128,11, dan pasar tenaga kerja menunjukkan tren perbaikan dengan peningkatan pekerja formal.
Secara keseluruhan, APBN Sumsel mengawali tahun 2026 secara kredibel dan terjaga. Sinergi penerimaan negara, pelaksanaan belanja yang efektif, penguatan pengawasan, serta optimalisasi aset negara menjadi fondasi penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di Sumatera Selatan.
Unduh dalam format PDF: APBN Sumsel Mengawali Tahun 2026 dengan Momentum Positif


