
Rapat Komite/Pleno ALCo Regional Sumsel Periode s.d. 30 April 2026 (20/05/2026)
Palembang, 29 April 2026 - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Sumatera Selatan hingga 31 Maret 2026 tetap menunjukkan peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global dan tekanan inflasi. Aktivitas ekonomi mulai menguat di awal tahun, ditopang oleh konsumsi masyarakat dan investasi, meskipun terdapat perlambatan pada sisi fiskal.
Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Sumatera Selatan hingga 30 April 2026 tetap menunjukkan kondisi yang terjaga dan resilien di tengah dinamika ekonomi global dan nasional. Pendapatan negara tumbuh positif, aktivitas ekonomi tetap bergerak stabil, serta indikator kesejahteraan masyarakat menunjukkan perbaikan.
Hingga akhir April 2026, pendapatan negara di Sumatera Selatan tercatat sebesar Rp5,29 triliun atau 25,00% dari target. Capaian ini terutama didorong oleh kinerja penerimaan pajak yang mencapai Rp4,02 triliun (23,12% dari target) dengan pertumbuhan 11,69% (yoy). Pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan setoran masa PPN Pemungut Bendahara Pemerintah dan Pembayaran PPh Tahunan Badan sektor sawit. Sementara itu, penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat realisasi sebesar Rp106,54 miliar (6,12% dari target) atau mengalami kontraksi 48,44% akibat penurunan harga patokan ekspor dan volume ekspor CPO beserta turunannya. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp1,26 triliun atau 51,17% dari target, tumbuh 40,57% yoy dikarenakan peningkatan signifikan PNBP Lainnya yang bersumber dari Penerimaan Kembali Belanja Barang Tahun Anggaran Yang Lalu (TAYL).
Belanja negara hingga 30 April 2026 terealisasi sebesar Rp12,61 triliun atau 33,53% dari pagu, terkontraksi 1,30% (yoy). Belanja Pemerintah Pusat terealisasi sebesar Rp4,24 triliun (29,06% dari pagu), tumbuh 28,19% (yoy) didorong peningkatan belanja pegawai, akselerasi belanja barang, serta peningkatan belanja modal akibat efisiensi anggaran tahun sebelumnya (low base effect). Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi sebesar Rp8,37 triliun atau 36,36% dari pagu, mengalami kontraksi 11,60% (yoy). Seiring dengan penurunan alokasi TKD tahun 2026, namun kinerja Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik masih tetap optimal dalam mendukung pemenuhan belanja pokok daerah, operasional pemerintahan, dan layanan publik.
Pada sisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), kinerja hingga April 2026 menghadapi tantangan berupa melambatnya pendapatan dan belanja daerah. Pendapatan daerah terealisasi Rp6,4 triliun (17,13% dari pagu) dan belanja daerah terealisasi Rp6,55 triliun (16,69% dari pagu).
Aktivitas perekonomian Sumatera Selatan sampai dengan April 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap berada di level optimis (>100) dengan indeks 124,3 atau mengalami kenaikan 0,95% (yoy). Kredit Konsumsi hingga Maret 2026 juga menunjukkan tren peningkatan dengan tumbuh 9,53% (yoy). Sedangkan Impor Bahan Baku & Penolong hingga April 2026 lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, dengan komoditi impor didominasi oleh pupuk, kayu kasar, dan parts mesin. Kredit Investasi mengalami peningkatan 16,11% (yoy) di tengah penurunan Kredit Modal Kerja 0,19% (yoy) yang mengindikasikan dunia usaha cenderung ekspansi jangka panjang meski aktivitas operasional harian sedang mengalami perlambatan.
Dari sisi ekonomi regional, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan tetap solid pada kisaran 5,34% (yoy), tertinggi ketiga di wilayah Sumatera meski berada di bawah pertumbuhan nasional (5,61% yoy). Inflasi April 2026 tercatat sebesar 1,63% (yoy), lebih rendah dibandingkan Maret, menunjukkan kondisi harga yang relatif terkendali. Pasar kerja menunjukkan perbaikan dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2026 turun menjadi 3,59% dibandingkan tahun sebelumnya. Indikator kesejahteraan lainnya juga membaik, tercermin dari penurunan tingkat kemiskinan menjadi 9,85%, perbaikan Gini Ratio menjadi 0,298, serta peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) menjadi 132,76.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Sumatera Selatan hingga April 2026 masih mencatatkan surplus sebesar USD1,79 miliar, meskipun mengalami kontraksi atau penurunan 21,05% (yoy). Ekspor Sumsel didominasi komoditas karet, batu bara, dan pulp, sedangkan impor terutama berasal dari mesin, pupuk, serta peralatan industri. Penurunan surplus dipengaruhi perlambatan ekspor komoditas unggulan, khususnya CPO dan produk turunannya.
Ke depan, Kementerian Keuangan melalui sinergi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara di Sumatera Selatan akan terus memperkuat koordinasi fiskal pusat dan daerah untuk menjaga stabilitas ekonomi regional, memperkuat efektivitas belanja negara dan daerah, menjaga daya beli masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang inklusif dan berkelanjutan.
Unduh dalam format PDF: Kinerja APBN Sumatera Selatan s.d. 30 April 2026: Aktivitas Ekonomi Menguat dan Kesejahteraan Masyarakat Terjaga Positif


