
A. Perkembangan Ekonomi dan Kesejahteraan
- Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Sumsel bulan Juni 2026 berada di level optimis (>100) dengan kenaikan 14,56% (yoy) dan 0,70% (mtm).
- PPN (tanpa restitusi) s.d Juni 2026 tumbuh positif 18,3% (yoy)
- Impor Bahan Baku & Penolong hingga Juni 2026 lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, dengan komoditi impor didominasi oleh pupuk, kayu kasar, dan parts mesin.
- Impor Barang Modal hingga Juni 2026 lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, dengan komoditi impor didominasi mesin, pompa, serta reaktor, turbin, dan generator; meski secara bulanan terjadi penurunan dibanding Juni 2025.
- Inflasi Sumsel bulan Juni 2026 masih terkendali 2,89% (yoy), lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yoy Juni 2026 terbesar adalah emas perhiasan, bawang bensin, bawang merah, dan minyak goreng.
- NTP Sumsel bulan Juni menjadi 149,39 (tertinggi dibanding periode-periode sebelumnya), meningkat 5,55% (mtm) dan 22,07% (yoy) karena Indeks Harga Terima Petani (It) konsisten lebih tinggi (197,12) dibanding Indeks Harga Bayar Petani (Ib) sebesar 131,95.
B. Kinerja APBN Regional Sumatera Selatan
Pendapatan Negara
Pendapatan negara APBN Regional Sumsel per 30 Juni 2026 sebesar Rp7,95 triliun
- Penerimaan pajak
Penerimaan Pajak s.d. Juni 2026 terkumpul sebesar Rp6.095,40 miliar atau tumbuh sebesar 18% berdasarkan Wajib Pajak terdaftar di Provinsi Sumatera Selatan, serta pencatatan penerimaan setelah implementasi coretax menggunakan deposit yang dapat menjadi pengurang tahun 2026.
Penerimaan bulan Juni 2026 mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu dikarenakan Peningkatan setoran masa PPN sektor administrasi pemerintahan, serta peningkatan setoran masa atas PPh Badan dengan kontribusi terbesar dari Industri Sektor Sawit, Bank Umum Konvensional, dan Industri Karet Remah. Dinamika kondisi penerimaan per Jenis Pajak utama s.d. Juni 2026 (yoy) sebagai berikut:
- PPN DN tumbuh 51,16% dikarenakan peningkatan setoran PPN Pemungut Bendahara Pemerintah atas Belanja Modal Aktivitas Bidang Perumahan dan Kesehatan, serta Restitusi yang tidak sebesar tahun lalu.
- PPh Badan tumbuh 23,19% dikarenakan Peningkatan setoran masa atas PPh Badan dengan kontribusi terbesar dari Industri Sektor Sawit, Bank Umum Konvensional, dan Industri Karet Remah, serta restitusi yang tidak sebesar tahun lalu.
- PPh 21 tumbuh 76,76% dikarenakan peningkatan setoran atas masa pembayaran Gaji/Tunjangan dengan kontribusi terbesar dari Administrasi Pemerintahan Bidang Kesehatan dan Bank Umum Konvensional.
- PPh Final tumbuh 23,55% dikarenakan peningkatan setoran masa PPh Final aktivitas Pemerintahan di Bidang Perumahan.
- PPh Pasal 23 tumbuh 0,37% dikarenakan peningkatan setoran masa dari kegiatan administrasi pemerintahan.
- PPh Orang Pribadi kontraksi -9,32% dikarenakan implementasi coretax satu kesatuan ekonomi dengan memakai NPWP Kepala Keluarga.
- PPN Impor tumbuh 28,49% dikarenakan peningkatan setoran masa PPN Impor Bahan Baku atas aktivitas perdagangan besar bahan Makanan Minuman, serta industri karet remah.
- Sektor Perdagangan tumbuh 26,88% dikarenakan peningkatan setoran PPN Dalam Negeri WP Sektor Perdagangan Besar Sawit dan Perdagangan Hasil Kehutanan, serta peningkatan PPh Badan atas Perdagangan Besar Sawit dan Perdagangan Besar atas Balas Jasa (Fee) atau Kontrak.
- Sektor Industri tumbuh 30,43% dikarenakan Peningkatan Pembayaran PPh Tahunan Badan dengan kontribusi terbesar dari Industri Crude Palm Oil (CPO) dan restitusi yang tidak sebesar tahun lalu.
- Sektor Administrasi Pemerintahan tumbuh 20,51% dikarenakan peningkatan setoran PPN Pemungut Instansi Pemerintah dengan kontribusi utama dari Bidang perumahan, Kesehatan, dan pendidikan. Serta Peningkatan setoran PPh 21 atas Belanja Pegawai.
- Sektor Pertanian, Kehutanan, & Perikanan tumbuh 22,88% karena peningkatan setoran PPh Tahunan Badan dan setoran masa PPN dari WP Sektor Perkebunan Kelapa Sawit.
- Sektor Aktivitas Keuangan tumbuh 90,82% dikarenakan peningkatan PPh 21 atas pembayaran gaji/tunjangan pegawai dan pembayaran PPh Tahunan Badan dari Bank Umum Konvensional .
- Sektor Pengangkutan dan Penyimpanan tumbuh 4,28% dikarenakan Peningkatan pembayaran PPh Tahunan Badan dan PPh Pasal 23 atas Jasa Penanganan Kargo (Bongkar Muat Barang).
- Sektor Pejabat Negara, Karyawan, dll kontraksi –7,30% dikarenakan implementasi coretax satu kesatuan ekonomi dengan memakai NPWP Kepala Keluarga yang mengakibatkan PPh Tahunan Orang Pribadi Istri Gabung menggunakan NIK Suami.
- Penerimaan Bea dan Cukai
Realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp205,37 miliar (55,27% dari target Rp371,6 miliar) tumbuh negatif -20,08% (yoy).
- Realisasi Bea Masuk s.d. bulan Juni 2026 adalah sebesar Rp71,02 miliar, namun dikarenakan terdapat restitusi sebesar Rp1,46 miliar sehingga capaian realisasi Bea masuk hanya sebesar Rp69,55 miliar atau 61,41% dari target. Realisasi penerimaan bea masuk tumbuh positif 135,21% (yoy), utamanya, ditopang oleh importasi beberapa jenis barang seperti mesin, baja lembaran lapis, dan mcb.
- Realisasi Bea Keluar s.d. Juni 2026 adalah sebesar Rp135,13 miliar (52,31% dari target Rp258,34 miliar). Komoditi ekspor yang dikenakan Bea keluar s.d. Juni 2026 masih didominasi CPO dan produk turunannya. Penerimaan Bea keluar tumbuh negatif -40,28% (yoy), karena dipengaruhi oleh penurunan volume eksportasi CPO dan produk turunannya sebesar -7,20%.
- Realisasi Cukai s.d. Juni 2026 adalah sebesar Rp678,57 juta. Penerimaan cukai berasal dari denda administrasi cukai dengan rincian : Ultimum Remidium (UR) rokok sejumlah 254.760 batang dan MMEA sejumlah 171.550 mL dengan total besaran sanksi Rp498.574.000. Kemudian, denda administrasi MMEA sebesar Rp130.000.000.
- Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
Kinerja capaian PNBP wilayah Sumsel mengalami pertumbuhan positif sebesar 24,55% (yoy), dengan mencapai Rp1,65 triliun (66,76% dari target Rp2,47 triliun).
Pada periode ini, PNBP lainnya menyumbang porsi sebesar 50,59% dari total PNBP, dan PNBP BLU menyumbang sebesar 49,41%.
- Pendapatan PNBP BLU sebesar Rp815,41 miliar atau 43,6% dari target. Tiga realisasi tertinggi berasal dari jasa pelayanan rumah sakit Rp629,94 miliar, jasa pelayanan pendidikan Rp159,01 miliar dan jasa penyediaan barang/jasa lainnya Rp9,29 miliar.
- Pendapatan PNBP Lainnya sebesar Rp834,75 miliar atau 138,79% dari target. Tiga realisasi tertinggi berasal dari penerimaan kembali belanja barang TAYL Rp406,59 miliar, jasa kepelabuhanan Rp75,52 miliar dan pendapatan uang pengganti Tipikor Rp30,62 miliar.
Belanja Negara:
Realisasi belanja negara sebesar Rp19,01 triliun atau 49,92% dari pagu.
- Belanja K/L Rp7,14 triliun (47,43% dari Pagu)
Peningkatan belanja K/L sampai dengan 30 Juni 2026 di tengah kebijakan penajaman belanja dipengaruhi oleh peningkatan belanja pegawai sebesar 20,04% (yoy) sebagai akibat dari kenaikan gaji pokok pegawai dan peningkatan formasi PPPK, pelaksanaan yang lebih akseleratif pada belanja barang (18,01%, yoy), serta peningkatan belanja modal akibat dari pengaruh efisiensi anggaran pada tahun sebelumnya (low base effect) sebesar 402,86% (yoy).
- Transfer ke Daerah Rp11,88 triliun (51,55% dari Pagu)
Penyaluran TKD terkontraksi 18,33% (yoy) seiring dengan penurunan alokasi di tahun 2026. Meskipun terkontraksi, kinerja TKD hingga Juni, dioptimalkan melalui realisasi penyaluran DAU, DAK Fisik, dan DAK Non Fisik dalam mendukung pemenuhan belanja pokok daerah, operasional pemerintahan, dan layanan publik.
C. Penyampaian Kinerja Pelaksanaan APBD Sumatera Selatan
- Kinerja APBD per Pemda s.d 30 Juni 2026 menunjukkan kontraksi. Secara konsolidasi kinerja di bulan Juni 2026 menunjukkan surplus.
- Persentase realisasi pendapatan daerah tertinggi terdapat pada OKI sebesar 47,05% sedangkan persentase realisasi terendah terdapat pada Pemprov Sumsel sebesar 36,35%.
- Persentase realisasi belanja daerah tertinggi terdapat pada OKI sebesar 41,08% sedangkan persentase realisasi belanja daerah terendah terdapat pada Lahat sebesar 21,97%.
- Dari perbandingan (rasio) antara surplus/defisit dengan pendapatan daerah, secara rata-rata sebesar -11,97%. Terdapat 5 Pemda nilai rasio teratas yaitu Ogan Ilir (30,93%), Muratara (27,80%), Pemprov Sumsel (25,99%), OKU (23,23%) dan Empatlawang (20,20%).
D. Kinerja Penyaluran Kredit Program Sumsel
- Sampai dengan 30 Juni 2026, realisasi KUR di Sumsel mencapai 50,18% dari target dan masih terus tumbuh positif sebesar 1,40% (y-o-y) atau secara nominal yaitu sebesar Rp4.458,42 miliar kepada 55.945 debitur.
- Berdasarkan skema penyaluran, Jumlah Penyaluran KUR Wilayah Sumatera Selatan sebesar 65,25% berada pada segmen Skema Mikro. Sedangkan Jika berdasarkan sektor, Penyaluran KUR wilayah Sumatera Selatan Penyaluran tertinggi masih berada pada Sektor Pertanian, Perburuan, dan Kehutanan yang sebesar Rp. 2.706,83 miliar atau sebesar 60,71% dari total penyaluran.
- Jumlah penyaluran tertinggi terdapat pada Kabupaten Musi Banyuasin yang baru menduduki peringkat ini dari Maret 2026, di mana pada tahun-tahun sebelumnya Kabupaten OKI yang menduduki peringkat pertama penyaluran selama 4 tahun berturut-turut.
- Tiga Lembaga perbankan dengan penyaluran tertinggi yaitu oleh Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan Bank Syariah Indonesia.
- Kinerja Pembiayaan UMi Wilayah Sumatera Selatan sampai dengan 30 Juni 2026 tumbuh Positif sebesar 31,62% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (y-o-y).
- Secara total Kinerja Pembiayaan UMi Wilayah Sumatera Selatan mencapai Rp307,81 Miliar dan tersalur kepada 44.705 Debitur.
- Di Wilayah Sumatera Selatan terdapat 5 LKBB yang menyalurkan UMi, namun sebagian besar Pembiayaan UMi disalurkan oleh PT. Permodalan Nasional Madani yaitu sebesar 97,04% dari total pembiayaan UMi.
- Berdasarkan Sektor, Pembiayaan UMi masih didominasi sektor Perdagangan Besar dan Eceran yaitu sebesar 97,90% dari total pembiayaan di Wilayah Sumatera Selatan.
- Berdasarkan kinerja wilayah, Kota Palembang masih menjadi wilayah dengan kinerja penyaluran pembiayaan UMi tertinggi di Sumatera Selatan yaitu sebesar Rp61,30 miliar.
Palembang, 27 Juli 2026
Narahubung Media:
Gisela Andriani
Kanwil DJPb Provinsi Sumatera Selatan
Jl. Kapten A. Rival No. 2, Palembang - 30 129, Sungai Pangeran, Kec. Ilir Tim. I, Kota Palembang, Sumatera Selatan 30135

