S P S
Kau bekerja agar dapat menjaga langkah
dengan dunia dan dengan jiwa dunia
-Kahlil Gibran: Sang Nabi-
Ini bukan sebuah bahasa program komputer yang menjadi dasar pembuatan aplikasi akal imitasi, seperti PHP yang apabila kita teriakkan waktu malam di jalan pasti dikira penjual makanan dari sebuah pulau garam di timur Jawa. Bukan pula sebuah sistem yang ditempuh oleh seorang mahasiswa/i dalam satu semester periode pembelajaran di suatu perguruan tinggi. Tidak juga sebuah program yang biasa dipakai praktisi yang berkecimpung dalam dunia statistik.
Ini adalah senam, pantai dan sawah (terkadang juga sungai), sebuah program Jumat sehat yang dijalani secara rutin oleh intansi vertikal Kementerian Keuangan di ujung timur pulau para dewa.
Senam yang memadukan ketrampilan antara mata, tangan, kaki dan perintah dari otak. Ketika mata melihat pelatih yang berdiri di depan melakukan suatu gerakan, otak akan memerintahkan tangan terangkat ke atas sedangkan kaki melangkah ke kiri dan ke kanan. Namun tidak semudah itu ketika melakukannya dengan mengikuti gerakan pelatih yang sudah hafal di luar kepala karena sudah menjadi jalan hidupnya.
Ketika tangan kiri instruktur senam terangkat ke atas dan tangan kanan mengayun ke bawah, di sisi lain kaki melangkah ke depan dan ke belakang, terkadang untuk mengikutinya menyesuaikan gerakan kaki ke depan dan ke belakang, membuat gerakan tangan menjadi tidak seirama, yang terangkat yang sebelah mana, yang terayun ke bawah sebelah mana, sehingga yang ada malahan sebuah goyangan yang wis pokoke obah. Dilaksanakan di pekan pertama setiap bulan yang bisa menjadi semacam pemanasan sebelum kegiatan Jumat di pekan berikutnya.
Pulau Bali dengan beragam pantai menjadi sarana yang mengasyikkan ketika pagi sembari menikmati hangat mentari yang mulai menggugah, tapak kaki menapak pasir ditingkah dingin air laut menampar lembut hingga membasahi ujung celana.
Untuk mencapai pantai cukup menggunakan kendaraan yang ada, mobil, sepeda motor, sepeda, sesuai selera dan kemampuan tenaga serta kemauan untuk menuju tempat pertemuan daratan dan lautan. Dalam suatu studi, air laut yang mengandung garam sangat baik untuk memulihkan kembali badan setelah sehari-hari bergelut dengan kehidupan, segala capek, lelah dan lesu akan hilang terbawa ombak.
Kebesaran Tuhan tampak di depan mata ketika memandang lautan yang entah kenapa manusia belum mampu menguak misteri di dalamnya, meski pesawat luar angkasa sudah mendarat di bulan. Indonesia memiliki garis pantai terpanjang nomor 2 di dunia, dengan 2/3 wilayah berupa laut membentang 6,4 juta km2 serta beragam flora dan fauna yang menghuninya.
Terumbu karang, gunung api dalam laut, palung dalam laut menjadikan laut Indonesia sebagai wilayah megabiodiversitas terbesar dunia, dengan ribuan spesies ikan, rumput laut dan terumbu karang yang masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri.
Selain sebagai mata pencarian nelayan, laut dengan berbagai makhluk hidup yang menghuninya telah lama menjadi sumber konsumsi pangan, juga menghasilkan garam untuk penyedap makanan. Dan yang lebih penting laut juga krusial dalam menghentikan pemanasan global. Sebab, laut mampu menyerap 25 persen dari total emisi karbon di atmosfer dan menangkap 90 persen panas dari emisi karbon (kompas.id).
Meski sudah mulai menjadi kota, Kab. Karangasem dengan pusat di Amlapura memiliki sawah yang luas, dan kontur tanah yang naik turun menjadikan sawah sebagai pemandangan yang memanjakan mata.
Di desa, sawah merupakan pusat kehidupan, tak heran muncul ungkapan dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali, dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Sebagai mata pencarian utama, petani mengolah dan memperlakukan sawah seolah anggota keluarganya sendiri. Kebutuhan air, mengolah tanah, menanami dengan berbagai tanaman pangan terutama padi, memupuknya, menjaga dari serangan hama: wereng, tikus, burung, menjadikan sawah tak bisa lepas dari laku sehari-hari masyarakat desa.
Di berbagai daerah masih terdapat budaya untuk mensyukuri keberadaan sawah dengan sedekah bumi, kenduri sebagai wujud bahwa Tuhan menganugerahkan tanah dan alam untuk dipelihara bukan sekadar dieksploitasi tanpa memikirkan keberlangsungan dan masa depan generasi yang akan datang.
Berjalan di area persawahan, menyusuri pematang, menapak jalan desa yang masih berupa tanah, atau yang sudah dikeraskan menjadi jalan beton dengan prasasti bertuliskan dibangun menggunakan Dana Desa, memberikan satu pencerahan tersendiri.
Sungai sebagai penghubung antara hulu yang ada di gunung dan bermuara di laut, seolah menyatakan bahwa sejauh apapun berasal tujuan kita adalah satu, kembali ke asal.
Dengan kejernihan yang masih layak untuk digunakan sebagai air minum, menjadikan sungai di daerah Kab. Karangasem sebagai sumber air bagi masyarakat, terutama untuk mengairi sawah yang membentang sepanjang mata memandang.
Keajaiban yang tidak semua merasakan, satu kaki menapak sungai dan kaki yang lain menjejak pantai serta bercampurnya dua macam air memberi ketakjuban tersendiri, betapa kuasa Tuhan tak terbatas dan tak terhingga yang meluruhkan segala ego, sombong, ujub, mau menang sendiri dan tinggi hati.
Karena ajal tidak ada hubungannya dengan sakit dan sehat, mengingat betapa banyak orang yang sakit tapi tak kunjung disapa malaikat maut, dan betapa banyak yang meninggal tanpa ada jejak sakit sedikit pun. Olahraga bukan untuk menjaga kesehatan, tapi lebih kepada mensyukuri nikmat sehat yang terkadang kita lupakan begitu saja.



