Prospek Negara Indonesia di Tengah Krisis Energi Global
Oleh: Dhomas M Roikhan (Jafung PTPN Mahir KPPN Banjarnegara)
Di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang semakin meluas secara global, tentu semakin menimbulkan ketidakpastian ekonomi dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi termasuk Indonesia. Penutupan selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri pasokan energi dunia telah mengguncang pasar energi global dimana harga minyak brent sempat melonjak menjadi US$ 110 per barel, jauh di atas asumsi ekonomi makro yang digunakan pada APBN 2026 yaitu US$ 70 per barel. Kenaikan harga minyak tentunya akan menaikan harga komoditas lain sebagai subtitusi seperti gas alam yang juga mengalami kenaikan yang signifikan.
Indonesia sendiri merupakan salah satu Negara importir minyak, dimana produksi perusahaan dalam negeri tidak dapat mencukupi kebutuhan permintaan domestik. Peningkatan harga minyak global tentunya akan menekan APBN khususnya di pengeluaran subsidi BBM. Pemerintah sendiri telah mengumumkan beberapa langkah strategis untuk menjaga stabilitas diantaranya adalah realokasi belanja dan penerapan WFH untuk ASN.
Namun demikian, apabila dilihat dari prospek yang positif, Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam yang bisa menjadi subtitusi dari minyak sebagai sumber energi. Indonesia merupakan eksportir terbesar batu bara, minyak sawit, dan komoditas lain yang dibutuhkan oleh global. Harga batu bara dan minyak sawit sendiri sudah terdongkrak seiring dengan peningkatan harga minyak global. Peningkatan permintaan dan kenaikan harga atas komoditas yang dimiliki oleh Indonesia diharapkan mampu meningkatkan volume ekspor, royalty, dan akhirnya berujung pada peningkatan Penerimaan Negara Bukan pajak (PNBP).
Pemerintah juga harus menyiapkan strategi jangka panjang apabila ketegangan tidak kunjung mereda. APBN berpotensi mengalami defisit yang semakin melebar apabila harga energi semakin melambung. Harga energi yang meningkat selalu diiringi dengan kenaikan harga pangan dan distribusi.
Untuk menekan pengeluaran subsidi dalam jangka panjang, kebutuhan impor minyak dapat dikurangi dengan mempercepat ekosistem (EV) Elektronic Vehicles dan/atau peningkatan penggunaan minyak sawit dalam biofuel sehingga Indonesia dapat menekan kebutuhan impor BBM. Peningkatan kebutuhan Listrik tentu dapat ditangani dengan penambahan PLTU mengingat Indonesia sebagai salah satu penguasa batu bara dunia. Selain batu bara, Indonesia juga sebagai Negara khatulistiwa yang memiliki intensitas cahaya matahari tinggi sepanjang tahun tentunya memiliki potensi tenaga surya yang lebih baik daripada Negara lain apabila di ekspansi secara masif. Indonesia juga dapat menggunakan sumber energi lain untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri mulai dari gas alam, panas bumi, tenaga air, dan lainnya.
Singkat kata apabila Indonesia berhasil mengurangi ketergantungan impor minyak, tentu beban subsidi BBM pemerintah yang sangat besar dapat dialihkan ke pengembangan sumber energi lain yang menjadi keunggulan Indonesia seperti batu bara, minyak sawit, tenaga surya, panas bumi. Dengan pengelolaan yang baik diharapkan Indonesia menjadi swasembada energi dan bahkan meningkatkan surplus ekspor energi yang tentunya meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak(PNBP).




