Tidak ada yang menyangka hari itu menjadi hari yang tak biasa. Tiba-tiba saja semua orang meributkan sebuah kabar. Pesawat Lion Air JT 610 dari Jakarta ke Pangkal Pinang jatuh beberapa menit setelah take off.
Hati saya mencelos. Tatkala saya dengar kabar tambahan bahwa dalam pesawat itu ada 21 pegawai Kementerian Keuangan, saya langsung termenung.
Di luar sana, banyak orang bertanya-tanya kok bisa ada banyak pegawai Kementerian Keuangan dalam satu pesawat. Namun itu bisa dipahami. Janji setia utnuk siap ditempatkan di mana saja membuat banyak pegawai Kementerian Keuangan pulang Jumat (malam) kembali Senin (pagi). JT 610 adalah pesawat paling pagi yang mengantarkan penumpang dari Jakarta ke Pangkal Pinang. Dan sahabat-sahabat yang baru saja pulang menemui keluarganya setelah menghadiri acara di Kementerian Keuangan.
Saya tidak bisa menahan air mata manakala daftar nama korban jatuhnya pesawat tersebut dirilis. Salah satunya adalah Kepala KPKNL Pangkal Pinang, Reni Aryanti. Beliau adalah perempuan lain yang menjadi kepala kantor selain saya di Provinsi Bangka Belitung. Kami cukup dekat karena seringnya berinteraksi setiap kali mengadakan kegiatan bersama antar eselon I lingkup Kementerian Keuangan Provinsi Bangka Belitung.
Dari 21 korban yang berasal dari Kementerian Keuangan itu, 6 di antaranya adalah pegawai Ditjen Perbendaharaan yang juga sering berinteraksi dengan KPPN Tanjung Pandan.
Suasana duka juga menyelimuti KPPN Tanjung Pandan. Semangat dan gairah kerja menurun. Padahal, pada saat itu KPPN Tanjung Pandan tengah menyiapkan satu agenda besar program nasional Kemenpan-RB yakni pembangunan Zona Integritas menuju WBK-WBBM. Teringat bagaimana korban pernah bekerja sama dengan KPPN Tanjung Pandan dalam berbagai kegiatan sebelum tragedi tersebut. Hampir satu bulan suasana duka itu menyelimuti kami semua, sampai akhirnya kami pun tersadar bahwa yang sudah terjadi memang sudah digariskan oleh takdir. Setiap manusia pasti akan bertemu maut, caranya saja yang berbeda-beda. Tuhan yang berkuasa atas darat, laut, dan udara-dan ketika Ia sudah memberi ketetapan jatah hidup di dunia, maka berakhirlah semua urusan dunia itu. Tinggal nanti kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Maha Pencipta.
Butuh waktu untuk bangkit dan mengubah kedukaan itu menjadi energi yang berkoar demi berkarya lebih baik lagi dengan meneruskan program pembangunan Zona Integritas tersebut. Akhir November 2018, KPPN Tanjung Pandan akan dinilai oleh Tim Penilai dari Kemen PANRB.
Kisah ini sebenarnya ingin saya kubur dalam-dalam. Namun, saat ke Australia, saya dipertemukan Tuhan dengan teman-teman diaspora yang berada di sana.
Saat mengetahui saya bekerja di Tanjung Pandan, mereka pun meminta saya menuliskan kisah yang terkait dengan para korban JT 610 di media mereka. Namun, saat itu hati saya belum bisa berdamai dengan kesedihan, dan merasa kalau saya menuliskan kisah itu sekarang, rasanya sama dengan merayakan penderitaan orang lain.
Saya pun berjanji akan menuliskannya, tetapi tidak sekarang. Namun, nanti, ketika saatnya tepat.
Sampai momentum itu ada, ketika KPPN Tanjung Pandan yang ditunjuk menjadi salah satu kantor yang mengikuti program ekselerasi WBK/WBBM melalui usulan Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bangka Belitung pada tahun 2017 berhasil berada pada urutan ke-12 dari 43 kantor yang memenuhi persyaratan parameter pengungkit dan parameter hasil. Jumlah kantor yang diusulkan awalnya berjumlah 66. Artinya, ada 23 kantor yang tidak lolos persyaratan tersebut.
Saat itulah, saya merasa siap menulis soal betapa duka yang kami alami dari tragedi JT 610 berubah menjadi engine turbo Zona Integritas di KPPN Tanjung Pandan. Saya pun teringat saat pertama kali berbincang dengan para pegawai KPPN Tanjung Pandan. Salah seorang pegawai dengan semangat berharap KPPN Tanjung Pandan bisa dikenal di luar negeri. Saya berpikir, mungkin ini yang disebut mestakung, kita tidak boleh sembarangan mengucapkan kata-kata. Sebab, setiap kata adalah doa. Harapan pegawai itu didengar sehingga kemudian kisah kami dibaca di Australia, di Mediaspora. Sebuah buletin Diaspora Indonesia (Indonesian Diaspora Bulletin).



