Putussibau

Berita

Seputar Kanwil DJPb

Perkiraan Pengaruh Pembangunan Ekonomi Indonesia 2026 dengan IHSG 10.000: Apakah Mungkin?

Sejumlah ekonom dan media keuangan di Indonesia ramai membahas potensi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk mencapai level 10.000. Wacana ini salah satunya didorong oleh pernyataan Menteri Keuangan Indonesia, Bapak Purbaya Yudhi Sadewa, yang menyampaikan keyakinan dan optimisme bahwa IHSG berpeluang menembus level tersebut. Sepanjang tahun 2025, IHSG tercatat telah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH) sebanyak 24 kali dan ditutup pada level 8.646,94. Jika menilik proses terbentuknya ATH tersebut, terdapat indikasi bahwa IHSG masih memiliki peluang untuk kembali mencetak rekor baru.

 

Di sisi lain, terdapat pandangan yang menilai harga saham saat ini sudah relatif mahal dan berpotensi mengalami koreksi. Namun, fakta bahwa IHSG terus menciptakan ATH menunjukkan kuatnya tren kenaikan serta fundamental pasar yang solid. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai peluang IHSG untuk mengulang kinerja positif seperti yang terjadi sepanjang 2025, di mana ATH tercapai berulang kali. Untuk memahami hal tersebut, penting terlebih dahulu memahami konsep All Time High (ATH). ATH merupakan level harga tertinggi yang pernah dicapai suatu saham atau indeks sepanjang sejarah perdagangannya. Ketika harga menembus puncak sebelumnya, maka instrumen tersebut resmi berada di area ATH.

 

Dalam menyikapi kondisi IHSG yang berada di level ATH, investor perlu melakukan analisis terhadap saham yang dimiliki, khususnya terkait keterkaitannya dengan pergerakan IHSG. Saham yang memiliki korelasi kuat dengan IHSG dapat dipertimbangkan sebagai investasi jangka panjang. Sebaliknya, saham dengan pengaruh kecil terhadap IHSG sebaiknya dimanfaatkan untuk mengamankan keuntungan berjalan (floating profit). Selain itu, pemilihan saham untuk investasi sebaiknya difokuskan pada perusahaan dengan fundamental yang kuat. ATH umumnya tercipta pada emiten dengan pertumbuhan yang konsisten, posisi kompetitif dalam industri, kemampuan inovasi, serta arus kas yang sehat. Investor juga perlu menghindari asumsi bahwa saham “sudah mahal” tanpa disertai analisis valuasi yang memadai. Untuk meminimalkan risiko kerugian, analisis teknikal berupa level support dan resistance dapat dimanfaatkan melalui fitur yang tersedia pada sistem broker.

 

Terkait persiapan investasi saham, khususnya menghadapi tahun 2026, investor perlu menyadari bahwa kondisi ATH tetap menyimpan peluang, dan target IHSG di level 10.000 bukanlah sesuatu yang mustahil. Berdasarkan tren pergerakan saham terkini, terdapat dua faktor utama yang mendorong percepatan kenaikan IHSG serta satu faktor tambahan yang berpengaruh secara tidak langsung. Faktor pertama adalah membaiknya kondisi dan stabilitas perekonomian Indonesia, yang salah satunya dipicu oleh kebijakan Menteri Keuangan dalam mengalokasikan dana cadangan Bank Indonesia kepada Bank Himbara. Kebijakan ini memperkuat fundamental sektor perbankan yang merupakan penopang utama pergerakan IHSG. Kenaikan IHSG tersebut turut membuka peluang masuknya kembali investor asing ke pasar saham Indonesia.

 

Faktor kedua adalah peningkatan signifikan jumlah investor domestik. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), hingga akhir 2025 jumlah Single Investor Identification (SID) mencapai 20,32 juta, meningkat sekitar 37 persen dibandingkan akhir 2024 yang sebanyak 14,87 juta SID. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia produktif (15–64 tahun) pada 2025 diproyeksikan mencapai 193,3 juta jiwa. Kondisi ini menunjukkan potensi pertumbuhan investor saham domestik yang masih sangat besar. Selain itu, faktor lain seperti pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan inflasi juga berperan secara tidak langsung dalam mendorong kenaikan harga saham, karena masyarakat cenderung mengalihkan dananya ke berbagai instrumen investasi seperti saham, emas, dan kripto untuk menjaga nilai aset.

 

Dengan mempertimbangkan momentum tren saat ini, IHSG dinilai memiliki peluang yang cukup besar untuk mencapai level 10.000 pada tahun 2026. Terlebih, pada bulan Februari diperkirakan akan muncul kebijakan baru terkait instrumen saham yang berpotensi menjadi penentu arah tren pasar, apakah berlanjut naik atau justru mengalami koreksi. Meski demikian, investor tetap perlu memperbarui informasi secara berkala, mengingat potensi munculnya isu-isu global berskala besar dan sensitif sepanjang 2026. Oleh karena itu, meskipun saham masih layak dipertimbangkan sebagai pilihan investasi pada tahun 2026, pendekatan yang disarankan adalah investasi jangka pendek dalam rentang waktu satu hingga tiga bulan, bukan untuk jangka panjang.

Penulis: PTPN Terampil KPPN Putussibau

Steven Hoover Sianturi

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

Search