Berangkat dari meningkatnya ketegangan geopolitik global yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, kondisi ini turut memicu tekanan terhadap perekonomian dunia. Salah satu dampak utamanya adalah potensi gangguan di Selat Hormuz akibat kebijakan blokade oleh Iran. Jalur ini memiliki peran yang sangat vital karena dilalui oleh sekitar 20–30% distribusi minyak dunia setiap harinya. Tidak hanya minyak mentah, Selat Hormuz juga menjadi rute utama pengiriman Gas Alam Cair (LNG) dari Qatar, salah satu eksportir gas terbesar dunia. Negara-negara industri besar di Asia seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan pun sangat bergantung pada pasokan energi yang melewati jalur tersebut.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Indonesia perlu merespons secara strategis, mengingat ketahanan energi merupakan faktor krusial dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan negara. Saat ini, kebutuhan energi nasional, khususnya Bahan Bakar Minyak (BBM), masih sangat bergantung pada impor. Dari total kebutuhan sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sebesar 61,73% masih dipenuhi melalui impor. Selain itu, sekitar 90% bauran energi Indonesia masih didominasi oleh energi fosil seperti batu bara, minyak, dan gas. Oleh karena itu, diperlukan langkah transformasi menuju sumber energi alternatif, termasuk peralihan sementara ke energi listrik sebagai substitusi penggunaan energi fosil.
Energi listrik dipandang sebagai solusi transisi karena infrastruktur dan sistem pendukungnya relatif lebih siap untuk digunakan dalam skala besar. Namun, keberhasilan peralihan ini sangat bergantung pada kesiapan masyarakat dalam mengadopsi perubahan pola konsumsi energi. Implementasinya tidak dapat dilakukan secara instan karena memerlukan dukungan kebijakan yang kuat, insentif, serta kampanye masif dalam berbagai sektor, mulai dari produksi hingga konsumsi. Selain itu, pembangunan infrastruktur yang memadai juga menjadi prasyarat utama untuk mendukung peningkatan penggunaan energi listrik.
Di sisi lain, tantangan besar masih dihadapi karena sekitar 85% listrik di Indonesia dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara, yang merupakan sumber energi tidak terbarukan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia untuk beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan air menjadi opsi strategis dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.
Selain upaya tersebut, Indonesia juga perlu mempertimbangkan diversifikasi sumber impor BBM dari negara lain guna mengurangi ketergantungan pada jalur distribusi yang rentan. Alternatif lain yang dapat dikaji adalah pemanfaatan bioetanol berbasis kelapa sawit, meskipun implementasinya perlu ditinjau secara mendalam untuk mengantisipasi dampak dan trade-off yang mungkin timbul jika diterapkan secara luas.
Dalam jangka pendek, penggunaan kendaraan listrik dapat menjadi solusi alternatif untuk menekan konsumsi BBM. Kebijakan tambahan seperti penerapan satu hari kerja dari rumah (WFH) juga dapat membantu mengurangi mobilitas dan konsumsi energi. Di samping itu, diperlukan regulasi yang tegas untuk mencegah penimbunan BBM serta pengendalian harga jual eceran agar tetap stabil, sehingga tidak memicu lonjakan harga yang berpotensi mengganggu kestabilan ekonomi nasional.



