Budaya Kerja Gen Z: Membangun Lingkungan Kerja yang Lebih Fleksibel dan Berarti
Oleh: Radi Ariska Putra (Pelaksana Subbagian Umum)
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kerja dipenuhi wajah-wajah baru yang sering kali berpikir dan bekerja secara berbeda. Ya, mereka adalah generasi Z, atau biasa disebut Gen Z – generasi yang lahir di era internet dan tumbuh bersama teknologi. Masuknya Gen Z ke dunia kerja membawa perubahan besar, terutama soal cara mereka memandang pekerjaan, budaya kerja, dan lingkungan yang ideal. Gen Z punya perspektif unik tentang bekerja, yang mendorong banyak perusahaan untuk beradaptasi agar bisa menarik dan mempertahankan talenta muda ini.
Gen Z dikenal sebagai generasi yang adaptif, tech-savvy, dan kreatif, menjadikan mereka unggul dalam lingkungan kerja yang cepat berubah. Tumbuh di era digital, mereka sangat mahir menggunakan teknologi dan berkolaborasi secara virtual, membuat mereka cocok dengan dunia kerja modern yang serba digital. Gen Z juga sangat peduli dengan makna dan tujuan pekerjaan mereka, sehingga mereka cenderung mencari perusahaan yang selaras dengan nilai-nilai pribadi, seperti keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Keinginan mereka untuk terus belajar, menerima feedback, serta kemampuan multitasking membuat mereka menjadi tenaga kerja yang dinamis dan siap berinovasi.

Disisi lain, Gen Z bukanlah tanpa cela. di dunia kerja mereka memiliki kecenderungan untuk mudah merasa stres atau cemas, terutama karena ekspektasi yang tinggi terhadap keseimbangan hidup dan karier. Tidak jarang juga mereka merasa bahwa beban kerja dan beban kehidupan mereka lebih berat daripada yang lainnya. Dengan besarnya fokus pada kesejahteraan mental, mereka sering kali kurang toleran terhadap tekanan kerja berlebihan atau lingkungan yang kompetitif secara berlebihan. Selain itu, Gen Z cenderung kurang nyaman dengan struktur hierarkis yang kaku, sehingga bisa sulit beradaptasi di perusahaan yang masih menerapkan pendekatan manajerial tradisional. Generasi ini juga bisa kurang sabar dalam meniti jenjang karier, karena terbiasa dengan akses cepat dan instan dalam kehidupan digital, yang kadang membuat mereka tidak siap menghadapi proses yang memerlukan waktu dan komitmen panjang.
Salah satu hal yang paling dicari Gen Z dalam bekerja adalah fleksibilitas. Tidak seperti generasi sebelumnya yang terbiasa dengan jadwal kerja dari jam delapan sampai jam lima di kantor, Gen Z lebih memilih sistem yang memungkinkan mereka bekerja kapan saja dan di mana saja. Hal ini tentu sangat didukung oleh teknologi yang memungkinkan mereka tetap terhubung dan produktif, tanpa harus terpaku pada ruangan tertentu. Bagi Gen Z, fleksibilitas ini bukan sekadar kemewahan, tapi sebuah kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Namun, fleksibilitas bukan satu-satunya yang membuat lingkungan kerja menjadi menarik bagi Gen Z. Mereka juga sangat peduli pada makna dan dampak dari pekerjaan yang mereka lakukan. Gen Z lebih kritis dalam memilih perusahaan, dan mereka cenderung tertarik pada organisasi yang memiliki visi dan misi yang selaras dengan nilai-nilai pribadi mereka. Mereka ingin merasa bahwa pekerjaan mereka bukan hanya tentang menghasilkan uang, tapi juga memiliki dampak positif pada masyarakat atau lingkungan.
Di sisi lain, Gen Z sangat mengapresiasi perusahaan yang transparan dan jujur. Mereka ingin tahu bagaimana bisnis berjalan, tantangan yang dihadapi, dan bagaimana kontribusi mereka berperan dalam mencapai tujuan perusahaan. Transparansi dalam komunikasi, baik itu terkait kebijakan, perubahan, atau feedback, menjadi aspek penting yang menentukan tingkat kepuasan Gen Z dalam bekerja. Ini adalah hal yang kerap menjadi tantangan bagi perusahaan dengan manajemen tradisional.
Gen Z juga dikenal sebagai generasi yang membutuhkan umpan balik lebih sering. Bukan berarti mereka haus pujian, tapi mereka ingin tahu apakah kinerja mereka sesuai dengan ekspektasi dan bagaimana mereka bisa berkembang. Bagi mereka, feedback berkala bukan hanya soal evaluasi, tetapi kesempatan untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan. Alhasil, budaya kerja yang mendukung pembelajaran dan pengembangan diri sangat disukai oleh Gen Z.
Dalam hal teknologi, Gen Z adalah ahli. Mereka tidak asing dengan berbagai tools kolaborasi online seperti Slack, Zoom, atau Trello. Kolaborasi virtual adalah hal yang biasa bagi mereka, bahkan mungkin lebih nyaman dibandingkan tatap muka. Oleh karena itu, perusahaan yang ingin memaksimalkan potensi Gen Z perlu mempertimbangkan penggunaan teknologi dan platform yang memudahkan kolaborasi digital.
Keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi salah satu prioritas utama bagi Gen Z. Mereka sadar akan pentingnya kesehatan mental dan cenderung menghindari lingkungan kerja yang terlalu menuntut hingga menyebabkan stres. Inilah mengapa fleksibilitas dan jam kerja yang manusiawi sangat dihargai oleh mereka. Gen Z tidak lagi tertarik dengan budaya “kerja keras tanpa henti” yang dulu sering dianggap sebagai standar kesuksesan.
Selain itu, Gen Z lebih memilih perusahaan yang peduli dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Mereka ingin bekerja di tempat yang memberikan dampak positif dan menunjukkan tanggung jawab sosialnya. Perusahaan yang aktif dalam isu-isu seperti keberlanjutan, inklusivitas, dan keberagaman tentu lebih menarik bagi mereka. Gen Z ingin menjadi bagian dari perubahan positif dan merasa bangga dengan apa yang dilakukan perusahaan tempat mereka bekerja.
Namun, tidak semua perusahaan siap beradaptasi dengan budaya kerja Gen Z. Ada yang masih menerapkan kebijakan kerja ketat dan aturan hierarki yang kaku. Di sinilah tantangan muncul. Perusahaan harus siap untuk lebih fleksibel dan terbuka agar bisa merangkul generasi baru ini. Bagi perusahaan yang berhasil melakukan hal tersebut, hasilnya bisa sangat positif: produktivitas yang lebih tinggi, ide-ide segar, dan inovasi yang lebih cepat.
Untuk mempertahankan Gen Z, perusahaan juga perlu menciptakan program pengembangan karir yang jelas dan menarik. Gen Z sangat menghargai kesempatan untuk belajar hal baru dan meningkatkan keterampilan mereka. Jadi, program pelatihan, kesempatan mentoring, atau jalur karir yang transparan bisa membuat mereka merasa dihargai dan lebih betah di perusahaan.
Selain fleksibilitas dan pengembangan diri, Gen Z juga sangat mendukung keberagaman. Mereka ingin bekerja di lingkungan yang inklusif, di mana setiap orang diterima tanpa memandang latar belakang, ras, atau gender. Budaya kerja yang inklusif menjadi daya tarik tersendiri dan membangun rasa memiliki yang lebih kuat bagi Gen Z.
Contoh perusahaan yang sukses menerapkan budaya kerja yang sesuai dengan Gen Z adalah perusahaan teknologi yang sudah mengadopsi sistem kerja jarak jauh, memiliki visi sosial yang kuat, dan menawarkan program pengembangan karir yang fleksibel. Di sinilah Gen Z merasa dilibatkan, dihargai, dan bisa memberikan kontribusi sesuai dengan apa yang mereka yakini.
Di lingkungan Kementerian Keuangan sendiri, sistem kerja fleksibel di telah diterapkan untuk menyesuaikan kebutuhan pegawai dengan tuntutan kerja, mendukung produktivitas, dan meningkatkan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi. Fleksibilitas di Kemenkeu biasanya diterapkan melalui berbagai model, seperti flextime (penyesuaian jam masuk dan pulang kerja), kerja dari rumah (work from home), kerja dari kampung halaman (Work From Home Base), Flexible Working Space (FWS) yang memungkinkan pegawai dapat bekerja dari tempat lain yang ditetapkan sebelumnya, dan hybrid working yang mengombinasikan kerja di kantor dan di rumah.
Model ini memungkinkan pegawai untuk menyelesaikan pekerjaan mereka di luar jam kerja konvensional atau dari lokasi yang lebih nyaman, asalkan target kinerja tetap tercapai dan sesuai standar pelayanan publik. Untuk menjaga efektivitas kerja, Kemenkeu juga memanfaatkan teknologi kolaborasi digital, seperti aplikasi komunikasi internal dan manajemen dokumen daring, yang memudahkan koordinasi dan akses informasi di mana pun. Dengan adanya sistem kerja fleksibel ini, Kemenkeu berusaha tetap responsif terhadap perubahan kebutuhan pegawai, meningkatkan kesejahteraan mereka, dan merespons tren global menuju lingkungan kerja yang lebih modern dan adaptif.
Seiring waktu, Gen Z diprediksi akan semakin mendominasi dunia kerja dan membawa pengaruh besar dalam membentuk budaya kerja masa depan. Mereka tidak takut untuk bersuara, berinovasi, dan mengejar pekerjaan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan finansial, tetapi juga memiliki dampak sosial.
Bagi perusahaan yang siap beradaptasi, budaya kerja yang fleksibel dan bermakna ini bisa menjadi strategi yang sangat efektif untuk menarik talenta muda yang penuh semangat. Membangun lingkungan kerja yang mendukung fleksibilitas dan kebermaknaan bukan hanya sekadar tren, tetapi investasi jangka panjang yang bisa membawa dampak positif bagi perusahaan.
Pada akhirnya, budaya kerja Gen Z bukan sekadar perubahan dalam jam kerja atau lingkungan fisik, tetapi juga cara pandang baru tentang apa yang benar-benar berarti dalam bekerja. Fleksibilitas, kebermaknaan, transparansi, dan rasa saling menghargai adalah kunci membangun tempat kerja yang sukses di era Gen Z.





