
Selama ini kita lebih banyak mendengar keluhan masyarakat terkait dampak buruk pandemi covid-19 bagi kehidupan sehari-hari. Banyaknya korban yang terpapar virus hingga mengakibatkan kematian, membengkaknya anggaran kesehatan, perubahan besar pada dunia pendidikan, melemahnya ekonomi dunia, hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Namun, tulisan ini akan mengungkap beberapa hal positif sebagai hikmah pandemi dalam kehidupan pribadi saya.
Sebagai treasurer yang bertugas jauh di luar homebase, saya harus mengalokasikan dana khusus setiap bulan untuk bisa berjumpa dengan orang-orang terkasih. Keluarga saya berada di Sidoarjo (Jawa Timur), sementara saya bertugas sebagai Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Tanjung Redeb (Kalimantan Timur) sejak Mei 2018.
Saya biasa pulang ke Sidoarjo rata-rata 2 kali per bulan dengan menggunakan moda transportasi udara. Sebelum pandemi, harga tiket pesawat Surabaya-Berau pulang pergi berkisar antara 3-6 juta rupiah. Tersedia penerbangan dari maskapai Lion, Sriwijaya, hingga Garuda.
Rute Surabaya-Berau termasuk ramai karena banyaknya pekerja tambang batubara yang berasal dari Jawa dan rutin pulang dengan biaya perusahaan. Harga tiket biasanya melonjak dan sold out saat hari raya, musim liburan, dan long weekend.
Sejak 11 Maret 2020, Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO). Pemerintah juga membuat kebijakan tentang Pembatasan Kegiatan Bepergian ke Luar Daerah dan/atau kegiatan mudik dan/atau cuti bagi ASN dalam upaya Pencegahan COVID-19. Lebih lanjut, pemerintah Kabupaten Berau menetapkan adanya Karantina Wilayah selama 2 bulan (sejak tanggal 30 Maret 2020).
Penghematan Biaya Transportasi
Sebelum pandemi, saya mengalokasikan anggaran untuk tiket pulang 2 kali per bulan. Katakanlah harga tiket PP adalah 4 juta rupiah, maka biaya transportasi menyita dana 8 juta rupiah per bulan.
Karantina Wilayah Berau menyebabkan berhentinya layanan transportasi udara, darat dan laut. Beberapa tiket terpaksa saya batalkan karena memang tidak ada penerbangan. Selama tujuh bulan ini, saya baru 3 kali pulang (bulan Juni, Agustus, dan September 2020).
Tagihan Kartu Kredit Nihil
Biasanya saya menggunakan kartu kredit pribadi untuk transaksi pembelian tiket pesawat melalui aplikasi online. Tagihan kartu tersebut akan saya lunasi di awal bulan, setelah tunjangan kinerja masuk rekening. Akhir-akhir ini saya membeli tiket dengan memanfaatkan voucher (karena beberapa refund tiket berupa voucher). Saat ini tagihan kartu kredit saya nihil.
Harga Tiket Pesawat Menurun Drastis
Berita yang mengembirakan bagi traveller yaitu semua tiket pesawat menurun drastis di masa pandemi. Tiket Lionair untuk Berau-Surabaya hanya 500 ribu rupiah sekali jalan. Meskipun saat bepergian memerlukan biaya rapid test namun relatif terjangkau (berkisar antara Rp150.000,- hingga Rp300.000,- yang berlaku hingga 14 hari).
Penghematan Biaya Entertainment Keluarga
Saya mengalokasikan biaya entertainment keluarga sekitar 2 juta per bulan. Biasanya kami ke pusat perbelanjaan untuk makan, nonton bioskop, serta jalan-jalan. Kadang pengeluaran saya melonjak jika tergoda dengan baju, sepatu, tas, make-up, ataupun aksesori.
Saat pandemi, kami menghindari mall dan area publik lainnya agar aman dari penularan virus corona. Keluarga kami hampir selalu makan di rumah dan sangat jarang belanja baju (karena hampir tidak ada undangan resepsi pernikahan....hehehe).
Penghematan Pengeluaran Anak
Anak sulung saya, Sofi (20 tahun), kuliah di Jakarta sejak tahun 2018. Awal bulan Maret 2020 dia dipulangkan dan menjalani kuliah secara daring. Hal ini berpengaruh besar ke penurunan pengeluaran anak. Alokasi dana si sulung per bulan sekitar 5 juta rupiah (terdiri atas biaya hidup dan ongkos mudik). Selama pandemi, Sofi saya jatah hanya 1,5 juta. Yang melegakan, setahun ini kami terbebas dari biaya kost (dimana tarif kost anak saya normalnya adalah 20 juta per tahun).
Farah (16 tahun), anak bungsu saya, bersekolah di salah 1 SMA Negeri di Sidoarjo. Total anggaran uang saku anak bungsu sekitar Rp 1,5 juta rupiah per bulan. Saat pandemi, Farah belajar secara daring dari rumah. Jadi dia tidak memerlukan biaya transportasi. Sekarang Farah hanya mendapat jatah gopay sebesar Rp 300.000,- per bulan.
Rasa Aman selama Anak Belajar dari Rumah
Secara psiologis saya sangat gembira bahwa anak-anak gadis saya selalu berada di rumah di bawah pengawasan ayahnya. Bagaimanapun juga memiliki anak gadis yang kuliah di luar kota sangat membuat khawatir orang tua, misalnya saat anak sakit, kegiatan di luar kost sampai malam, dan sebagainya.
Gaya Hidup Lebih Sehat
Covid bisa dicegah dengan meningkatkan imunitas tubuh. Dokter menyarankan agar saya jalan pagi minimal 30 menit setiap hari. Alhamdulillah saya konsisten melakukan jalan pagi selama hampir 2 bulan ini. Ternyata jalan pagi dapat menguatkan jantung, memperbaiki metabolisme tubuh, mencegah osteoporosis, serta memperbaiki kualitas tidur.
Menambah Investasi
Sebelum pandemi, saya lebih suka investasi properti, yaitu rumah dan tanah. Tetapi saat ini harga tanah semakin tinggi dan kurang likuid (agak susah menjual saat perlu dana). Akhirnya saya mulai menambah investasi dalam bentuk tabungan emas dan saham.
Tahun ini harga emas melonjak tajam dengan kenaikan sekitar 30 persen. Menurut saya tabungan emas (digital) cukup ampuh menjadi pelindung nilai tabungan dari gempuran inflasi.
Beberapa bulan ini saya melihat banyaknya diskon harga saham di bursa efek sehingga harganya relatif murah. Investasi saham sangat mudah, hanya perlu membuka akun saham secara online dan bisa berinvestasi dengan modal awal tidak sampai setengah juta rupiah. Kebetulan latar belakang pendidikan saya adalah Magister Administrasi Bisnis. Portofolio saya terdiri atas beberapa saham dalam sektor perbankan, properti, food and beverage, serta telekomunikasi. Saya cenderung menyimpan saham dalam jangka panjang untuk memperoleh deviden dan capital gain.
Ternyata di balik pandemi Covid-19 juga mendatangkan hikmah kehidupan yaitu menambah kesejahteraan keluargaku.
Identitas Penulis:
Nama Martina Sri Mulyani
Unit Kerja KPPN Tanjung Redeb
Disclaimer Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi.

