-Perantau Baru di Pusat Pandemi

 

Ini adalah sebuah cerita sederhana tentang seseorang yang beruntung karena kehadiran keluarga dalam menemani hidup di tanah rantau. Saling berbagi memberikan yang terbaik di tengah dahsyatnya ombak pandemi.

 

Pandemi datang di saat Krusial

Hari itu, Pasar Citayam Depok, sangat ramai. Bunyi klakson mobil dan motor berkumandang  di sana-sini, deru KRL juga tak mau kalah dengan celoteh pembeli dan penjual yang saling menawar. Suara-suara sumbang dan tak beraturan tersebut menyatu menjadi satu frekuensi harmoni dan hinggap dalam telingaku yang sedang bosan menunggu. Aku, bersama kedua Jagoan-ku berteduh di dalam mobil ber plat AE Madiun, terjebak dalam terik panas matahari di parkiran pasar sambil menunggu Si Mama membeli peralatan rumah tangga untuk mengisi kontrakan baru kami.

Karena bosan mendengar lantunan musik dari Flashdisk yang itu-itu saja, aku memencet tombol radio dan ingin mendengar berita ringan sambil berharap keluar dari kebosanan. Ternyata alih-alih mendengarkan kabar ringan yang kuinginkan, aku malah mendengar berita yang mengubah tata cara peradaban di Indonesia, setidaknya hingga sampai saat ini. Keputusanku memboyong keluarga kami ke Depok ternyata mengarahkan kami lebih dekat kepada situasi ini.

“Corona resmi masuk Indonesia.” Kataku saat Istriku selesai belanja.

“Dan kasus pertama ada di sini, di Depok.” Lanjutku sambil memutar volume radio lebih keras untuk memperjelas maksudku.

 

Terus Berkumpul Bersama Keluarga Kecil

Hampir dua tahun, aku hidup merantau menjadi bujang lokal di kota metropolitan Jakarta dan bekerja di Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PPK-BLU), Ditjen Perbendaharaan. Terkadang aku pulang kampung sebulan sekali ke Madiun untuk menjenguk keluarga, tetapi lebih sering aku terbenam sendirian dalam kamar kost-kostan di jantung ibukota. Tetapi karena menahan kesabaran dan rindu itu berat, aku memberanikan diri memboyong keluarga ke tanah rantau. Aku mencari kontrakan di sekitaran satelit Jakarta yang mempunyai harga sewa yang jauh lebih murah, dan pilihan itu jatuh di kota Depok.

Belum genap dua hari kami berpindah ke Depok, Pandemi datang menguji kami. Kami terisolasi di Kota asing ini dan menjalankan kehidupan baru kami dalam suasana yang benar-benar berbeda. Sebagai pendatang baru, kondisi ini jauh lebih menantang. Silaturahmi berkenalan dengan tetangga tidak diperbolehkan, anak-anak juga tidak diperbolehkan pergi jalan keluar. Jangankan mengajak dua jagoan untuk jalan-jalan ke Jakarta naik KRL dan melihat indahnya kota Jakarta yang aku janjikan, keluar ke jalan di kawasan Perumahan saja kami begitu ketakutan. Ini laksana terkurung lautan asing yang sulit untuk dijelajahi.

Tetapi ada satu hikmah luar biasa yang aku terima dalam pandemi ini. Sebelumnya, kami adalah keluarga yang jarang berkumpul karena hanya bertemu sebulan sekali. Bahkan kadang Si Kecil menangis bila ketemu Bapaknya karena merasa asing. Sulit bagiku membayangkan jika saja, aku terlambat memboyong mereka seminggu. Pasti aku akan terisolasi sendiri di tanah rantau sampai waktu yang tidak dapat ditentukan karena kebijakan PSBB Total di Jakarta, pusat dari awal pandemi.

Tetapi kali ini, kondisi ini berbalik 180 derajat. Keputusanku memboyong keluarga kecil ini ternyata sangat krusial. Aku dapat berkumpul penuh dua puluh empat jam sehari bersama keluarga. Aku bisa melihat perkembangan dua jagoan yang mulai terbiasa dengan kondisi seperti ini secara langsung. Si Kecil yang awalnya seperti ketemu orang yang tidak dikenal, berubah menjadi sangat lengket. Tawanya tidak lagi canggung, senyumnya tak lagi miris, dan bahkan sekarang tangisnya tak lagi tertahan. Kami menghabiskan waktu bermain bersama dalam waktu yang tak mungkin dibeli oleh perhiasan termewah sekalipun.

 

Dukungan penuh Organisasi

Toleransi bekerja pun mendukung kebersamaan keluarga kecilku. Dalam masa pandemi seperti ini, aku dengan senang hati ditugaskan untuk bekerja lebih dominan di rumah. Sangat jarang lagi berangkat ketika matahari belum bangun, dan langka untuk pulang setelah matahari tertidur. Bekerja dari rumah memberikan opsi yang lebih fleksibel bagiku untuk bekerja, tidak selalu terus menatap layar komputer dan duduk termangu di meja kantor. Bisa dengan Smartphone, bisa dengan komputer, bisa nyambi dengan bermain sama para jagoan dan bisa dengan apa saja. Tentu sebagai bagian dari Direktorat PPK-BLU, fleksibilitas menjadi hal yang vital bagi kami. Fungsi pembinaan pengelolaan keuangan bagi Organisasi yang menonjolkan fleksibilitas keuangan untuk praktek bisnis yang sehat seperti BLU, tentu juga membutuhkan sebuah keluwesan dalam bekerja.

Direktorat PPK-BLU berdiri di Tahun 2006 sebagai amanat dari Undang-Undang tentang Keuangan Negara. Hal utama yang diamanatkan adalah terkait pola pengelolaan keuangan untuk Badan Layanan Umum yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan dalam menerapkan praktik-praktik bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Terjun di dalamnya, memberikan pengalaman yang sangat berharga. Aku belajar bagaimana bergerak dengan fleksibel dan tetap berada dalam koridor peraturan organisasi pemerintah. Aku mencoba mengenal praktek bisnis yang sehat sebuah organisasi, dan memahami BLU sebagai bagian integral pemerintah dalam memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat tanpa mengutamakan keuntungan.

Sebagai bagian dari Sub Direktorat PPK-BLU di rumpun Pendidikan, stakeholder kami adalah Universitas, Pusat Pengembangan SDM dan Institut BLU. Bekerjasama dengan kaum terpelajar dan para intelektual di bidangnya tentu menjadi tantangan tersendiri bagiku. Perlu pemahaman yang lebih dalam terkait pengelolaan keuangan BLU dan bagaimana BLU rumpun Pendidikan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pekerjaanku mungkin 60% lebih ke arah koordinasi, monitoring, konsultasi, jawab pertanyaan dan meminta data kepada BLU bidang pendidikan. Pekerjaan tersebut umumnya dapat ditangani oleh smartphone sehingga daya mobilisasi dengan para jagoan sambil mengawasi bermain masih dapat terjaga dengan baik. Kecuali bila perlu “dimasak” lebih matang, maka komputer akan menjalankan tugasnya lebih lanjut. Koordinasi melalui Rapat Zoom juga rutin dilaksanakan. Dapat dalam bentuk koordinasi internal dengan para pegawai maupun koordinasi eksternal dengan para stakeholder.

 

“Bapak kok di rumah terus? Yidan senang sekali lo kalau bapak terus di rumah. Aku bisa bermain terus sama Bapak.” Sebuah kalimat sederhana yang sangat menyentuh dari Si Kakak yang masih berumur tujuh tahun. Meskipun sebenarnya kebebasan masa kecilnya benar-benar terkekang oleh pandemi. Dia hanya punya Mama, Adik dan Bapak dalam bermain di rumah kontrakan yang baru, tanpa teman-temannya yang dulu.

Saat ini kami laksana berada di dalam kapal kecil bersama dan tak pernah terpisahkan meskipun di tengah lautan asing dan ombak pandemi. Kisah sederhana kami pasti juga banyak dialami oleh keluarga perantau ASN di seluruh Indonesia. Kali ini, kita berdiri menghadapi pandemi dengan membatasi interaksi sosial. Dimulai dari keluarga, pandemi ini dapat dihadapi. Menjaga kesehatan dan kebersamaan keluarga adalah bagian penting dalam daya tahan melawan pandemi seperti ini, tentu tanpa menyampingkan pekerjaan kita sebagai Aparatur Sipil Negara.

Copyright ©2024 ASEAN Treasury Forum - All Rights Reserved By DJPb.



Search