Ini bermula dari lokasi tempat kerjaku dengan lokasi tempat tinggalku beserta keluarga yang cukup lumayan jauh, karena tidak bisa ditempuh dengan perjalanan pulang pergi maka satu pekan sekali sudah merupakan rutinitas tersendiri sepekan di tempat kerja, dua hari Sabtu dan Minggu aku bersama keluarga di Bogor, awal mula adalah hal biasa karena ada juga sebagian teman-temanku yang persis sepertiku satu pekan sekali harus meninggalkan tempat kerja menuju rumah dan keluarga ada yang ke Bekasi , Jakarta dan Tangerang Selatan, happy-happy saja lah di tengah umurku yang sudah setengah abad.
Serang – Bogor adalah hal biasa ku lakukan sebab jalur yang sama Metro Lampung Bogor sebelum kepindahan ku ke Serang, setiap pekan sekali hal yang biasa seperti teman-temanku di seantero Nusantara ini, keluarga adalah energi tersendiri walau hanya satu hari atau walau hanya satu dua jam dengan istri dan harus balik kembali ke tempat kerja, kadang juga harus rela terlambat masuk kantor atau pulang sebelum waktunya tentu saja konsekuensi selanjutnya adalah penghasilan akan berkurang sesuai berapa jam kita terlambat masuk dan pulang sebelum waktunya, model daftar hadirku adalah modern hendkey lima jari bro, tapi ada motivasi yang tertanam sangat dalam direlung hatiku bahwa keluarga merupakan energi yang tidak bisa tergantikan, atau energi yang tidak bisa terbarukan sampai kapanpun. Nah pulang sepekan sekali ini adalah perjalanan normal naik angkutan umum, kondisi ngantuk di bis, kemudian turun di Pancoran walau bukan tempat semestinya turun, nunggu dibawah tugu pancoran untuk nyambung omprengan menuju Stasiun Pasar Minggu KRL baru sampai kerumah, sekali lagi kondisi normal.
Blar.... buyar sudah lamunanku ternyata hari-hari ini sudah berbeda, dimana pandemi mulai bersemi menjalar kesegala penjuru bahkan ketempatku bekerjapun surah zona merah, dimasa awal pandemi ramailah dikantor whatsup group penuh dengan himbauan, ajakan, untuk menjaga dari virus ini, bahkan sampai pada sedikit saling curiga antar para pegawai terutama tama pegawai yang bolak balik satu pekan sekali pulang kedaerah merah virus COVID, Bogor, Jakarta, Tangerang Selatan dan Bekasi termasuk diriku sendiri yang sepekan sekalai balik kekantor. WAG ramai, banyak usulan, banyak masukan, bahkan ada masukan yang cukup membuat kita setelah berjalannya waktu merasa ketawa sendiri, semau pegawai yang baru datang dari luar daerah harus disemprot dengan disinvektan, akupun bagian dari itu datang meminta petugas keamanan menyemprot seluruh tubuhku yang masih memakai jaket topi dan penutup kepala termasuk masker, akupun minta tolong salah seorang satuan pengaman untuk memvideokannya, langsung send ku kirim ke WAG, berbagai tanggapan pun muncul, bla bla bla.
Ada yang menarik ketika video pendek tersebut ku kirim ke WAG, seorang pegawai menigirimkan tentang bahaya menyemprotkan disinvektan pada tubuh manusia akan berakibat fatal dan lain lain, maka selanjutnya tidak dilakukan lagi penyemprotan tersebut, tetapi WAG tetap ramai tentang bagaimana menyikapi para pegawai yang dari luar kota, begini, begitu, dirumah dulu, nanti masuknya siang-siangan saja, mandi-mandi bersih dahulu, dan seterusnya, bahkan ada yang memvonis sudah yang dari luar kota tidak usah masuk dahulu dirumah saja, jangan boleh pulang dahulu, kalau pulang tanggung sendiri akibatnya jangan bawa-bawa virus ke kantor, obrolan di group WA menjadi tidak sehat lagi bahkan sampai obrolan di sela-sela kesibukan kantor pada masa awal pandemi ini terus berlanjut sampai-sampai menjurus pada saling curiga pada sesama teman kantor, dalam hati ku pun berpikir dalam satu kantor saja bisa begini, apalagi dalam satu wilayah lebih luas lagi baik antar pulau atau bahkan antar negara tejadi saling curiga tapi tidak berujung pada sebuah peperangan, alangkah indahnya kita memiliki satu mulut dua telinga ternyata dua telingga maksudnya adalah banyaklah mendengar, dari pada berbicara, kita bukan siapa-siapa, kita bukan ahlinya tentang virus, kita hanya ahli tentang pengelolaan Keuangan Negara, bukan ahli bagaimana mengatasi virus, maka satu mulut dua telingga menjadi ramuan mujarap bagiku dalam menyikapi pandemi ini..
Hari-hari berlalu, tujuh bulan sudah pandemi ini terus merambah ke seluruh penjuru negeri WAG pun sudah tidak ramai lagi, karena semua orang sudah saling mengerti bagaimana cara menjaga diri sendiri, dan menjaga lingkungan kita tinggali dari serangan pandemi yang belum tau pasti kapan akan berhenti, mengingat semua manusi yang hidup akan mengalami mati maka terpenting buat kita adalah mari berserah diri pada sang Maha Mengerti, bahwa sesungguhnya kita adalah manusia yang lemah, segala ikhtiar tetap kita lakukan, segala usaha untuk menjaga dari pandemi sudah kita lakukan, segala perintah mencuci tangan, maemakai masker telah kita lakukan, akan tetapi semua itu ada yang berkehendak bahwa kita sedcang dicoba, ya kita sedang diberikan cobaan , bahwa semua sedang diberikan cobaan dan pasti tidak ada yang dapat memprediksi kapan pandemi akan berakhir, sebagai bukti bahwa manasia memiliki keterbatasan, sebagai bukti bahwa ada sang Maha Kuasa sang Maha segala-galanya yaitu Tuhan Semesta Alam Allah Robbul izzati, sang pencipta satu mulut dan dua telingga pada setiap manusia, akhirnya semoga pandemi ini segera beraakhir. Wallahu ‘alam
Nama : Waluyo
Kantor : KPPN Serang
“Disclaimer : Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi”

