
Jumat, 7 Agustus 2020 Pukul 22.30 Wita
Saya tergolek tak berdaya di atas ranjang RSUD Abd Rivai Tanjung Redeb, Kalimantan Timur
Suara AC tua di kamar VIP ini terdengar berisik… tapi tak mengapa, asal mampu mendinginkan suhu ruangan. Di lengan kanan saya tertancap sebuah jarum infus, sementara hidung terhubung dengan selang oksigen.
Benak saya kembali terbayang kronologis kejadian tadi. Hari Jumat sore menjelang bedug Ashar, kepala saya terasa pusing berat. Sebagai penderita hipertensi, saya tahu bahwa ini gejala tekanan darah meninggi. Upaya melepas penat di sofabed kantor rupanya kurang manjur meredakan ketegangan leher ke atas.
Selepas magrib, saya sudah tak kuasa menahan pusing serta nyeri dada. Melalui panggilan whatsapp, saya hubungi Mas Rengga, staf subbagian umum, agar menjemput saya dan diantar ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit.
Sepuluh menit kemudian, mobil inova berplat merah itu meraung di pelataran rumah dinas. Rupanya Rengga masih sibuk membereskan pekerjaan di kantor saat menerima panggilan saya. Di kendaraan telah menunggu dua penumpang lain, yaitu Bu Isti, Kepala Subbagian Umum, dan Mas Mamet (staf Kepatuhan Internal).
Dalam perjalanan ke rumah sakit, saya menelepon suami. Mengabarkan bahwa saya sangat pusing, dan sudah membawa perbekalan apabila diharuskan rawat inap di RSUD. Suami saya minta tenang dan tidak usah datang ke Tanjung Redeb. Di masa pandemi ini, perjalanan dari Jawa ke Kalimantan tentu sangat berisiko. Menurut saya, umur suami yang sudah mendekati 50 tahun serta postur tubuhnya yang masuk kategori obesitas, tentu bukan hal yang aman untuk bepergian jauh. Saya berjanji akan terus mengabarkan keadaan melalui video call.
Begitu mobil berhenti di depan Ruang UGD, perawat segera membawa saya dengan bantuan kursi roda. UGD saat itu lumayan ramai.
Saya dibawa menuju tempat tidur paling ujung. Dokter dan beberapa perawat segera memberi pertolongan. Mereka terkejut saat mengetahui tekanan darah saaya mencapai 220/120. Selaku pasien, saya juga tidak kalah terkejut. Beberapa tahun lalu saya pernah dibawa ke UGD sebuah rumah sakit swasta di Sidorajo (Jawa Timur) karena hipertensi, namun waktu itu tensi saya ‘hanya’ 180/110.
Dalam hati saya sangat ketakutan oleh bayangan terkena stroke atau serangan jantung. Harapan saya agar jangan sampai pembuluh otak saya pecah.
Dengan mata terpejam, saya berusaha menenangkan diri. Saya sadar, untuk bisa menurunkan tekanan darah, saya harus mengendalikan diri. Dalam hati saya berucap,”Ya Allah…sepertinya saya belum siap mati…tolong berilah saya kesempatan mendampingi anak-anak saya dewasa dan momong cucu.”
Rupanya sikap pasrah saya ini membuahkan hasil. Saat jarum infus mulai ditancapkan, saya tidak terlalu merasa sakit. Sebuah botol kecil berwarna kuning dihubungkan ke selang infus. Sebongkah obat diberikan dengan intruksi ditaruh di bawah lidah, dengan sebuah pesan jangan ditelan, biar larut sendiri.
Seorang perawat meminta saya melepas perhiasan dan semua aksesori logam, karena akan dilakukan rekam jantung. Pemeriksaan dilanjut dengan rontgen dada.
Alhamdulillah, satu jam berada di ruang UGD, saya dikabari bahwa hasil foto dada terlihat bahwa paru-paru bersih (setidaknya bukan terkena virus corona).
Saat diperiksa nadi saya, tensi sudah menurun ke angka 150/100. Dokter menyatakan bahwa saya telah siap dipindahkan ke ruang perawatan.
Dalam keadaan sakit begini, kartu BPJS Kesehatan sangatlah berharga. Saya sarankan kartu ini harus selalu berada di dompet (walaupun bisa juga disimpan secara elektronik, misalnya pada aplikasi Mobile JKN).
Sebagai PNS Golongan IV/a, saya berhak mendapat perawatan kelas 1. Namun suster menawarkan kamar VIP yang kebetulan kosong, dengan catatan saya akan dibebankan biaya upgrade kamar. Saya menyambut baik tawaran tersebut, dan segera dipindahkan ke Ruang Bugenvil.
Bu Isti, Rengga, dan Mamet saya minta segera pulang. Sebenernya Bu Isti ingin menjaga saya di ruang perawatan, namun saya menolaknya. Usia Bu Isti yang sudah di atas 55 tahun tentu saja masuk golongan rawan terpapar covid-19.
Bu Isti bertanya:”Jika tidak ada yang menjaga, bagaimana Ibu jika membutuhkan sesuatu?” Saya jawab,”Tenang Bu, di depan ruangan saya terdapat pos perawat yang dijaga 24 jam. Saya juga sudah diberikan nomor WA tim perawatnya. Lagi pula, saya masih bisa jalan sendiri ke toilet.”
Seorang suster bertanya:”Apakah Ibu tidak memiliki keluarga?”. Dengan tersenyum saya menjawab:”Ada mbak…mereka di Jawa Timur.”
Malam itu, aneka pesan masuk ke WA saya. Terutama instruksi kantor pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) untuk menyelesaikan pembayaran gaji ke-13 tahun 2020. Seluruh KPPN diperintahkan kerja lembur Sabtu-Minggu (8-9 Agusutus 2020) untuk memproses tagihan SPM dimaksud. Dengan harapan, seluruh satker telah menerima Gaji ke-13 pada hari Senin tanggal 10 Agustus 2020.
Melalui WA Grup KPPN Tanjung Redeb, saya perintahkan para pegawai (terutama Seksi Pencairan Dana dan Manajemen Satker/PDMS dan Seksi Bank) untuk kerja lembur khusus penyelesaian Gaji ke-13. Saya tidak memberitahu rekan-rekan bahwa saya sedang dirawat di RSUD.
Di ruang perawatan, saya sangat patuh dengan perintah dokter, termasuk menikmati makanan yang disajikan rumah sakit. Walaupun rasanya hambar, namun saya paksa untuk menyantapnya. Ibarat mobil, tubuh saya butuh bahan bakar untuk bisa bergerak, yaitu makan makanan yang sehat.
Nasi lembek, tahu rebus, sayur sop, soto ayam, bubur kacang ijo, teh manis, pisang, jeruk, apa saja yang dihidangkan akan saya lahap. Target saya agar lekas pulih dan diijinkan segera pulang dari rumah sakit.
Sabtu, 8 Agustus 2020 pukul 16.45 wita
Pak Suroso, Kepala Seksi PDMS, memberi kabar bahwa hamper seluruh satker sudah menyampaikan SPM Gaji ke-13. Saya minta data satker yang belum mengajukan tagihan, lalu saya hubungi semua KPA-nya agar dapat menyampaikan SPM paling lambat Minggu sore. Alhamdulillah mereka menyambut baik dan berjanji akan segera ke KPPN.
Minggu, 9 Agustus 2020 pukul 17.00 wita
Kabar dari Kasi PDMS bahwa masih ada 1 satker yang belum mengajukan SPM Gaji ke-13, tetapi dari hasil koordinasi diperoleh info bahwa petugas satker akan ke KPPN paling lambat hari Senin pagi. Berita ini segera saya sampaikan kepada Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kalimantan Timur sembari mengabarkan kondisi saya yang tengah dirawat di rumah sakit. Pak Kanwil sangat mengapresiasi kesigapan kami dan berjanji akan menerbitkan cuti sakit untuk 3 hari ke depan. Sedangkan urusan kantor dipersilahkan untuk menyerahkan kepada kasubag umum.
Identitas Penulis:
Nama Martina Sri Mulyani
Unit Kerja KPPN Tanjung Redeb
Disclaimer Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi.

