“Bapak Ibu yang dilantik hari ini, jangan melaksanakan penugasan sebagai business as usual, lakukan evaluasi dan terobosan menghadapi situasi Covid 19 yang melanda dunia. Pahami situasi dan jadilah bagian dari solusi” Begitu pesan Menteri Keuangan aku tangkap dalam pelantikan Pejabat Tinggi Pratama dan Pejabat Administrator, tanggal 9 Maret 2020.
Ya, pelantikan di awal masa pandemi Covid-19. Bergetar hatiku ketika menandatangani daftar hadir. Karena disitu aku baru tahu kemana aku ditugaskan. Selama ini aku tak pernah memperhatikan dimana letak Serui. Cepat-cepat aku cari peta. Aku duduk di kursi sambil menenangkan diri. Awalnya aku gamang. Tapi dengan cepat aku tersadar. Inilah adalah momen pengabdian . Kubulatkan tekad , tidak akan mundur
Selama ini aku hanya mendengar cerita dari teman-teman tentang beratnya bertugas di Papua. Hari itu, aku akan menuju medan itu. Penerbangan menggunakan pesawat berbadan besar hanya sampai di Biak. Selanjutnya, ganti pesawat berbadan kecil. Untuk menempuh penerbangan dari Biak ke Serui. Aku baru mengerti, bahwa cerita tentang kengerian naik pesawat di Papua memang benar.
Kengerian terjadi ketika pesawat yang kutumpangi itu masuk ke dalam awan hitam. Awan itu seolah-olah mencengkeram pesawat jenis ATR -42. Hidupku terasa bergoncang hebat . Mengikuti goncangan pesawat. Bisa ke atas bawah ataupun ke kanan kiri. Ketegangan yang terjadi di pesawat membuat banyak yang menangis dan berdoa. Kecemasan yang luar biasa terjadi. Akupun terus melantunkan doa pada Tuhan. Suasana itu berlangsung selama 5 menit. Sebelum akhirnya pesawat berhasil lepas dari cengkeraman awan hitam.
Begitu kakiku menyentuh tanah, aku seperti mendapat hidup yang baru. Mendapat kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupku. Semakin menyemangatiku untuk memulai debut penugasanku yang kesembilan. Namun yang tak terduga terjadi. Negeri ini mengalami pandemi Covid-19. PSBB di Papua mengantar penutupan penerbangan selama 4 bulan. Kapal-kapal pun turut berhenti beroperasi.
Dua bulan pertama masa PSBB, kami kesulitan mendapat hand sanitizer dan masker. Untuk menjaga kebersihan kami menyediakan media cuci tangan dari ember. Penutupan moda transportasi menyebabkan arus barang sulit masuk ke Serui. Bukan itu saja, ketersediaan obat-obatan pun sangat terbatas. Disamping menghadapi pandemi Covid 19, kami juga harus menghadapi pandemi malaria.
Jumlah kami ada 16 orang. Mereka menjadi inspirasiku dalam bekerja. Kalau anak muda itu bisa bertahan , aku yang paling tua pun, pasti juga bisa. Tugas pengabdian membuat mereka harus melupakan hingar bingar kehidupan kota . Tidak ada cinema 21 dan mall. Yang ada hanya lapangan volley dan tenis meja. Itulah tempat melampiaskan kegundahan. Membuang resah dan tertawa bersama. Mereka mengubur kegelisahan dengan larut dalam pekerjaan dan olahraga
Tantangan terberat kami adalah melayani satker yang ada di Kabupaten Waropen. Kami berada di pulau yang berbeda dengan mereka. Apabila naik kapal cepat akan menempuh perjalanan 45 menit. Disana jaringan internet tidak stabil. Melalui koordinasi dengan Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan, beberapa satker sudah menerima pemasangan jaringan internet dari Bakti (Badan Aksesibilitas Teknologi dan Informasi). Namun karena kondisi alam, sinyalnya masih belum stabil. Seringkali sinyal internet hanya kuat pada waktu dini hari sampai pagi hari.
Saat PSBB, moda transportasi laut berupa kapal cepat pun turut berhenti. Jalur masuk ke Serui diperketat sehingga sulit bagi satker dari Kab. Waropen tidak bisa datang ke KPPN Serui. Kami menjadi merasa lebih tertekan pada masa PSBB. Khususnya ketika membutuhkan komunikasi dengan satker - satker di Kab Waropen. Pelaksanakan koordinasi penyaluran DAK Fisik, Dana Desa, Rekonsiliasi, dan Penyampaian LPJ Bendahara menjadi lebih sulit.
Pandemi Covid 19 telah memaksa perubahan pola layanan pada KPPN Serui. Layanan yang semula tatap muka on desk menjadi on line . Kondisi di Papua, sempat membuat kami pesimis bisa melaksanakan perubahan tersebut. Penyesuaian terhadap cara tatap muka langsung diganti dengan secara virtual. Mengingat tidak semua satker memiliki jaringan internet yang bagus. Tergantung lokasi dan kondisi cuaca. Namun jangan menyerah, sebelum memulai langkah pertama. Ya, segera kami sosialisasikan dan komunikasikan perubahan kepada satker.
Sebelum Pandemi Covid, sebagian besar dari mereka lebih senang datang ke KPPN . Menerima bimbingan teknis dan konsultasi ketika mengalami kesulitan. Apalagi jelang batas akhir rekonsiliasi dan penyampaian LPJ. Apabila mereka ada yang bermasalah. Baik karena tidak bisa datang ke Serui, atau karena ada data rekon yang tidak cocok. Kami pun tambah tegang. Coba hubungi dan hubungi terus . Kadang respon yang didapat tidak memadai. Namun demi mengamankan kinerja, upaya maksimal terus dilakukan.
Ada permasalahan yang sulit dijelaskan hanya dengan menggunakan telpon / virtual. Namun , kami tak lelah untuk menyuarakan agar satker terus belajar dengan perubahan pola layanan. Teman-teman KPPN pun membuat langkah terobosan. Membuat video tutorial, bimtek, sosialisasi dan menguploadnya via youtube. Harapannya pada saat sinyal bagus , stakeholder bisa mengaksesnya untuk belajar. Disamping itu kami juga aktif membuat pesan WAG yang mengingatkan satker agar tidak lalai menjalankan kewajibannya.
Melalui berbagai upaya, akhirnya seluruh satker mampu memanfaatkan layanan on line KPPN Serui . Sesuatu yang awalnya berat akhirnya mampu membawa satker kepada perubahan. Upaya tiada kenal lelah dari KPPN Serui, mampu menjaga kinerja pelaksanaan anggaran dan pelaporan yang baik. Aku mengapresiasi kinerja dari seluruh pegawai KPPN Serui . Sampai hari ini kami tetap semangat menjaga IKU kami agar tetap hijau. Pandemi Covid 19 telah mengajarkan kepada kami untuk lebih peduli dan responsif pada stakeholder yang kami layani. Termasuk kepada mereka yang terdampak akibat pandemi covid 19.
N a m a : Noegroho
Unit Kerja : KPPN Serui
“ Disclaimer : Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi”

