
Yogyakarta, 12 Juni 2024 - Aroma khas tinta batik menyeruak kala memasuki halaman rumah sederhana namun luas di Dusun Pulo, Desa Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Perlahan, tampak 2 perempuan setengah baya tengah asyik membatik di sebuah gubuk sederhana yang berada di salah sudut halaman.
Tak lama, muncul lagi satu perempuan dari dalam rumah yang menyapa kami dengan ramah. Senyumnya menampakkan raut bahagia seperti berjumpa kawan lama.
"Halo, selamat siang!" sapa perempuan tersebut.
Dia lah Erny Widayati, pemilik Mahendra Batik yang merupakan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) binaan Kanwil DJPb DIY. Setelah menyapa kami satu per satu, Erny kemudian masuk kembali ke dalam rumah sembari membawa sejumlah kain batik yang ditata di teras rumah menggunakan rak gantung kain.
"Ini ada yang full batik tulis, ada juga yang dikombinasikan dengan teknik cap," ujarnya.
Kisah Bangkit dari Keterpurukan saat Pandemi Covid-19
Erny bercerita awalnya dia hanya berprofesi sebagai buruh batik. Karena hanya bertugas membatik, dirinya pun tak memiliki keahlian dalam meracik pewarna batik, pemasaran secara online hingga pembukuan keuangan.
Pandemi Covid-19 pun tiba pada awal 2020 dan menghantam seluruh sektor kehidupan masyarakat, tak terkecuali para buruh batik seperti Erny. Namun secercah harapan hadir saat dirinya menerima undangan untuk menghadiri sosialisasi Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) di Kantor Pemda Kulon Progo.
"Kami yang bergabung dalam kelompok usaha bersama (Kube) kemudian diminta oleh Kanwil DJPb DIY untuk menyampaikan apa saja kebutuhan agar bisa bertahan di masa pandemi. Selanjutnya kami yang saat itu berprofesi sebagai buruh batik mulai diberikan pendampingan berupa pelatihan membatik, pewarnaan, dan meracik warna batik baik sintetis maupun warna alam. Lalu ada pendampingan pengolahan limbah, pemasaran lewat online hingga pembukuan," ujar Erny.
Pelatihan dan pendampingan yang dilakukan itu nyatanya membuat Erny semakin percaya diri untuk membuka usaha batik sendiri. Hingga akhirnya, dia berani membuat brand dengan nama Mahendra Batik.
Tak hanya soal teknis, pelatihan soal pemasaran terutama lewat online juga diakui Erny membantu dirinya merintis usaha tersebut. Kanwil DJPb DIY juga membantu dan mendampingi UMKM seperti Mahendra Batik untuk memperoleh akses permodalan lewat UMi.
"Pelatihan pemasaran tersebut memberikan dampak luar biasa untuk Mahendra batik sehingga saya bisa memasarkan produk hingga ke luar Yogyakarta seperti Bogor (Jawa Barat), Jakarta, Bangka Belitung, Padang (Sumatra Barat), dan Kalimantan. Saat ini jenis dan variasi produk Mahendra Batik semakin beragam dan terus bertambah," tuturnya.
Mencoba Go International
Tidak melulu soal permodalan dan pelatihan teknis, Erny mengatakan pertemuannya dengan Kanwil DJPb DIY membuka kesempatan bagi Mahendra Batik untuk memperluas jaringan pemasarannya. Terakhir, Mahendra Batik berkesempatan tampil dan meramaikan event internasional yaitu G20 di Bali dan ASEAN Meeting. Selain menjadi kesempatan untuk berjualan, 2 event itu dimanfaatkan Erny dan Mahendra Batik untuk mendekatkan budaya batik kepada delegasi dari berbagai negara lain.
"Pertemuan dengan Kanwil DJPb DIY telah memberikan banyak hikmah dan pembelajaran yang luar biasa. Terutama saya diberikan kesempatan utk mendukung kegiatan G20 dan ASEAN Meeting yang berlevel internasional. Dalam kegiatan itu Mahendra Batik menampilkan berbagai produk andalan kami serta memberikan edukasi membatik kepada para delegasi dari berbagai negara di dunia," kata Erny.
Dia pun bersyukur Mahendra Batik kini sudah mempekerjakan sekitar 20 karyawan yang juga merupakan warga sekitar. Dengan kata lain, Mahendra Batik pun ikut memajukan perekonomian Desa Gulurejo.
Erny berharap Kanwil DJPb DIY bisa terus memberikan pendampingan kepada Mahendra Batik agar bisa terus berkembang. Terutama di bidang pemasaran yang kini lebih cenderung ke arah digital.
"Harapan saya, Kanwil DJPb DIY tetap memberikan dukungan kepada Mahendra Batik untuk memperluas jaringan pemasaran serta memberikan pelatihan-pelatihan kepada Mahendra Batik agar bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan batik besar di era digital saat ini," tutupnya.




