Banyumas — “Saya kangen kambing saya.” Itulah kalimat sederhana namun penuh makna yang disampaikan Danu, salah satu siswa di Sekolah Rakyat (SR) Sentra Satria Banyumas, ketika ditanya mengapa beberapa hari terakhir ia enggan belajar serta tidak mengikuti kegiatan di asrama. Jawaban tersebut membuka ruang refleksi bagi pengelola sekolah dalam memahami latar belakang dan kondisi psikologis anak-anak yang menempuh pendidikan di SR.
Menindaklanjuti hal tersebut, Kepala Sekolah SR Sentra Satria Banyumas, Ibu Siti Isbandiyah, S.Pd., M.M., bersama Kepala Sentra Satria Banyumas, Bapak Darmanto, mengambil langkah pendekatan personal dengan mengupayakan agar Danu dapat pulang untuk menengok kambing miliknya di kampung halaman, di wilayah pinggiran Kabupaten Banyumas. Hewan ternak tersebut selama ini menjadi salah satu figur kedekatan emosional bagi Danu.
Sesampainya di kampung, Danu melepas rindu dengan kambing kesayangannya. Setelah terpenuhi kebutuhan emosional yang selama ini ia pendam, Danu pun bersedia kembali ke asrama, mengikuti pelajaran, dan berbaur kembali dengan aktivitas sekolah secara normal.
Kisah ini menjadi pembelajaran berharga bahwa keberhasilan Sekolah Rakyat tidak hanya bertumpu pada penyediaan fasilitas dan kurikulum, tetapi juga pada kemampuan memahami karakter, latar budaya, serta dinamika keseharian setiap anak. Pendekatan yang penuh empati dan kebijakan menjadi kunci agar anak-anak mampu tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal.
Sekolah Rakyat Sentra Satria Banyumas merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam memastikan bahwa seluruh anak Indonesia, tanpa terkecuali, memperoleh kesempatan untuk meraih pendidikan yang berkualitas dan manusiawi.




