Pekanbaru, 21 Mei 2024
- Perkembangan Perekonomian sampai Akhir Bulan April 2024
- Tensi geopolitik dunia masih membayangi prospek ekonomi RI. Meningkatnya kerawanan di Kawasan Laut Merah, Konflik Israel-Iran, resesi di negara mitra dagang (Jepang dan Inggris), serta dampak dari cuaca ekstrem dapat mempengaruhi ekonomi dalam negeri. Namun demikian angka pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menunjukkan tren yang positif.
- Ekonomi Riau pada triwulan I tahun 2024 tumbuh mencapai 3,42% (yoy) tetapi terkontraksi dibandingkan Triwulan IV 2023 sebesar 1,34% (q2q). Kontribusi Provinsi Riau pada triwulan I tahun 2024 terhadap perekonomian nasional sebesar 5,00%, menempati posisi ke-6 PDRB terbesar secara nasional atau ke-2 terbesar di regional Sumatera. Dari sisi pengeluaran, perekonomian Riau melaju akibat peningkatan realisasi konsumsi LNPRT akibat Pilpres dan Pileg 2024 dan kinerja ekspor lesu akibat pelemahan ekspor komoditas lemak dan minyak hewan serta migas.
Sementara itu dari sisi lapangan usaha, perekonomian Riau tumbuh disebabkan karena antara lain:
- volume dan nilai ekspor luar negeri komoditas Migas, volume ekspor bubur kertas/pulp, dan nilai ekspor berbagai produk kimia meningkat,
- kegiatan konstruksi yang konsisten meningkat karena pembangunan jalan tol.
- penurunan produksi batubara dan minyak mentah blok Rokan,
- pertumbuhan administrasi pemerintah akibat pembayaran Gaji ke-14 dan THR serta belanja pegawai.
- Sebagaimana bulan Maret 2024, neraca perdagangan di Riau untuk bulan April 2024 masih surplus sebesar US$ 1,16 M dengan ekspor sebesar US$ 1,30 M (terkontraksi 6,01%) dan impor sebesar US$ 139,14 juta (terkontraksi 22,30% dibanding bulan sebelumnya).
- Pada bulan April 2024, inflasi domestik relatif terkendali sebesar 0,05 (mtm) dan
3,99 (yoy). Indeks Harga Konsumen (IHK) April 2024 sebesar 107,22. Komoditas bawang merah masih menjadi pemicu inflasi pada April 2024 yang disebabkan peningkatan permintaan pada Lebaran Idul Fitri sementara pasokan bawang merah relatif berkurang karena tingginya curah hujan di daerah sentra produksi. Selain itu, konflik geopolitik juga memberikan dampak inflasi dengan kenaikan harga emas sebagai imbas dari ketidakpastian ekonomi global. - Riau menempati posisi ke-2 NTP tertinggi di Pulau Sumatera setelah Bengkulu. Nilai Tukar Petani tumbuh 2,77% pada April 2024 disebabkan kenaikan harga kelapa sawit, karet, ayam ras pedaging, dan pisang di pasar domestik dan pasar global. Indeks harga terima petani (It) yang naik 2,73% sementara indeks harga bayar petani (Ib) turun 0,04% akibat inflasi pada harga cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras dan kembung. Berdasarkan subsektor, subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat mengalami pertumbuhan tertinggi. Hal ini disebabkan kenaikan kelapa sawit, karet, dan kakao/ coklat biji. Sementara itu, subsektor Hortikultura mengalami kontraksi terdalam akibat penurunan indeks harga kelompok sayuran dan tanaman obat.

- Perkembangan APBN Terkini
- Sampai dengan akhir April 2024, APBN Riau mencatatkan pendapatan sebesar Rp7,08 triliun, yang terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp6,59 triliun dan PNBP sebesar Rp482,54 miliar. Sementara itu belanja negara sebesar Rp9,09 triliun yang terdiri dari Belanja Pemerintah Pusat Rp2,74 triliun dan Transfer ke Daerah sebesar Rp6,36 triliun sehingga deficit bulan April sebesar Rp2,01 triliun.
- Dukungan APBN kepada APBD melalui Transfer ke Daerah (TKD) meningkat sebesar 5,72% dibanding periode yang sama tahun lalu. Dana Bagi Hasil (DBH) telah terealisasi sebesar Rp1,22 triliun, Dana Alokasi Umum (DAU) terealisasi sebesar Rp3,19 triliun, DAK Non Fisik sebesar Rp1,35 triliun, dan Dana Desa sebesar Rp591,32 miliar. Sementara itu DAK Fisik belum terealisasi akibat dari Perpres Nomor 57 Tahun 2024 tentang Petunjuk Teknis Dana Alokasi Khusus Fisik dan PMK Nomor 25 tahun 2024 tentang Pengelolaan DAK Fisik baru ditetapkan pada akhir April 2024, sehingga akan menggeser pelaksanaan kontrak pengadaan oleh Pemda, dan berisiko adanya penumpukan pengajuan mendekati batas akhir penyaluran Tahap I, yaitu pada tanggal 22 Juli 2024 pukul 17.00 sesuai ketentuan dalam Pasal 45 ayat (2) PMK 25 Tahun 2024.
- Belanja Negara secara keseluruhan tumbuh 11,32% yoy, disokong oleh belanja pemerintah pusat yang tumbuh 26,92% dan belanja TKD yang tumbuh 5,72% (yoy). Dari sisi belanja pempus, belanja pegawai tumbuh 15,47%. Pertumbuhan tertinggi pada satker KOREM-031/WB DAM-I/BB, disusul Kemenag Inhil, Kemenag Rohul, Kemenag Siak, Kemenag Bengkalis, dan Lanud Rusmin Nurjadin. Belanja Barang tumbuh 44,18%, disokong terutama oleh satker Setbawaslu Prov. Riau, KPU seluruh kab/kota, dan Pelaksanaan Prasarana Pemukiman Riau. Belanja bansos tumbuh 637,16% yang disokong oleh belanja bantuan KIP kuliah bagi mahasiswa UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru dan STAIN Bengkalis.
- Realisasi PNBP tumbuh sebesar 1,77% disebabkan realisasi pendapatan BLU yang tumbuh dibanding tahun lalu. Beberapa satker dengan pertumbuhan PNBP tertinggi adalah Universitas Riau, Balai Pengelola Transportasi Darat Riau, Kejaksaan Negeri Pekanbaru, Kantor BPN Pelalawan, Kantor BPN Kuansing, dan Kejari Dumai.
- Penyaluran KUR sampai dengan April 2024 berhasil terealisasi Rp3,17 triliun kepada 37.639 debitur, tumbuh 86,16% secara yoy. Realisasi pada bulan April sebesar Rp667,1 miliar, turun 32,87% dibandingkan bulan Maret. Rata-rata penyaluran turun 0,99% yoy menjadi Rp84,29 juta. Kabupaten Kampar merupakan daerah dengan penyaluran tertinggi (Rp460,9 miliar), tetapi daerah dengan rata-rata pinjaman tertinggi berada di Kab. Rokan Hulu (Rp105,04 juta). Penyaluran KUR masih dominan pada sektor pertanian dan perkebunan (Rp2,16 triliun). Rata-rata pinjaman tertinggi ada pada sektor konstruksi (Rp278,48 juta/debitur) dan jasa pendidikan (Rp181,82 juta/debitur). Penyaluran KUR dominan dilakukan oleh BRI (Rp1,95 triliun) dan Bank Mandiri (Rp596,06 miliar). Rata-rata penyaluran tertinggi berada di Bank Tabungan Negara (Rp427,78 juta/debitur).
- Realisasi penyaluran UMi s.d. April 2024 tersalurkan sebanyak Rp43,91 miliar kepada 7.567 debitur. Penyaluran ini naik 25,08% yoy dari nilai dan 5,95% yoy dari jumlah debitur. Rata-rata penyaluran juga naik 18,05% yoy menjadi Rp5,80 juta/debitur.Penyaluran UMi paling banyak terdapat di Kab. Rokan Hulu (Rp8,11 miliar), sementara rata-rata penyaluran tertinggi berada di Kota Dumai (Rp9,84 juta/debitur). Debitur UMi di Riau masih banyak yang meminjam di rentang nilai Rp2,5 jt s.d. Rp5 jt (38,05%), namun demikian, debitur yang meminjam di rentang Rp7,5 s.d. 10jt dan Rp5 s.d Rp7,5 jt juga meningkat.
- Kesimpulan:
- Seiring aktivitas ekonomi domestik yang terjaga, kinerja APBN Riau hingga 30 April 2024 masih mencatatkan defisit sebesar Rp2,01 triliun, dan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,42% (yoy). Kontribusi Provinsi Riau pada triwulan I tahun 2024 terhadap perekonomian nasional sebesar 5 %, menempati posisi ke-6 PDRB terbesar secara nasional atau ke-2 terbesar di regional Sumatera.
- Pemerintah akan terus mewaspadai volatilitas pasar keuangan dan komoditas serta perlambatan pertumbuhan perekonomian dunia. APBN 2024 terus dioptimalkan sebagai shock absorber untuk melindungi daya beli, menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung berbagai agenda pembangunan.
Kantor Wilayah DJPb Provinsi Riau
Jalan Jenderal Sudirman nomor 249, Pekanbaru, Riau
IG : djpbriau
Youtube : Kanwil DJPb Riau
Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Telepon : (0761) 22647

