Pekanbaru, 30 April 2026
Perkembangan Perekonomian Riau sampai Akhir Bulan Maret 2026
- Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam penutupan Selat Hormuz, telah memicu instabilitas pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak ke rata-rata $116,36 per barel, yang secara simultan menciptakan risiko gangguan pasokan gas alam sebagai bahan baku utama pupuk kimia. Kondisi ini tidak hanya memicu volatilitas harga CPO dan minyak bumi, tetapi juga memberikan tekanan berat pada ruang fiskal daerah akibat fluktuasi harga domestik. Ketidakpastian pasokan input pertanian mengancam margin produsen kelapa sawit rakyat, yang pada gilirannya memerlukan pengawasan ketat terhadap kinerja realisasi APBN dan APBD guna memastikan efektivitas intervensi pemerintah dalam meredam gejolak eksternal.
- Hingga Triwulan IV 2025, ekonomi Riau tercatat tumbuh 4,94 persen (y-on-y), melambat dibanding triwulan sebelumnya, namun masih jauh lebih baik dari periode yang sama tahun 2024 yang hanya 3,52 persen. Meski demikian, laju pertumbuhan ini belum mampu mengungguli rata-rata nasional yang berada di angka 5,39 persen.
- Perekonomian Riau melaju akibat peningkatan konsumsi Rumah Tangga (4,59%) seiring Nilai Tukar Petani yang meningkat sebesar 197,48, naik 2,89% (m-to-m) dibanding Februari 2026, yang merupakan peringkat ke-2 NTP tertinggi di Pulau Sumatera setelah Bengkulu (203,94).
- Neraca perdagangan Provinsi Riau secara kumulatif Januari–Februari 2026 masih mencatatkan surplus sebesar US$ 2.912,51 juta, yang mencerminkan bahwa nilai ekspor masih jauh melampaui impor. Meski demikian, surplus ini turun US$ 179,49 juta dibanding periode yang sama tahun lalu, seiring dengan lonjakan impor yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekspor.
- Pada Maret 2026, Provinsi Riau terjadi deflasi m-to-m sebesar 0,20 persen, deflasi y-to-d sebesar 0,32 persen, dan inflasi y-on-y sebesar 3,65 persen. Penyumbang utama deflasi Provinsi Riau Maret 2026 secara m-to-m adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,11 persen
Perkembangan APBN Terkini
- Pendapatan negara mencapai Rp5.553,56 miliar atau terkontraksi sebesar 13,50 persen (y-o-y). Hal ini dipengaruhi oleh penerimaan Bea Cukai yang terkontraksi cukup dalam yaitu 38,61 persen (y-o-y).
- Pendapatan pajak pada awal tahun ini melanjutkan tren positif dengan tumbuh 2,50 persen (y-o-y) atau sebesar Rp3.152,74 miliar. Hal ini ditopang dari sektor PPh dan PPN yang masing-masing tumbuh 24,19 persen dan 4,64 persen (y-o-y). Namun perlu menjadi perhatian bahwasanya penerimaan PBB dan Pajak lainnya justru terkontraksi sebesar 1048,20 persen serta 203,49 persen
- Penerimaan Bea Cukai mengalami kontraksi sebesar 38,61 persen (y-o-y) atau senilai Rp2.003,01 miliar, menyusul turunnya cukai dan bea keluar masing-masing 41.49 persen dan 39,41 persen. Hal ini dipengaruhi karena turunnya tonase ekspor dibandingkan bulan Maret tahun sebelumnya.
- PNBP terealisasi Rp397,81 miliar atau tumbuh 4,06 persen (y-o-y), Hal ini karena naiknya PNBP Lainnya sebesar 7,03 persen, atau senilai 224,18 miliar.
- Secara umum, penerimaan pajak dan penerimaan bea dan cukai masih ditopang sektor sawit. Melihat target penerimaan pajak dan bea cukai yang meningkat cukup signifikan di tahun ini perlu langkah strategis untuk meningkatkan penerimaan pajak sehingga target penerimaan negara dapat dicapai. Selain itu, perlu dilakukan langkah antisipasi terhadap kemungkinan restitusi yang masih terjadi seiring volatilitas harga sawit sehingga perlu melakukan manajemen restitusi dan mengantisipiasi kendala pada coretax khususnya pada periode akhir pelaporan SPT Tahunan WP OP dan WP Badan yang berakhir di 30 April 2026.
- Belanja negara mencapai Rp7.173,46 miliar atau tumbuh 23,18 persen (y-o-y). Belanja Pemerintah Pusat mencatatkan pertumbuhan 39,95 persen atau senilai Rp1.940,17 miliar seiring dengan tumbuhnya realisasi belanja pegawai dan belanja barang yang masing-masing mencapai 34,91 persen dan 22,50 persen (y-o-y) atau senilai Rp1.302,77 miliar serta Rp469,57 miliar
- Penyaluran TKD melanjutkan pertumbuhan 17,94 persen secara y-o-y, atau senilai Rp5,233,29 miliar. Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus Non Fisik tumbuh masing-masing 56,71 persen dan 68,22 persen (y-o-y). Adapun Dana Bagi Hasil terkontraksi 59,13 persen dibandingkan tahun lalu di periode yang sama. Selain itu untuk Dana Desa sudah tersalur 22,30 persen dan Dana Alokasi Khusus Fisik belum terealisasi karena belum adanya juknis penyalurannya
- Sampai dengan akhir Maret 2026 realisasi APBN Regional Riau mencatatkan defisit sebesar Rp1.619,90 miliar. Defisit ini lebih tinggi dari tahun lalu di periode yang sama yang surplus Rp596,43 miliar.
Perkembangan APBD Regional Riau Terkini
- Realisasi pendapatan APBD sebesar Rp4.346,39 miliar sebesar 13,35 persen dari pagu. Realisasi Pendapatan APBD tumbuh 52,74 persen (y-o-y) disebabkan oleh pertumbuhan PAD sebesar 231,17 persen (y-o-y), pendapatan transfer sebesar 20,23 persen (y-o-y), transfer antar daerah sebesar 375,04 persen, dan LLPDyS sebesar 101,10 persen (y-o-y).
- Belanja APBD terealisasi sebesar 12,15 persen yaitu Rp4.089,36 miliar masih didominasi oleh belanja operasi dengan porsi (90,42 persen). Realisasi belanja daerah tumbuh sebesar 101,11 persen (y-o-y) yang dipengaruhi pertumbuhan pada hampir seluruh komponen belanja, seperti belanja operasi sebesar 98,61 persen (y-o-y), belanja modal sebesar 108,75 persen (y-o-y), dan belanja transfer sebesar 144,35 persen (y-o-y). Sedangkan belanja tidak terduga terkontraksi sebesar 91,23 persen (y-o-y)
- APBD Riau mengalami surplus sebesar Rp257,03 miliar, berbanding terbalik dengan pagu yang direncanakan defisit. Sampai dengan Maret 2026, tercatat pembiayaan daerah sebesar Rp46,87 miliar karena penerimaan pembiayaan lebih besar dari pembayaran cicilan pokok utang. Keadaan surplus tersebut mengindikasikan lambatnya penyerapan belanja oleh pemda. Namun atas data APBD tersebut, realisasi dari Pemerintah Kab. Kampar bulan Maret 2026 masih menggunakan data estimasi.
Kinerja Kredit Program Pemerintah
- Kredit Program terus bertumbuh di tengah kelesuan belanja daerah, penyaluran kredit program diharapkan menjadi penyelamat bagi para pelaku usaha kecil di Riau. Penyaluran KUR Maret 2026 terealisasi Rp2.786,78 miliar (29,43 persen dari plafon KUR Tahun 2026) kepada 30.728 debitur (39,51 persen dari target 2026) yang masih didominasi oleh sektor pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar Rp1.751,73 miliar kepada 19.050 debitur. Penyaluran KUR ini tumbuh sebesar 21,75 persen dengan rata-rata penyaluran s.d Maret 2026 sebesar Rp90,69 juta/debitur.
- Sedangkan kabar yang menggembirakan juga datang dari pembiayaan Ultra Mikro (UMi). Penyalurannya naik cukup signifikan sebesar 278,90 persen dibanding tahun lalu yang mencapai Rp142,11 miliar kepada 19.240 debitur, dengan ata-rata penyaluran sampai Maret 2026 mencapai Rp7,39 juta/debitur. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha terkecil di Riau semakin mudah mendapatkan akses permodalan untuk mengembangkan bisnis mereka.

