
Pekanbaru, 30 Juli 2026
Perkembangan Perekonomian Riau sampai Akhir Bulan Juni 2026
- Memasuki pertengahan tahun 2026, perekonomian global masih dibayangi berbagai tantangan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik Iran dengan Amerika Serikat beserta sekutunya, meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi dunia dan mendorong volatilitas harga minyak. Di sisi lain, fragmentasi perdagangan global serta kebijakan moneter negara maju masih memberikan tekanan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Meskipun demikian, perekonomian Indonesia khususnya di Provinsi Riau tetap menunjukkan resiliensi yang baik. Permintaan domestik terjaga, inflasi relatif terkendali, sektor keuangan stabil, dan APBN tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
- Perkembangan ekonomi Provinsi Riau juga menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. Pada Triwulan I Tahun 2026, ekonomi Riau tumbuh 4,89 persen (year-on-year), didukung oleh kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, dan investasi yang tetap kuat.
- Aktivitas perdagangan luar negeri masih menjadi motor penting perekonomian daerah. Selama periode Januari–Mei 2026, Provinsi Riau mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$6,97 miliar, dengan nilai ekspor mencapai US$8,60 miliar dan impor sebesar US$1,63 miliar. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa komoditas unggulan Riau, khususnya kelapa sawit beserta produk turunannya, masih memiliki daya saing yang tinggi di pasar internasional.
- Dari sisi stabilitas harga, inflasi pada bulan Juni 2026 tetap berada dalam kisaran yang terkendali sehingga mendukung terjaganya daya beli masyarakat, yang tercatat sebesar 0,35 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 4,55 persen (yoy). Inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga cabai merah, minyak goreng, tomat, biaya pemeliharaan kendaraan pribadi, bensin, dan ikan patin. Secara umum inflasi masih berada dalam rentang yang terkendali dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.
- NTP Riau Juni 2026 tercatat sebesar 193,69 turun 6,62% (m-to-m) dibanding Mei 2026, diakibatkan oleh turunnya harga komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kelapa, ayam ras pedaging, sapi potong dan nenas. NTP Riau menduduki peringkat ke-2 dari 10 provinsi di Sumatera, dibawah provinsi Bengkulu dengan NTP sebesar 196,87. Hal ini mencerminkan kuatnya nilai tukar petani terutama karena dominasi petani sawit rakyat dengan nilai komoditas yang tinggi. Sedangkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) cukup stabil di angka 109,02.
Perkembangan APBN Terkini
- Realisasi pendapatan negara sampai dengan Juni 2026 mencapai Rp15,25 triliun atau 52,11 persen dari target APBN. Capaian tersebut tumbuh sebesar 25,00 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp8,63 triliun atau tumbuh sebesar 23,94 persen secara y-o-y, penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp5,96 triliun tumbuh sebesar 28,73 persen secara y-o-y, dan penerimaan PNBP sebesar Rp662,15 miliar tumbuh 8,74 persen secara y-o-y.
- Kinerja penerimaan pajak Bulan Juni 2026 tumbuh sebesar 33,88% sebesar Rp8,63 triliun, dengan pertumbuhan terbesar pada kelompok pajak PPh sebesar 356,42% atau naik Rp884,85 M, pertumbuhan pada jenis pajak PPh 25/29 Badan terbesar dari Sektor Industri Pengolahan sebesar 630,37% atau naik Rp787,96 M dan Sektor Pertanian sebesar 511,09% atau naik Rp98,17 M. Secara umum, Penerimaan Pajak di Riau masih ditopang sektor sawit sehingga sangat terpengaruh oleh kondisi global dan kebijakan ekspor dari pemerintah. Pajak ditopang sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan pertanian.
- Penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp5,96 triliun atau 99,13 persen dari target. Bea Masuk tumbuh signifikan sebesar 34,10 persen yang dipengaruhi meningkatnya impor barang modal, termasuk importasi pesawat udara. Sementara itu, Bea Keluar tumbuh 28,66 persen sejalan dengan perkembangan ekspor produk turunan kelapa sawit. Harga Patokan Ekspor CPO pada Juni 2026 berada pada kolom 8 dengan HPE 1.029,51 USD/MT dan pada bulan Juli 2026 Harga Patokan Ekspor CPO tetap berada pada kolom 8 dengan Harga Patokan Ekspor 1.000,90 USD/MT (turun 2,78%)
- Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sampai dengan Mei 2026 mencapai Rp579,19 miliar atau tumbuh 14,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya PNBP Lainnya serta pendapatan Badan Layanan Umum (BLU).
- Realisasi belanja negara sampai dengan Mei 2026 mencapai Rp14,01 triliun atau 52,43 persen dari pagu. Secara tahunan, belanja negara terkontraksi 2,41 persen.
- Belanja Pemerintah Pusat terealisasi sebesar Rp4,63 triliun atau tumbuh 42,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya realisasi belanja pegawai sebesar 38,44 persen, belanja barang sebesar 16,02 persen, serta belanja modal yang tumbuh sangat tinggi sebesar 421,43 persen. Kondisi ini menunjukkan semakin meningkatnya pelaksanaan program dan kegiatan kementerian/lembaga di wilayah Provinsi Riau.
- Transfer ke Daerah (TKD) telah tersalurkan sebesar Rp9,39 triliun atau 52,83 persen dari pagu. Secara tahunan, penyaluran TKD mengalami kontraksi sebesar 15,51 persen. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh lebih rendahnya realisasi Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Desa dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun demikian, penyaluran Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) tetap menunjukkan pertumbuhan positif.
- Dengan realisasi pendapatan negara sebesar Rp15,25 triliun dan realisasi belanja negara sebesar Rp14,01 triliun, APBN Regional Riau sampai dengan Juni 2026 masih mencatatkan surplus sebesar Rp1,23 miliar.
Perkembangan APBD Regional Riau Terkini
- Kinerja APBD pemerintah daerah di Provinsi Riau sampai dengan Juni 2026 menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Realisasi pendapatan daerah mencapai Rp12,18 triliun atau 37,41 persen dari target pendapatan tahun 2026. Secara tahunan, pendapatan daerah tumbuh sebesar 2,95 persen.
- Pertumbuhan pendapatan daerah terutama ditopang oleh peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tumbuh 31,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan transfer juga masih tumbuh positif sebesar 90,16 persen.
- Di sisi belanja, realisasi belanja daerah mencapai Rp10,54 triliun atau 31,32 persen dari pagu APBD. Secara tahunan, realisasi belanja daerah mengalami kontraksi sebesar 2,56 persen. Kontraksi terutama dipengaruhi oleh perlambatan realisasi belanja modal, belanja transfer, dan belanja tidak terduga.
- Dengan realisasi pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan realisasi belanja, APBD se-Provinsi Riau sampai dengan Mei 2026 mencatatkan surplus sebesar Rp1,61 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan masih tersedianya ruang fiskal yang cukup besar untuk mendukung percepatan pelaksanaan program pembangunan pada semester berikutnya.
Isu Strategis dan Policy Response
- Pada TA 2026, realisasi belanja modal Pemerintah Provinsi Riau baru mencapai Rp403,96 miliar atau 12,25 persen dari pagu anggaran sebesar Rp3.298,83 miliar. Dibandingkan dengan periode yang sama pada TA 2025, realisasi belanja modal mengalami penurunan sebesar 29,38 persen (y-o-y) dari Rp572,02 miliar menjadi Rp403,96 miliar. Belanja Bansos dan Subsidi juga mengalami perlambatan dimana realisasinya baru mencapai 12,84 persen dan 13,24 persen dari pagunya.
- Rekomendasi kebijakan yang akan dilakukan oleh Kanwil DJPB Provinsi Riau, yaitu akan mengundang dan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Daerah yang realisasi belanja modal, bansos dan subsidinya masih rendah dan mendorong pemda dimaksud untuk melakukan akselerasi pelaksanaan realisasi anggarannya.

