
Rapat Komite/Pleno ALCo Regional Sumsel Periode s.d. 28 Februari 2026 (16/03/2026)
Palembang, 16 Maret 2026 - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Sumatera Selatan hingga 28 Februari 2026 menunjukkan penguatan yang berkelanjutan. Pendapatan negara dan belanja negara tumbuh positif, didukung sinergi pelaksanaan tugas pengelolaan fiskal oleh unit vertikal Kementerian Keuangan bersama Pemerintah Daerah. Di sisi lain, stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga meskipun menghadapi tekanan eksternal dan dinamika harga komoditas.
Dari sisi pendapatan negara, realisasi mencapai Rp2,16 triliun atau 10,20% dari target. Penerimaan perpajakan menjadi kontributor utama sebesar Rp1,62 triliun (9,57% target) dengan pertumbuhan sekitar 7,9% (yoy), didorong peningkatan setoran PPN dan PPh Pasal 21 seiring aktivitas ekonomi sektor unggulan seperti sawit dan karet serta implementasi coretax. Penerimaan kepabeanan dan cukai terealisasi Rp38,81 miliar (2,23% target), masih mengalami tekanan terutama pada bea keluar akibat penurunan kinerja ekspor komoditas. Namun demikian, peran pengawasan tetap kuat dengan 54 penindakan yang berhasil mengamankan potensi kerugian negara sekitar Rp3,8 miliar.
Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp497,35 miliar (20,12% target), ditopang oleh peningkatan layanan BLU seperti rumah sakit dan pendidikan. Dari sisi pengelolaan kekayaan negara, PNBP dari BMN hingga Februari mencapai sekitar Rp6,75 miliar, didominasi pemanfaatan aset melalui skema sewa. Optimalisasi aset, percepatan lelang, dan penagihan piutang terus didorong untuk menjaga kinerja penerimaan.
Dari sisi belanja negara, realisasi mencapai Rp6,31 triliun atau 16,78% dari pagu, tumbuh sekitar 5,18% (yoy). Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp1,48 triliun (10,19% pagu) meningkat signifikan didorong kenaikan belanja pegawai, belanja barang, serta lonjakan belanja modal akibat low base effect. Transfer ke Daerah (TKD) terealisasi Rp4,83 triliun (20,95% pagu) atau tumbuh 0,52% (yoy) dan tetap menjadi instrumen penting dalam mendukung belanja layanan dasar daerah. Kinerja TKD terutama ditopang oleh Dana Alokasi Umum (DAU) dan DAK Non Fisik, meskipun secara kebijakan terdapat penyesuaian pagu TKD nasional yang berdampak pada daerah.
Di sisi APBD, kinerja keuangan daerah hingga Februari 2026 masih menunjukkan perlambatan. Pendapatan daerah terealisasi Rp2,65 triliun (7,08%) dan belanja daerah Rp1,81 triliun (4,60%), dengan kontraksi pada sebagian besar komponen pendapatan, baik PAD maupun transfer. Kondisi ini mencerminkan perlunya percepatan belanja daerah untuk mendorong aktivitas ekonomi.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Sumatera Selatan mencatat surplus sebesar USD576,54 juta, meskipun terkontraksi sekitar 50,01% (yoy) akibat penurunan ekspor komoditas utama seperti batubara, karet, dan pulp. Impor tercatat USD212,79 juta, didominasi mesin dan bahan baku, serta tumbuh positif secara tahunan.
Kondisi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat relatif terjaga. Inflasi Februari 2026 tercatat 4,36% (yoy), dipengaruhi kenaikan harga emas, listrik, dan bahan pangan. Indeks Keyakinan Konsumen tetap optimis di level 128,72, serta aktivitas konsumsi, produksi, dan investasi menunjukkan penguatan di awal tahun. Indikator kesejahteraan juga membaik, tercermin dari penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran serta membaiknya distribusi pendapatan (Gini Ratio 0,298).
Secara keseluruhan, kinerja APBN Sumatera Selatan hingga Februari 2026 menunjukkan tren yang positif dan terjaga. Pertumbuhan pendapatan negara, akselerasi belanja, penguatan pengawasan, serta optimalisasi aset negara menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah akan terus diperkuat guna menghadapi tantangan global dan menjaga momentum pembangunan di Sumatera Selatan.
Unduh dalam format PDF: APBN Sumsel Menguat di Awal Tahun 2026: Pendapatan dan Belanja Tumbuh, Stabilitas Ekonomi Tetap Terjaga


