
Rapat Komite/Pleno ALCo Regional Sumsel Periode s.d. 31 Maret 2026 (29/04/2026)
Palembang, 29 April 2026 - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Sumatera Selatan hingga 31 Maret 2026 tetap menunjukkan peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global dan tekanan inflasi. Aktivitas ekonomi mulai menguat di awal tahun, ditopang oleh konsumsi masyarakat dan investasi, meskipun terdapat perlambatan pada sisi fiskal.
Dari sisi pendapatan negara, realisasi mencapai Rp3,19 triliun atau 15,10% dari target. Penerimaan pajak menjadi kontributor utama sebesar Rp2,42 triliun (14,28%), didukung oleh peningkatan setoran PPN dan PPh 21 seiring aktivitas ekonomi pada sektor unggulan seperti kelapa sawit dan karet. Penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp61,49 miliar (3,53%), mengalami kontraksi -67,27% (yoy) yang dipengaruhi penurunan harga patokan ekspor dan volume ekspor komoditas. Sementara itu, PNBP terealisasi sebesar Rp713,77 miliar (28,88%), terutama berasal dari layanan BLU sektor kesehatan dan pendidikan.
Dari sisi belanja negara, realisasi mencapai Rp9,51 triliun atau 24,92% dari pagu. Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp2,91 triliun (19,29%) tumbuh positif, didorong peningkatan belanja pegawai dan belanja modal akibat low base effect. Sementara itu, Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp6,59 triliun (28,62%) mengalami kontraksi seiring penurunan alokasi nasional, meskipun tetap mendukung pembiayaan layanan publik, khususnya melalui DAU dan DAK Non Fisik.
Pada sisi APBD, kinerja keuangan daerah hingga triwulan I 2026 masih on track, dengan realisasi pendapatan daerah sebesar Rp5,41 triliun (14,48%) dan belanja daerah sebesar Rp4,74 triliun (12,07%). Pertumbuhan pendapatan daerah didorong oleh peningkatan signifikan PAD serta transfer dari pemerintah pusat.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Sumatera Selatan mencatatkan surplus sebesar USD947,11 juta, meskipun terkontraksi -47,28% (yoy). Nilai ekspor tercatat USD1.254,42 juta (terkontraksi -38,89% yoy), didominasi komoditas batu bara, karet, dan pulp. Sementara itu, impor sebesar USD307,31 juta tumbuh 20,01% (yoy), didominasi komoditas mesin, pupuk, dan reaktor, turbin, generator, yang mencerminkan peningkatan aktivitas produksi dan investasi.
Kondisi makroekonomi daerah tetap terjaga positif. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan pada triwulan IV 2025 tercatat 5,54% (yoy), dengan pertumbuhan tahunan 2025 sebesar 5,35%, lebih tinggi dari nasional dan menjadi yang tertinggi kedua di Sumatera. Konsumsi rumah tangga menjadi penggerak utama dengan kontribusi 61,33%, sementara investasi juga mulai meningkat.
Inflasi Maret 2026 tercatat 3,09% (yoy) dan relatif terkendali, meskipun terdapat tekanan dari kelompok perawatan pribadi, perumahan, serta makanan dan minuman. Secara bulanan, inflasi sebesar 0,29% (mtm) dipengaruhi oleh momen Ramadan dan Idulfitri yang meningkatkan permintaan masyarakat.
Indikator kesejahteraan masyarakat menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan menurun menjadi 9,85%, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 3,59%, dan Gini Ratio membaik menjadi 0,298. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 74,76, serta Nilai Tukar Petani (NTP) berada pada level 131,36, mencerminkan daya beli petani yang relatif terjaga.
Secara keseluruhan, kinerja APBN Sumatera Selatan hingga Maret 2026 menunjukkan bahwa kebijakan fiskal tetap efektif dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pemulihan aktivitas ekonomi daerah. Ke depan, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah akan terus diperkuat, khususnya dalam menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan inflasi pangan, serta mendorong akselerasi belanja untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Unduh dalam format PDF: APBN Sumsel Triwulan I 2026 Tetap Terjaga di Tengah Dinamika Global: Konsumsi Menguat, Inflasi Terkendali, dan Kesejahteraan Membaik


