Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan inisiatif strategis pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi dan motivasi belajar siswa di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain itu, program ini juga menyasar kelompok rentan lainnya seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Untuk mendukung implementasi program berskala nasional ini, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 71 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025, dengan rencana peluncuran awal pada Januari 2025.
Kabupaten Banyuwangi telah menunjukkan komitmen dan proaktivitas yang tinggi dalam menyambut program MBG ini. Berbagai uji coba telah dilakukan sebagai persiapan, dan program ini secara resmi diluncurkan pada 3 Februari 2025 di wilayah Banyuwangi. Pada tahap awal implementasinya, program MBG di Banyuwangi telah berhasil menjangkau 28 sekolah, melayani total 2.913 siswa dari berbagai jenjang, termasuk Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan satu pondok pesantren, yang semuanya berlokasi di Kecamatan Rogojampi. Antusiasme siswa dalam mengonsumsi makanan yang disediakan mencerminkan penerimaan positif terhadap program ini.
Dengan potensi yang dimiliki Banyuwangi, diharapkan mampu menjadi model praktik terbaik dalam implementasi program MBG berbasis lokal, dengan menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana inisiatif nasional dapat disesuaikan dan dioptimalkan di tingkat daerah dengan memanfaatkan sumber daya dan program yang sudah ada. Hal ini tidak hanya mendukung tujuan gizi nasional tetapi juga memperkuat ketahanan pangan lokal dan kesejahteraan masyarakat petani dan nelayan di daerah.
Komoditas pangan, buah, perikanan Banyuwangi
Kabupaten Banyuwangi memiliki sektor pertanian yang sangat vital, dan menjadi salah satu pilar utama perekonomian daerah. Sektor ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan lokal tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional. Banyuwangi dikenal sebagai salah satu "lumbung padi" di Provinsi Jawa Timur. Selain itu, jagung juga merupakan komoditas tanaman pangan penting di Banyuwangi. Hal ini tampak dari panen raya jagung secara serentak telah dilaksanakan pada Juni 2024, menegaskan ketersediaan komoditas ini. Komoditas lainnya meliputi kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar.
Di sektor hortikultura juga sangat produktif. Untuk sayuran, cabai rawit sebagai komoditas dengan produksi terbesar, diikuti oleh cabai besar dan komoditas sayuran penting lainnya yang dihasilkan seperti bawang merah, tomat, kacang panjang, dan terung. Pada kategori buah-buahan, jeruk Siam merupakan komoditas unggulan dengan produksi terbesar, diikuti oleh produksi Buah naga yang menunjukkan potensi luar biasa, sehingga Banyuwangi dikenal sebagai penghasil buah naga terbesar di Indonesia, dengan produk yang diekspor ke Singapura dan sejumlah negara Eropa. Melalui ekspor buah naga dan tingginya produksi jeruk Siam menunjukkan bahwa komoditas ini memiliki nilai ekonomi tinggi yang sangat menarik bagi petani. Ini bisa menjadi peluang besar untuk pasokan bahan pangan segar bagi program MBG.
Periode Panen tanaman berpengaruh pada ketersediaan bahan pangan yang stabil, sebagai bahan pokok untuk program MBG. Banyuwangi menunjukkan keunggulan dalam hal memiliki kemampuan untuk panen padi hingga 4 kali setahun. Musim tanam utama umumnya berlangsung dari November hingga Maret, sementara musim kemarau yang terjadi pada April hingga Juli. Sehingga jadwal panen padi secara umum terjadi pada bulan April-Mei. Kemampuan panen padi yang sering ini memberikan stabilitas pasokan bahan pangan pokok yang sangat menguntungkan untuk program MBG. Selain itu untuk panen raya jagung telah dilaksanakan pada periode Juni. Sedangkan untuk periode panen buah-buah diantaranya Melon yang memiliki musim tanam dan panen berlangsung sepanjang tahun. Buah Jeruk dengan periode musim panen jeruk berlangsung dari Juli hingga November. Buah manggis, durian, dan rambutan yang memiliki musim panen pada bulan September hingga Desember. Buah Naga yang menjadi produk unggulan Banyuwangi memiliki keunggulan karena dapat berbuah setiap bulan dan merupakan komoditas yang tersedia sepanjang tahun Buah lainnya yaitu pisang, nangka, dan papaya yang merupakan komoditas ini tidak mengenal musim panen dan tersedia sepanjang tahun. Kemampuan Banyuwangi untuk panen padi hingga empat kali setahun dan ketersediaan buah-buahan seperti melon dan buah naga sepanjang tahun memberikan stabilitas pasokan bahan pangan pokok dan segar yang sangat menguntungkan untuk program MBG. Ketersediaan komoditas utama yang stabil sepanjang tahun ini mengurangi risiko kelangkaan musiman dan fluktuasi harga. Hal ini krusial untuk program berskala besar yang membutuhkan pasokan harian yang konsisten. Dengan demikian, program MBG dapat merencanakan menu yang lebih konsisten dan mengurangi ketergantungan pada pengadaan dari luar daerah atau biaya penyimpanan jangka panjang yang mahal. Kondisi ini juga secara berkelanjutan mendukung pendapatan petani lokal karena adanya permintaan yang stabil.
Dari Sektor perikanan di Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu sektor ekonomi yang sangat potensial, didukung oleh wilayah pesisir yang luas dan perairan yang kaya. Potensi ini mencakup perikanan tangkap maupun budidaya, yang keduanya memiliki peran strategis dalam penyediaan bahan makanan. Salah satu komoditasnya yaitu Ikan lemuru (Sardinella lemuru) mendominasi hasil tangkapan nelayan di Banyuwangi. Pelabuhan Muncar, yang terletak di Banyuwangi, dikenal sebagai salah satu pelabuhan ikan terbesar di Indonesia dan merupakan pusat pendaratan utama ikan lemuru, menyumbang hampir 80% dari total produksi ikan tangkap yang didaratkan per tahun. Pertumbuhan produksi yang cepat ini mengindikasikan bahwa sektor perikanan tangkap memiliki kapasitas untuk meningkatkan pasokan secara substansial, yang mungkin merupakan hasil dari investasi, praktik penangkapan yang lebih baik, atau kondisi lingkungan yang mendukung. Selain ikan lemuru, perairan Banyuwangi juga menghasilkan ikan pelagis lain seperti tongkol, yang banyak ditangkap terutama saat cuaca cerah. Perairan Samudra Hindia di wilayah Purwoharjo dan Pesanggaran, daerah pesisir yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi juga menjadi sumber ikan dasar (demersal) yang beragam. Selain perikanan tangkap, Banyuwangi juga memiliki potensi besar dalam perikanan budidaya, baik air tawar maupun air payau. Diantaranya Banyuwangi merupakan produsen udang terbesar di Jawa Timur. Dan untuk komoditas budidaya lainnya yang signifikan meliputi ikan air tawar seperti lele, koi, tombro, dan tawes, serta ikan air payau seperti kerapu dan kepiting.
Periode musim tangkap dan panen ikan sangat penting untuk menjaga konsistensi pasokan bahan makanan. Puncak melimpahnya ikan laut di perairan Banyuwangi, terutama ikan lemuru, terjadi pada bulan Agustus hingga Desember. Pada periode ini, nelayan seringkali mengalami panen besar Sebaliknya, awal hingga pertengahan tahun, sekitar bulan Maret hingga April, merupakan masa paceklik ikan, di mana jumlah tangkapan cenderung lebih sedikit. Untuk perikanan budidaya, periode panen ikan nila di kolam diperkirakan pada Mei, sedangkan budidaya udang vaname umumnya membutuhkan waktu sekitar 3-4 bulan dari penebaran benih hingga siap panen. Adanya musim paceklik untuk ikan laut (Maret-April) menunjukkan perlunya strategi diversifikasi sumber protein atau manajemen stok yang efektif untuk program MBG agar pasokan tetap stabil sepanjang tahun. Ketergantungan penuh pada perikanan tangkap laut akan menyebabkan ketidakstabilan pasokan protein selama periode paceklik, yang dapat mengganggu konsistensi program MBG. Oleh karena itu, program MBG harus merencanakan menu yang fleksibel, mengintegrasikan lebih banyak protein dari perikanan budidaya (ikan air tawar, udang) atau sumber protein lain (misalnya telur, ayam) selama musim paceklik ikan laut. Pemanfaatan fasilitas penyimpanan berpendingin (cold storage) di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) juga dapat menjadi solusi untuk menyimpan ikan hasil tangkapan puncak dan menjaga ketersediaan selama periode paceklik.
Ketersediaan bahan pangan yang melimpah di Banyuwangi menjadi fondasi kuat untuk program MBG. Namun, pemahaman mendalam tentang profil nutrisi setiap komoditas sangat penting untuk memastikan menu yang disajikan benar-benar bergizi seimbang.
Rantai Pasok dan Sistem Distribusi Pangan
Efisiensi rantai pasok dan sistem distribusi merupakan kunci keberhasilan penyediaan bahan makanan yang konsisten dan berkualitas untuk program MBG. Banyuwangi memiliki struktur rantai pasok yang beragam untuk komoditas pertanian dan perikanan. Secara umum, aliran produk pertanian di Banyuwangi melibatkan beberapa pelaku, mulai dari petani, tengkulak, pedagang pengumpul, pedagang besar, hingga industri pengolahan dan konsumen akhir.
Petani seringkali menjual gabah hasil panen langsung di sawah. Perum BULOG juga berperan aktif dalam menyerap gabah petani melalui Program Mitra Tani BULOG, yang bertujuan untuk meningkatkan laba bersih petani dan mendorong praktik pertanian berkelanjutan. Kinerja rantai pasok beras sangat mempengaruhi pembentukan harga, dan pada musim panen raya, struktur pasar cenderung oligopsonistik, di mana penggilingan besar memiliki kekuatan dominan dalam menentukan harga. Konversi dari gabah kering panen (GKP) menjadi beras siap konsumsi berkisar antara 40-55% dari basis GKP, dengan teknologi pascapanen yang sangat mempengaruhi kualitas dan rendemen beras. Rantai pasok jagung di Banyuwangi juga melibatkan petani, pengepul, pedagang besar, dan konsumen. Dukungan dalam manajemen rantai pasok jagung merupakan bagian integral dari ketahanan pangan. Rantai pasok sayuran umumnya melibatkan petani, pedagang desa, pengumpul desa, pedagang pengumpul, pedagang pengecer, pelaku industri kecil sayuran, dan konsumen. Pedagang pengumpul memiliki peran penting dalam menjembatani kebutuhan petani dan pasokan ke perusahaan. Efisiensi pemasaran cabai rawit di beberapa kecamatan menunjukkan bahwa saluran pemasaran langsung atau dengan sedikit perantara lebih efisien. sedangkan rantai pasok buah-buahan seperti pisang melibatkan petani, tengkulak, pedagang pengumpul, agroindustry.
Rantai Pasok Perikanan melibatkan sistem distribusi hasil perikanan di Banyuwangi, khususnya ikan tangkap, didominasi oleh nelayan perorangan dan pengepul. Rantai pasok ikan tangkap di Muncar, Banyuwangi, terdiri dari beberapa tingkatan: nelayan, pengumpul ikan, pedagang pasar ikan, pedagang eceran lokal, dan konsumen. Lokasi Pasar ikan terbesar di Banyuwangi seperti pasar ikan di kecamatan muncar menjadi alasan utama nelayan untuk menjual langsung ke pasar. Untuk pemasaran udang vaname di Banyuwangi melalui dua sistem utama: dari pembudidaya ke pemasok untuk dijual ke unit pengolahan ikan (UPI), atau dari pembudidaya ke pedagang pengepul untuk dijual ke pasar lokal di Banyuwangi, Bali, dan Situbondo. Biaya transportasi bervariasi antara distribusi ke pasar lokal dan luar kota. Sistem distribusi udang vaname di pasar lokal Banyuwangi belum didukung oleh sistem informasi yang optimal.
Pasar tradisional dan modern memiliki peran penting dalam distribusi pangan di Banyuwangi. Pasar berfungsi sebagai pusat penjualan komoditas dari berbagai wilayah. Pasar tradisional seperti Pasar Rogojampi, Kec. Rogojampi menunjukkan bahwa pedagang pengumpul berperan besar dalam pendistribusian sayuran, sementara pedagang pengecer memiliki mobilitas tinggi untuk menjangkau konsumen di berbagai wilayah. Kapasitas pedagang pasar dalam melayani permintaan besar masih menjadi tantangan. Pelaksanaan revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi, yang memiliki desain dua lantai dan area pasar basah, kering, serta kuliner, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi distribusi dan menjadi sentra kuliner baru. Secara keseluruhan, rantai pasok pangan di Banyuwangi menunjukkan kompleksitas dan potensi yang besar. Namun, untuk mengoptimalkan dukungan terhadap program MBG, perlu perhatian lebih pada efisiensi, pengurangan perantara yang tidak perlu, serta penguatan peran kelembagaan petani dan nelayan seperti koperasi.
Kesiapan dan Tantangan atas dukungan program MBG
Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banyuwangi telah menunjukkan langkah-langkah progresif, namun juga dihadapkan pada sejumlah tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas program. Kabupaten Banyuwangi telah menunjukkan kesiapan yang kuat dalam menyambut dan mengimplementasikan program MBG. Hingga periode Juni 2025, Banyuwangi telah memiliki tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapur umum di Rogojampi, Sempu dan Kebalenan yang bertanggung jawab atas pendistribusian makanan secara harian ke sekolah-sekolah yang menjadi sasaran. Meskipun baru satu SPPG yang beroperasi, terdapat rencana untuk memperluas cakupan dengan penambahan dapur umum di masa mendatang. SPPG di Banyuwangi dapat memanfaatkan kekayaan bahan pangan lokal dalam program MBG, Serta melibatkan warga dalam pengadaan bahan baku untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak serta warga sekitar. Hal ini sesuai dengan program MBG secara nasional yang dirancang untuk melibatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta sektor pertanian dalam pengadaan bahan baku hingga penyiapan paket makanan. Hal ini membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha lokal dan dapat menyerap tenaga kerja. Koperasi petani dan nelayan juga memiliki peran strategis dalam mendukung pemasaran produk lokal dan menyediakan pinjaman modal, yang dapat diintegrasikan dalam skema pengadaan bahan baku MBG.
Menu makanan yang disediakan dalam program MBG di Banyuwangi ditakar sesuai standar kandungan gizi yang ditetapkan. Meskipun ada laporan bahwa beberapa anak mungkin tidak menyukai sayuran yang disajikan karena rasanya yang hambar, penekanan tetap pada pemenuhan nutrisi yang esensial, bahkan untuk bahan makanan yang kurang populer di kalangan anak-anak. Hal ini menunjukkan komitmen untuk memastikan asupan gizi yang seimbang, bukan hanya sekadar mengenyangkan
implementasi program MBG berpotensi terdapat tantangan, Salah satu masalah utama adalah lemahnya sistem distribusi dan pengawasan, terutama di daerah terpencil. Hal ini dapat menyebabkan keterlambatan distribusi dan ketidaksesuaian pasokan, sehingga siswa tidak mendapatkan manfaat program secara konsisten yang dapat menimbulkan tantangan logistik yang signifikan. Selain itu, Memastikan makanan yang disediakan memiliki standar gizi yang baik dan aman untuk dikonsumsi merupakan tantangan besar. Walauapun Insiden keracunan makanan tidak terdapat di Banyuwangi, namun di beberapa daerah lain menyoroti perlunya standar keamanan pangan yang lebih ketat dan pengawasan yang memadai.
Program MBG membutuhkan dana besar, dan ketidakjelasan skema pembiayaan antara Badan Gizi Nasional (BGN) dengan mitra program seringkali menyebabkan keterlambatan alokasi dana, yang berdampak pada kelancaran operasional. Risiko penyalahgunaan dana juga menjadi perhatian karena lemahnya mekanisme pengawasan dan audit. MBG yang melibatkan banyak instansi terkait (Kementerian Pendidikan, Kesehatan, BGN). Apabila terdapat Kurangnya koordinasi, menyebabkan hambatan administratif yang mempengaruhi distribusi dan logistik. Selain itu koordinasi dengan dinas pangan ataupun dinas perdagangan perihal harga komoditi yang menjadi handalan kab. Banyuwangi seperti ikan lemuru, udang vaname, buah naga ataupun beras yang memiliki nilai komersial yang tinggi seringkali memprioritaskan pasar premium ataupun ekspor. Sehingga dibutuhkan barang subsitusi lainnya seperti ikan lele ataupun nila sebagai sumber protein hewani yang terjangkau dan stabil, yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi tetapi juga mendukung ekonomi budidaya local
Optimisme dukungan untuk program MBG
Dengan potensi dan tantangan yang dimiliki, Banyuwangi dapat menerapkan beberapa strategis untuk mengoptimalkan peran sektor pertanian dan perikanan Banyuwangi dalam mendukung program MBG dengan cara Harmonisasi Data Produksi dan Perencanaan Pasokan yang Akurat yaitu Membangun sistem data pertanian dan perikanan yang terintegrasi dan terstandardisasi antara Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas Perikanan, dan Badan Pusat Statistik untuk memastikan akurasi data produksi, serta ,elakukan pemetaan detail kebutuhan pangan siswa per desa/kelurahan dan mencocokkan dengan kapasitas produksi lokal, dengan mempertimbangkan pola musim panen/tangkap.
Dibutuhkan penguatan Kemitraan Strategis dengan Petani dan Nelayan Lokal melalui pengembangan skema kontrak pertanian/perikanan jangka panjang antara pemerintah daerah (atau unit pelaksana MBG) dengan kelompok tani dan nelayan. Skema ini harus menawarkan harga yang kompetitif dan stabil untuk menjamin pasokan, sekaligus memberikan kepastian pendapatan bagi produsen local, serta memberikan insentif khusus (misalnya subsidi benih, pupuk, pakan, atau pendampingan teknis) kepada petani dan pembudidaya yang berkomitmen untuk memasok bahan makanan bagi program MBG.
Diversifikasi Sumber Protein, yaitu dengan Mendorong peningkatan produksi ikan air tawar (misalnya lele, nila) melalui program budidaya yang didukung oleh Balai Benih Ikan lokal. Ikan air tawar cenderung lebih terjangkau dan ketersediaannya lebih stabil dibandingkan ikan laut yang musiman atau udang yang bernilai ekspor tinggi, dan memberikan dukungan teknis dan permodalan bagi petani untuk diversifikasi tanaman pangan, terutama untuk sumber protein nabati seperti kacang-kacangan, guna mengurangi ketergantungan pada komoditas yang produksinya fluktuatif.
Optimalisasi Rantai Pasok dan Logistik dengan cara pengadaan infrastruktur pasca-panen dan pasca-tangkap, seperti fasilitas penyimpanan berpendingin (cold storage) di sentra produksi dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), untuk menjaga kualitas dan kuantitas bahan makanan, terutama selama musim puncak tangkap/panen dan mengembangkan sistem distribusi yang efisien, mungkin dengan memanfaatkan teknologi digital untuk pemesanan dan pelacakan pasokan dari produsen ke SPPG dan sekolah. Serta memperkuat peran koperasi petani dan nelayan sebagai agregator dan distributor lokal, sehingga dapat memperpendek rantai pasok dan meningkatkan margin keuntungan bagi produsen.
SPPG selaku operator penyedia makanan harus menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat untuk seluruh proses pengadaan, pengolahan, dan distribusi makanan di setiap SPPG, dengan fokus pada higienitas dan keamanan pangan, dengan cara memberikan pelatihan berkelanjutan bagi staf pengelola makanan di SPPG dan pihak terkait lainnya mengenai praktik pengolahan makanan yang higienis dan sesuai standar gizi, dan Membentuk tim pengawasan independen untuk secara berkala mengaudit kualitas dan keamanan makanan yang disajikan. Selain itu SPPG dapat bersinergi Program dan Pemberdayaan Ekonomi Lokal dengan memperluas kemitraan dengan UMKM lokal dalam pengadaan bahan baku dan penyediaan jasa katering untuk program MBG, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi di tingkat desa/kelurahan, Mengintegrasikan program MBG lebih lanjut dengan inisiatif pembangunan desa lainnya, seperti pengembangan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) ataupun Program Koperasi Merah Putih untuk mengelola sentra produksi atau distribusi pangan.
Melalui hal-hal yang dapat diimplementasi seperto yang penulis sampaikan ini, diharapkan Kabupaten Banyuwangi dapat secara efektif memanfaatkan potensi pertanian dan perikanannya untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis, tidak hanya sebagai penyedia bahan makanan tetapi juga sebagai motor penggerak kesejahteraan ekonomi lokal dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan.


