Tiba-tiba rem mobil saya blong. Tukang parkir di depan saya tidak menyadari kalau rem saya blong. Ia masih Menggerak-gerakkan tangannya, menyangka saya baik-baik saja memajukan mobil.
Dug!
Mobil saya menabraknya. Ia terjatuh. Lalu bangkit kembali.
Dug!
Sekali lagi ia tertabrak.
Saat itu saya baru tersadar untuk menggunakan rem tangan. Baru mobil berhenti.
Malam semakin tua. Jam di tangan saya menunjukkan lebih dari pukul sepuluh malam. Bandung saat itu masih terbilang sepi. Tiba-tiba, datang kerumunan massa yang tampaknya didominasi sopir angkot sudah meneriak-neriaki saya. Saya diminta keluar.
Panik mulai mendera. Namun, saya berusaha menenangkan diri saya. Saya keluar dari mobil. Saya berteriak kepada mereka semua. "Bapak-bapak, tenang dulu. Rem saya blong. Saya tanggung jawab. Tolong jangan ikut campur!"
Saya langsung menuju ke Tukang Parkir yang tergeletak di jalan. Saya tatap penuh rasa khawatir. "Kang, akang nggak apa-apa?" Tanya saya.
Matanya terbuka. Dia tersenyum. "Saya nggak apa-apa, Neng...”
Saya ambilkan minum. "Bener Akang nggak apa-apa? Ini minum dulu, Kang..."
Kerumunan massa masih menyumpah-serapahi saya. Padahal tukang parkirnya diam saja. Syukurlah, sepertinya dia tidak apa-apa. Mungkin hanya kaget ketika mobil yang ia sangka mundur ternyata menabraknya.
Saya tidak tahu dari mana keberanian itu berasal. Sekali lagi saya balas kerumunan itu untuk tenang dan tidak ikut campur. Sampai akhirnya mereka bubar dengan sendirinya.
Masalah selanjutnya adalah mobil saya. Mobil itu mogok ketika hendak saya hidupkan.
Saya teringat Ayah yang memang tinggal di Cimahi Saya telepon beliau, berharap beliau datang dan membereskan masalah mobil.
Ternyata tidak. Kalimat pertama yang beliau ucapkan malah, "Coba kamu buka kap mobil kamu!"
Ayah memang berbeda dengan ayah-ayah yang lain. Barangkali, bila ayah-ayah yang lain akan memosisikan diri sebagai pahlawan yang siap membereskan masalah anak-anaknya. Namun, ayah tidak seperti itu.
Ayah hanya akan menjadi semacam instruktur yang memberikan petunjuk saya harus bagaimana. Saya sendiri yang kemudian melakukannya.
Seperti saat membetulkan mobil. Ayah-ayah lain mungkin akan bilang, "Tunggu di situ, Nak. Ayah akan datang."
Ayahku tidak. Beliau mengajari saya langkah demi langkah agar mobil kembali menyala. Dan Alhamdulillah, akhirnya, mobil mau menyala dan saya bisa pulang ke rumah. Itulah salah satu pelajaran kehidupan problem solving yang sangat berharga buat saya.
Begitu pula saat saya baru pertama promosi sebagai Kepala KPPN Tanjung Pandan. Tiba-tiba Pak Kanwil menelepon saya, memberikan kabar bahwa KPPN Tanjung Pandan akan menjadi tuan rumah rapat koordinasi regional se-Sumatra yang juga akan dihadiri oleh Pak Dirjen Perbendaharaan.
Setiap tantangan adalah peluang. Terbiasa bekerja di Project Management Office, saya bagi para pegawai sebagai Project Manager. Namun, ritme kantor pusat tentu berbeda dengan ritme di daerah sehingga berbagai masalah saya hadapi. Kalau di pusat, setelah menunjuk PM, maka semuanya akan berjalan secara otomatis, tinggal kita memberikan pengawasan dan supervisi. Di daerah, yang biasa bekerja operasional, belum terbiasa untuk berpikir seperti itu.
Dengan segala kompleksitasnya, hari demi hari kami bersiap untuk menyiapkan acara. Tentu, acaranya bukan flat begitu saja. Setiap acara seharusnya berkesan dan meninggalkan inspirasi bagi ceritanya.
Tiba hari H, saya terbangun pukul 4 pagi. Tubuh saya terasa kaku. Kepala saya berat sekali seperti habis dipukul oleh benda keras. Saya mengerti, ini yang namanya kondisi tubuh drop secara mendadak. Persiapan yang begitu panjang menjadi sesuatu yang melumpuhkan tubuh saya.
Sekuat tenaga saya coba untuk duduk. Saya pun menelepon Ayah.
Ayah-ayah yang lain mungkin akan menyarankan anaknya untuk segera ke dokter, istirahat yang cukup, dan mengorbankan acara yang sudah disiapkan berhari-hari. Ayah saya tidak.
Ayah kemudian menyuruh saya olah napas terlebih dahulu. Di sana suara tegasnya yang sama, yang selalu terngiang sejak kecil, "Kamu bisa! Kamu pasti bisa!" tak bosan-bosannya dikatakan kepada saya.
Saya tarik napas beberapa detik. Tahan. Hembuskan.
Setelah itu beliau meminta saya melakukan beberapa gerakan relaksasi. Saya ikuti semua caranya. Satu per satu. Tanpa terasa setengah jam lebih berlalu. Beban yang tadinya seperti lengket di kepala saya hilang seketika.
Saya berwudhu, menunaikan Subuh. Itu seolah menjadi Subuh terindah saya selama di Belitung.
Satu per satu rangkaian acara terlewati tanpa ada yang tahu, hari itu saya seharusnya tergeletak tak berdaya. Mungkin perlu masuk rumah sakit juga. Namun, kekuatan seorang Ayah mengajarkan kepada saya, tidak ada yang tidak bisa dilakukan.
Seperti kisah kelahiran Mutiara…..
Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu."Si ibu terdiam, sejenak.
"Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit.
"Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya.
Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Si anak kerang kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
Cerita di atas menjelaskan bahwa penderitaan adalah perjuangan hidup untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Dengan kata lain, rasa sakit dan penderitaan bisa mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa". Banyak orang yang mundur saat berada di tengah perjuangan tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami.
Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki yaitu menjadi 'kerang biasa' yang disantap orang, atau menjadi 'kerang yang menghasilkan mutiara'
Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang 'biasa-biasa saja'. Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kita. Tetapi cobalah untuk tetap tersenyum menghadapinya sambil katakan dalam hati: Airmataku diperhitungkan Tuhan dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara berharga.
Ditulis oleh: Rd. Yen Yen Nuryeni
(Dikutip dari Do With Love: Passion on action, leadership and integrity, Yen Yen Tahun 2020)



