Hari pertama di KPPN Tanjung Pandan.
Saya mengumpulkan semua staff: pejabat eselon IV dan pelaksana. Seperti pada umumnya, hari pertama adalah perkenalan. Namun, bukan Cuma nama dan kampung halaman, saya minta mereka satu per satu menyampaikan harapan terkait KPPN Tanjung Pandan. KPPN seperti apa yang mereka bayangkan? Sebab saya ingin selalu mewujudkan bayangan tentang kantor ideal menurut sisi internal terlebih dahulu.
Salah seorang pegawai kemudian mengungkapkan, ia ingin sekali KPPN dikenal oleh masyarakat. Bukan Cuma oleh masyarakat setempat, tetapi kalau bisa juga dikenal oleh masyarakat dunia.
Di dalam hati saya mengaminkan. Hal itu juga mirip sekali dengan visi Direktorat Jenderal Perbendaharaan yakni ingin menjadi pengelola perbendaharaan yang unggul di tingkat dunia, to be world-class state treasury manager. Visi tersebut bukan jauh di awang-awang. Beberapa variabel untuk menjadi word-class tersebut sudah dalam jalur yang benar. Katakanlah seperti basis akuntansi yang kita gunakan sekarang sudah basis akrual, lewat perjalanan panjang dari mulanya berbasis kas, lalu dijembatani oleh kas modifikasi akrual atau yang lebih dikenal dengan Cash Toward Accrual (CTA), hingga sekarang telah berbasis akrual penuh. Sistem yang digunakan pun, dengan hadirnya Sistem Perbendaharaan Anggaran Negara (SPAN), kita telah menjalani Financial Management Information System (FMIS). Selangkah lagi bahkan menuju Integrated Financial Management Information System (IFMIS) yang menjadi variabel kelas dunia.
Dengan kondisi yang ada, Ditjen Perbendaharaan sebenarnya telah unggul dari banyak negara sehingga tidak sedikit negara-negara berkembang yang datang ke Indonesia untuk melakukan studi banding mengenai pengelolaan treasury yang baik.
Sayangnya, bagi masyarakat Indonesia, KPPN memang kurang dikenal. Yang masyarakat tahu dari Kementerian Keuangan seringnya hanya Ditjen Pajak. Lumrah sih karena Pajak secara langsung melayani masyarakat. Sedangkan KPPN tidak berhubungan langsung dengan masyarakat. Pemangku dari KPPN utamanya adalah satuan kerja (sesama kantor Pemerintah).
Padahal, dengan adanya fungsi pembayaran, KPPN sebenarnya terlibat dan penting dalam pembangunan. Pembayaran segala sesuatu yang berasal dari APBN, mulai dari gaji hingga dana desa, semuanya melalui KPPN.
Ketika mendengar ungkapan sang pegawai, saya paham juga kegelisahannya karena banyak juga cerita betapa tidak terkenalnya Ditjen Perbendaharaan (DJPb), apalagi KPPN.
Setelah perkenalan usai, saya pun meminta mereka untuk menuliskan kata-kata ajaib mereka. Kata-kata ajaib yang saya maksud adalah seperti motto, kata-kata yang bila kita ucapkan akan melahirkan semangat. Api akan menyala di hati kita dan menghidupkan kembali momentum yang sirna.
Fokus pada kekuatan. Di situlah titik tumbuh kita.
Misalnya kata-kata di atas adalah kata-kata ajaib saya. Itulah yang menjadi pegangan saya dalam menjalani banyak hal. Sebab, kebanyakan orang malah terdistraksi dengan kelemahan mereka. Kelemahan itu kemudian menjadi semacam excuse agar mereka tidak melakukan sesuatu. Ah, saya tidak mampu melakukan itu karena saya lemah. Sering pasti pikiran seperti itu menjauhkan kita dari kesuksesan.
Padahal, kita punya kekuatan. Lucunya, kita kerap lupa pada kekuatan yang kita miliki karena terlalu memikirkan kelemahan yang kita punya. Kalau fokus pada kekuatan, kita akan punya rasa percaya diri untuk terus tumbuh. Aku bisa. Aku mampu. Harus kita ucapkan itu selalu.
Namun, bukan berarti kita abaikan begitu saja kelemahan kita. Justru sambil berjalan, kita perbaiki satu demi satu kelemahan itu. Benahi yang lemah, tambah kekuatan yang ada. Dengan begitu kita akan terus bertumbuh.
Pernah lihat pohon mangga yang sedang berbunga? Ketika mangga berbunga, banyak sekali calon buahnya. Namun, perhatikanlah setiap pagi, akan ada banyak bunga mangga yang rontok. Apakah kita akan hanya memperhatikan buah mangga yang rontok itu saja? Tentu tidak, bukan? Sebab ada bunga mangga yang menjadi bakal buah-yang meski jumlahnya lebih sedikit dari yang rontok, kita akan tetap terus tatap dan berharap agar ia bertahan sampai matang. Kita tetap menyiramnya setiap hari, memberinya pupuk, dan menjaga buah sampai sempurna. Coba bayangkan kalau kita fokus pada bunga mangga yang rontok, meratapinya, apa yang akan terjadi?
Saya minta setiap pegawai menuliskan kata-kata ajaibnya lalu membingkainya dengan cantik. Kata-kata tersebut saya tempelkan di dinding agar setiap hari, mereka semua dapat membacanya.
Buat saya, sebagai kepala kantor, pemilihan kata yang mereka gunakan juga menunjukkan karakter mereka. Kepribadian mereka terlihat dari kata-kata ajaib yang mereka miliki. Sehingga hal itu berguna buat saya untuk melakukan treatment manakala mereka mengalami demotivasi.
Apalagi pelaksana saya kebanyakan generasi muda (yang betul-betul muda), kelahiran diatas tahun 1990. Jiwa mereka masih relatif labil. Penempatan yang jauh dari kampung halaman membuat hati mereka pasti menyisakan ruang buat kesedihan. Saya berusaha menempatkan diri bukan hanya sebagai kepala kantor, tetapi juga seperti ibu yang bisa menjaga mereka agar tidak salah arah. Bahaya juga ‘kan anak muda sekarang kalau sampai melakukan pelarian ke hal yang tak terduga tanpa ada keluarga yang menjaga?
Be a true leader, not a boss.
Ada yang menulis seperti itu. Saya paham, tulisan itu juga mengingatkan atasan (dalam hal ini saya juga) untuk menjadi seorang pemimpin, bukan boss. Saya jadi tergerak untuk belajar lebih banyak apa sih arti pemimpin, dan apa sih bedanya dengan boss.
Karakter pemimpin yang pertama adalah ikut mendengarkan. Kita memberikan waktu kepada bawahan untuk mengemukakan pendapatnya. Sedangkan seorang boss biasanya hanya mau berbicara dan tidak peduli aspirasi bawahannya.
Kedua, pemimpin itu melatih, bukan menyuruh. Para pegawai baru tentu belum berpengalaman. Mereka belum pernah mengerjakan konsep acara misalnya. Ada juga yang belum pernah bikin video profil KPPN untuk penilaian kantor pelayanan terbaik 2018. Lantas kita langsung menjustifikasi kemampuan mereka dari hasil pekerjaan pertama mereka? Itu tentu tidak boleh dilakukan. Malahan,Pemimpin juge memiliki orientasi untuk mengasah dan mengembangkan kemampuan bawahannya. Ia tidak perlu khawatir kalau anak buahnya akan memiliki kemampuan yang melebihinya. Ia justru akan senang kalau hal itu terjadi karena sama saja artinya ia akan merasa berhasil telah melakukan kaderisasi kepemimpinan. Sementara itu, boss cenderung mengeksploitasi anka buahnya. Ia peras keringat mereka sampai tidak bersisa. Ia tidak peduli apa pun efek sampingnya sebab bagi seorang boss, bawahan hanyalah alat untuk meraih tujuan, bukan sebuah subjek yang dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan.
Masih banyak kata-kata ajaib lain yang menginspirasi saya. Power of Words, saya menyebutnya. Kekuatan kata-kata dapat memberikan dampak perbuatan yang positif. Rasulullah SAW sendiri selalu mengingatkan para sahabat untuk menggunakan kata-kata yang positif. Bahkan untuk teguran, beliau pun menggunakan kata-kata terbaik yang mencerahkan orang lain.



