Dari sekian banyak bagian tubuh, iklan perawatan bagian tubuh apa yang paling banyak diproduksi dan ditayangkan? Ya, perawatan muka/wajah.
Dari televisi kita saksikan, berbagai iklan menampilkan wajah yang bersih dan cerah, putih bersinar, jika memakai produk tertentu. Begitu dahsyatnya iklan-iklan tersebut, sehingga kebanyakan kita pasti sepakat bahwa untuk menilai seseorang, yang pertama kali kita lihat adalah wajahnya. Dan sebaliknya, iklan tersebut juga hadir karena persepsi masyarakat bahwa muka seseorang mencerminkan segalanya-termasuk pula kepribadiannya.
Karena itu, kebanyakan langkah pertama seorang kepala kantor adalah merenovasi wajah kantornya. Wajah KPPN adalah front office-nya. Di sinilah ditampakkan kepribadian seperti apa yang dimiliki oleh KPPN dalam melakukan pelayanannya. Tak heran, jika kemudian, kantor pusat menstandarisasi wajah front office agar dapat sesuai dengan filosofi pelayanan dan proses bisnis yang dimiliki oleh KPPN.
Filosofi utama yang lahir adalah one stop service yang sering diterjemahkan menjadi pelayanan satu pintu. Bila ditilik sejarahnya, bisa dibilang bahwa KPPN adalah salah satu pelopor pelayanan satu pintu disektor publik.
Ya, jauh sebelum Presiden Republik Indonesia ke-7, Bapak Jokowi, meresmikan Layanan Investasi Satu Pintu di Badan Koordinasi Pasar Modal pada Januari 2015, penerapan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, atau lebih dikenal dengan nama one stop service, sudah dilakukan oleh KPPN sejak SOP Percontohan dimulai sejak tahun 2009.
Adanya keinginan dan semangat untuk menyederhanakan proses penyelesaian pekerjaan, serta perubahan kultur dan pola pikir para pegawai menjadi tujuan KPPN Percontohan. Selama ini stigma yang terbentuk di masyarakat adalah layanan publik yang instansi pemerintah terkesan lamban, tidak transparan, bahkan diwarnai dengan pungutan yang tidak resmi. Hal itulah yang ingin diubah Dengan one stop service, pelayanan menjadi cepat, tepat, transparan, akuntabel dan tidak dipungut biaya. Dipadukan dengan proses bisnis yang sederhana, pemanfaatan teknologi dan SDM yang unggul.
Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya Ditjen Perbendaharaan, jika dapat mengomunikasikan dirinya dengan baik, dapat menciptakan momentum perubahan sekaligus trigger/pemicu bagi para stakeholders (dalam arti luas: masyarakat Indonesia). Tidak hanya sebatas dalam pelayanan citra diri, tapi kemudian mentransfer value yang dimiliki ke masyarakat yang lebih luas.
Public trust yang selama ini menjadi isu utama Pegawai Negeri pun dapat meningkat bila prinsip dan hasil kerja, yang kemudian KPPN pernah mendapat nilai tertinggi dalam penilaian pelayanan dan integritas dari berbagai lembaga seperti KPK diketahui oleh masyarakat.
KPPN Percontohan sebenarnya juga telah menciptakan momentum lain di bidang kepegawaian dengan adanya assessment centre yang menilai jujur kompetensi dan kualitas seorang Pegawai Negeri yang sering dipandang sinis. Boleh diibaratkan, pegawai KPPN yang lulus assessment Percontohan tahap pertama adalah Denjaka-nya aparat negara. Bila 1 orang prajurit Denjaka setara dengan 120 orang TNI biasa, begitu pun 1 pegawai KPPN Percontohan setara dengan 120 ASN biasa. Di sini, kita dapat melihat bahwa untuk mencapai hasil yang diharapkan dari result control, Ditjen Perbendaharaan telah memulainya dengan personel control yang ketat.
Pada tahun 2018, KPPN Tanjung Pandan sudah lulus sertifikasi layanan standar internasional ISO 9001:2015. ISO tersebut merupakan standar sistem manajemen mutu yang dikeluarkan oleh International Organization for Standardization (ISO) oleh PT TUV Rheinland Indonesia (yang induknya berada di Jerman). Pada tahun 2019, sertifikasi tersebut direview kembali dan alhamdulillah tidak ditemukan baik temuan mayor maupun temuan minor dalam seluruh rangkaian surveillance audir tersebut.
Salah satu yang dilihat juga adalah wajah kantor, dalam hal ini front office. Dibandingkan sebelumnya, salah satu perubahan yang saya lakukan adalah memangkas dua pilar, setelah saya tahu bahwa kedua pilar tersebut bukanlah pondasi yang menguatkan struktur bangunan, melainkan hanya ornamen penghias. Dengan ketiadaankedua pilar itu, setiap petugas front office menjadi tanpasekat. Ada filosofi sinergi dan keterbukaan di sana, sehingga tidak ada penghalang pula untuk berkoordinasi antar petugas front officer.



