Kediri

Melihat Tuhan

-sebuah refleksi akhir tahun-

 

Tetaplah menjadi baik,

Jika beruntung, maka kamu akan menemukan orang baik,

Jika tidak, maka kamu akan ditemukan oleh orang baik.

-mbah Nun-

 

Aku melihat Tuhan ketika…

Makan bersama, hal yang menjadikan seluruh anggota kumpul bareng di satu ruangan dengan tidak memikirkan beban berat yang mendera, hanya berbincang tentang sesuatu yang receh dan remeh, ditingkahi suara kerupuk yang remuk diremas gigi, sendok beradu dengan piring, serta gelas berdenting, terselip suara tawa merespon canda yang terlontar dari mulut yang sedang merasakan nikmatnya daging ayam bercampur dengan telur dimasak bacem, disiram kuah santan yang menggugah selera, bahkan sebelum sendok di tangan menyentuh bibir.

Apalagi bila obrolan sudah mulai merambah ke ranah konten dewasa, seperti harga cabe (yang selalu menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi bulanan, bagaimana tidak menjadi penyumbang inflasi, makanan yang tersedia di warung tak ada yang tidak pedas), bawang merah, bawang putih, telur ayam kampung, kafe yang baru dibuka, menu andalan di salah satu tempat makan favorit, drakor dengan plot twist, film horor yang sedang tayang, isu hangat yang sedang wara wiri di lini masa, bahkan tak jarang pembicaraan sebutir telur ayam bisa nggladrah hingga ke negeri antah berantah.

Aku melihat Tuhan ketika…

Ulang tahun adalah sebuah momen ketika seorang anak manusia bertambah (berkurang) umurnya pada tanggal yang tertera pada akta keluaran Dinas Dukcapil, namun bisa juga ulang tahun untuk suatu kelompok, baik klub, organisasi, institusi, keluarga, perkumpulan, tempat menyembah Tuhan, bersatunya dua insan, terbentuknya sebuah desa, kabupaten, provinsi bahkan kemerdekaan negara.

Dalam kisah The Hunchback of Notre Dame karya Victor Hugo, pada hari perayaan kaum tertindas, Quasimodo terpilih menjadi raja sehari bagi kaum jelata, yang harus rela diarak keliling kota Paris yang masih kumuh dan kotor, dengan tubuh dihias selayaknya seorang raja. Kisah berakhir dengan tragis, Quasimodo ditemukan tersisa tulang belulang berpelukan dengan Esmeralda, cintanya.

Di sini, siapapun, ketika tepat tanggal lahirnya tiba akan didaulat menjadi raja sehari, dengan kostum dan pakaian serta hiasan kebesaran yang sudah disiapkan dan ditentukan temanya, bila beruntung akan lolos dari siraman kembang tujuh rupa, seolah esok akan menghadap pelaminan, dan sang raja tak kuasa untuk menolak maupun membuat persiapan terlebih dulu, karena semua turut serta mengesahkannya.

Aku melihat Tuhan ketika…

Seorang teman tak sengaja terpeleset di dapur saat akan merebus air untuk membuat minuman hangat yang sungguh nikmat diseruput pada musim ketika langit lebih sering tertutup awan dan menumpahkan tangisnya, daripada menyelipkan secelah sinar surya untuk menempa vitamin D dalam raga. Jalan menjadi serasa tak rata, karena harus menahan sebelah kaki yang tak bisa menapak dengan sempurna, dan sepatu menjadi nomor dua, mengingat sandal lebih nyaman terasa.

Tak memerlukan waktu lama, dengan sekali hentakan tumit punggawa, ganjalan yang ada di kaki sirna, jalanpun ringan kembali dan esok mengayun raket di lapangan tak lagi ada kendala, semua begitu tiba-tiba.

Aku melihat Tuhan ketika…

Manusia memang makhluk yang paling lucu di antara ciptaan yang lainnya. Kehormatan dan kesopanan seorang lelaki dalam sebuah institusi ditentukan dengan sehelai kain yang diikatkan di leher yang bersangkutan. Padahal menurut sahibul hikayat, dasi berawal dari kebiasaan tentara Romawi yang melingkarkan tali di leher tawanan setelah merambah dan menaklukkan wilayah-wilayah sekitarnya.

Demikian juga ketika lantai rumah masih berupa tanah, akan diusahakan untuk melapisinya dengan plester semen agar tidak kotor dan mudah membersihkannya yang bertransformasi menjadi tegel traso dan keramik, marmer maupun granit, namun ketika semua sudah terasa bersih mengilap, saat akan menunaikan sembahyang, masih menghamparkan selembar kain, karpet atau apapun jenisnya sebagai alas.

Memakai sepatu agar kaki terlindung dari kerikil, duri, batu dan anasir lain yang dapat melukai, namun kaki menjadi lecet karena gesekan dengan sepatu, maka pakailah kaus kaki. Sepatu yang seharusnya melindungi, malah melukai.

Pada akhirnya, kaus kakipun tak kuasa menahan gesekan dengan sepatu yang dihentak kaki, hingga sobek dan berlubang, entah di tungkak, jempol atau jari yang lain, bahkan bisa juga yang sobek di tempat engkel, dan masih belum bisa dinalar bagaimana awal mula bisa sobek di tempat yang sangat tidak memungkinkan untuk koyak karena gesekan kaki dan alasnya.

Sudah beberapa waktu cabak itu terlihat, entah karena belum ganti atau semua bungkus kaki yang dimiliki memang demikian, menimbulkan iba sekaligus gemas bagi mata yang melihatnya. Pilu terasa bila mata menatapnya, maksud hati ingin memalingkan muka, namun ada dan mencolok di depan mata. Bisik dan bisik tercetuslah untuk memberikan donasi sebagaimana yang sedang menjadi kecenderungan saat ini.

Aku melihat Tuhan ketika…

Berangkat manjing sambil menyapa simbah tetangga yang sedang dede menikmati pelukan hangat bagaskara, bakul ethek yang dirubung gerombolan ibu-ibu berdaster dengan berbagai macam sayuran di depan mata namun tetap saja bingung mau masak apa hari ini, petugas keamanan sebuah institusi sedang meniup peluit dan merentangkan tangan menggenggam tongkat tanda berhenti untuk memberi kesempatan pegawai tempatnya bekerja menyeberang, gerobak nasi bantingan dengan tumpukan bungkus yang masih menjulang, antrean di SPBU mengular hingga tumpah ke jalan untuk mengisi tangki kendaraan yang akan membawanya ke tempat tujuan.

Aku melihat Tuhan pada obrolan dan guyonan para sahabat tentang hal-hal yang mungkin dianggap receh dan remeh, namun konon tiang utama masjid Demak dibangun oleh Sunan Kalijogo dari serpihan tatal, sisa kayu setelah diketam, yang bagi kita sekarang sangat mungkin hanya akan dibuang ke tempat sampah, atau untuk dibakar begitu saja, sungguh yang pokok bisa berasal dari yang receh dan remeh.

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
KPPN Kediri
Jl. Basuki Rahmat No.4, Balowerti, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri, Jawa Timur 64123 
Tel: 0354-682151, 683610 Fax: 0354-682325, 686472

IKUTI KAMI

 

PENGADUAN

 

 

 

Search